Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Kecemasan Juan


__ADS_3

Imel berhasil menyuapi Wulan hingga makanan yang berada di piringnya habis tak tersisa. Dini senang akhirnya Wulan bisa menghabiskan makanannya. Padahal sejak kemarin Wulan sangat sulit makan bahkan setelah di bujuk dan di rayu Wulan hanya menghabiskan beberapa suap saja membuat Juan merasa khawatir.


Dini melaporkan apa yang di lihatnya pada Juan dan Dodit. Mereka berdua pun senang. Namun, Juan kembali resah. Pasalnya setelah menikah Imel akan di bawa Bima berbulan madu dalam waktu yang cukup lama yakni dua minggu dan hal itu juga membuatnya semakin resah.


"Sabar. Yang terpenting sekarang Wulan mendapat asupan yang baik sebelum Imel pergi. Dan gw yakin Imel pasti akan membujuknya supaya Wulan bisa makan dengan banyak hingga mereka pulang berbulan madu." Hibur Dodit.


"Yah, Lu bener. Semoga Wulan mau denger apa yang Imel omongin." Juan.


"Kenapa kalian?" Tanya Papa Bambang.


"Juan mencemaskan Wulan Opa." Dodit.


"Kenapa lagi dengan Wulan?" Papa Bambang.


"Sekarang Wulan ada di tempat Imel dan menurut laporan Dini Wulan bisa makan dengan lahap di suapi Imel bahkan Wulan tak menolak sedikitpun suapan apapun yang di berikan Imel." Dodit.


"Lantas apa lagi yang kamu cemaskan Juan?" Papa Bambang.


"Justru karena itu Opa. Saat kami mengetahui Wulan hamil kami berada di rumah Imel dan suapan Imel mampu masuk ke dalam mulut Wulan tanpa penolakan. Saat kami kembali ke rumah Wulan sulit sekali makan bahkan memilih. Dans setelah di bujuk hanya beberapa suapan yang masuk. Tapi, dengan suapan Imel Wulan makan dengan lahap." Juan.


"Bagus dong. Terus apanya yang kamu cemaskan?" Gemas Papa Bambang.


"Juan takut Wulan mogok makan lagi Opa. Karena besok Imel akan di bawa pergi bulan madu oleh Om Bima selama dua minggu." Juan.


"Owh! Itu rupanya. Tenang saja Opa yakin Imel akan mampu memberi pengertian pada Wulan perlahan. Kamu jangan cemaskan hal itu lagi." Papa Bambang.


"Ya. Dodit pun sudah mengatakan hal itu Opa." Dodit.


"Bersabarlah. Sekarang biarkan mereka di sana hingga esok. Karena Imel akan melakukan tugasnya dengan baik." Papa Bambang.

__ADS_1


"Iya Opa." Jawab Juan dan Dodit bersamaan.


Sore hari Nita dan Heru datang ke kediamankan Imel. Namun, Heru hanya mendrop Nita saja setelah itu Heru ikut bergabung bersama Dodit dan Juan di hotel. Mereka seperti reuni di sana di tambah Bima yang ikut berkumpul bersama mereka.


Steve, Johan dan Arman pun ikut hadir di sana bersama keluarga kecil mereka. Steve, Johan dan Arman bukan hanya pergi berlibur mereka pun sambil kerja dan itu sudah terbiasa bagi istri-istri mereka. Tak ada protes bagi mereka yang terpenting satu mereka tak main perempuan itu saja.


Steve, Johan dan Arman ikut bergabung bersama Dodit, Heru, Juan dan Bima. Ke tujuh pria dewasa itu membuat atensi para pekerja hotel tertuju pada mereka terutama pekerja perempuan. Karena bagaimana tidak pesona ke tujuhnya mampu meluluh lantakkan hati perempuan mana pun. Sayangnya sikap mereka akan sangat dingin berhadapan dengan orang lain selain keluarganya.


"Gimana perasaan Lu sekarang Bim?" Tanya Johan yang bersikap non formal jika di luar jam kerja mengingat mereka semua bersahabat.


"Biasa aja tuh." Jawab Bima percaya diri.


