Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Pengagum Rahasia


__ADS_3

Steve merasa aneh megapa Imel menanyakan tentang Ira. Apa ada hal yang mencurigakan yang dirinyabtak ketahui. Steve terdiam sesaat sebelum dirinya menjawab. Kemudian Steve berusaha menjawab sejujurnya.


"Tentu Nyonya Bos. Dia adalah perwakilan dari perusahaan Bos yang berada di LN. Karena kebetulan dirinya meminta cuti pulang maka perusahaan memintanya menjadi perwakilan untuk menghadiri pernikahan kalian." Jelas Steve jujur.


"Memangnya ada apa sayang?" Bima.


"Kenapa Mas tidak mengenalnya?" Imel.


"Mas tidak tau tentang pegawai Sayang. Jika itu tak ada hubungan langsung dengan Mas." Jawab Bima jujur.


"Tapi, kenapa Kak Steve mengetahuinya?" Imel.


"Karena direktur di sana memberitahukan informasi kepada saya Nyonya Bos." Steve.


"Memangnya kenapa sih Mel?" Nita.


"Gw jadi ga enak sama dia." Imel.


"Kenapa?" Tanya semua kompak.


"Ira pernah cerita kalo dia suka sama Bos besarnya dan ternyata Mas Bima Bos besar yang di maksud." Imel.


"Maksud Nyonya?" Arman penasaran.


"Ya, secara tidak langsung gw nikung dia dong. Tapi, kan gw ga tau ya kalo bos yang dia maksud Mas Bima." Monolog Imel.


"Lantas kenapa kamu bisa tau kalo orang yang di maksud itu Mas sayang?" Tanya Bima gemas.


"Karena beberapa waktu lalu Imel bertemu dengan dia. Dan dia mengatakan jika Bos nya itu akan menikah dan dia harus menghadiri acara pernikahan bos nya itu. Dia bilang sedih tapi mau bagaimana lagi jodoh sudah ada yang mengatur. Dan pastinya dia syok banget pas tau ternyata Imel yang jadi istri bosnya." Imel.


"Astaga!" Nita.


"Kenapa sayang?" Heru.


"Aku ada di sana saat Ira mengatakan itu." Nita.


"Astaga! Ternyata kau memiliki pengagum rahasia Bos.." Johan.


"Ceh, sudahlah. Kamu tidak perlu merasa bersalah sayang. Toh kamu juga kan ga tau. Bukankah dia tidak pernah mengatakan siapa bos nya itu." Bima.


"Iya sih. Tapi, Mas awas ya ampe berpaling ke dia." Ancam Imel.


"Astaga! Bagaimana mungkin Mas berpaling pada batu kerikil sementara Mas memiliki permata yang begitu indah." Bima.


"Jiaaah.... Bubar-bubar..." Arman.

__ADS_1


"Jangan lupa besok kalian pesawat jam 10 pagi Bos." Johan.


"Kau yang seharusnya ingat itu Jo. Karena kau harus mengantarkan kami." Bima.


"Siap Bos." Johan.


"Hiks... Hiks..."


Terdengar suara isak tangis Wulan yang sejak tadi hanya diam. Juan pun panik mendengar Wulan menangis.


"Ada apa sayang? Apa yang kamu rasakan?" Juan.


"Wulan laper Mas. Mau makan di suapin Tante Imel." Rengek Wulan seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.


"Astaga!" Ucap semuanya kompak.


Para istri Steve,Johan dan Arman bukan tidak ingin ikut bergabung tetapi anak-anak mereka tengah aktif dan tak bisa diam menbiat mereka harus menjaganya ektra jika tidak ingin kecolongan. Sudah di jaga ketat pun kadang mereka masih saja kecolongan.


Imel pun meminta Teh Leli yang berada di dekat mereka untuk mengambilkan makanan. Tak lama Teh Leli pun datang dengan sepiring nasi lengkap dengan lauknya dan segelas minum. Imel dengan telaten menyuapi Wulan sambil mulutnyatak henti menasehayi Wulan agar mau makan dengan sendiri atau di bantu oleh Dini saat dirinya pergi besok.


Wulan dengan mulut yang penuh dengan nasi hanya mengangguk-anggukan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Imel. Bima mengusap lembut punggung Imel yang tengah menyuapi Wulan.


"Her, rumah yang di depan gw itu jadi lu beli kan?" Dodit.


"Jadi, kemarin