"Jiah,, belum aja dia ketemu penghulu sama Bang Juna." Ejek Steve.


"Bener tuh. Gw aja yang notabene pemberani dalam segala hal ciut ketika sudah berhadapan dengan penghulu dan bokapnya Bintang." Johan.


"Dasarnya aja lu ga punya modal buat nikahin Bintang dulu." Bima.


"Ah, sial kenapa kalian nakut-nakutin gw." Bima.


"Bukan nakut-nakutin Bim. Tapi Aslinya horor. Meskipun Bagas bawahan Lu tapi aura Bagas akan terlihat horor ketika Lu meminta adiknya." Arman.


"Ah, sialnya itu bener. Gw sempet gugup berhadapan dengan Bagas saat pertama kali gw ketemu dia. Padahal ge kenal dia udah lama dan Lena teman kita juga istrinya tapi entah kenapa gw jadi gugup banget." Jelas Bima.


"Nah, itu tau Om. Apalagi besok Bang Juna Om yang Om hadapi." Juan.


"Aduuuh... Udah ah, bahas yang lain." Bima.


"Hahaha.... Nyatanya Bos super dingin dan kejam kita bisa ciut juga." Johan.

__ADS_1


"Si alan Lu. Gaji bulan depan Gw potong ya." Ancam Bima.


"Astaga! Lu ga kasian sama mereka." Tunjuk Johan pada anak istrinya yang tengah bermain di dekat mereka.


"Ceh, main anak sama istri nih." Bima.


Mereka pun berbincang hingga larut. Kemudian mereka berpisah menuju kamar masing-masing. Apalagi Bima harus segera istirahat agar besok pagi terlihat lebih segar. Namun, nyatanya setelah Bima memasuki kamarnya bukannya beristirahat Bima malah kefikiran apa yang di katakan para sahabatnya dan keponakannya.


Semakin jarum jam bergerak naik dan turun lagi Bima semakin di buat cemas. Sialnya dirinya tak bisa menghubungi Imel untuk menbuatnya lebih tenang karena ponselnya di sita Arman demi lancarnya pingitan Bima dan Imel.


Hampir dini hari Bima baru bisa memejamkan matanya namun ketukan di pintu kamarnya membuat tidurnya kembali terusik. Dengan langkah gontai Bima menuju pintu kamar hotel yang di tempatinya.


"Astaga! Bimaaa... Jam berapa ini kamu baru bangun." Saras.


"Kakak... bisa tidak suaranya di kecilin dikit. Bima ga bisa tidur. Ini baru tidur Kakak malah bangunin Bima." Oceh Bima belum menyadari jika Saras sudah berpakaian rapih dan lengkap.


"Bima kamu mau batalin pernikahan kamu?" Teriak Saras.


Seketika kesadaran Bima kembali setelah mendengar Saras mengatakan tentang pernikahan.


"Astaga! Jam berapa ini Kak?" Tanya Bima.


"Jam TUJUH Bima." Ucap Saras menegaskan kata tujuh pada Bima.


"Astaga! Kenapa Kakak ga bilang dari tadi sih. Kenapa juga Kakak ga bangunin Bima dari subuh tadi." Omel Bima langsung menghambur kedalam kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari Saras.


Saras hanya menggeleng kepalanya melihat tingkah adik bungsunya. Setelah Bima masuk ke dalam kamar mandi Saras pun menyiapkan pakaian yang akan di kenakan oleh Bima dengan sabar. Saras memang kakak tertua Bima yang sangat pengertian terhadap kedua adiknya.


Oleh karena itu, Melati dan Bima begitu dekat dengannya. Tak ada hal yang keduanya tutupi dari Saras. Bahkan terkadang Melati dan Bima akan lebih terbuka pada Saras di bandingkan kepada Ibu mereka sendiri. Apa lagi Mama Yuni kerap mengikuti Papa Bambang pergi dinas keluar kota.

__ADS_1


Walaupun Bima memiliki jarak usia yang cukup jauh dengan kedua kakaknya tak lantas membuatnya jauh dengan kedua kakaknya itu. Justru malah membuat Bima terlihat lebih manja kepada keduanya.


🌹🌹🌹


__ADS_2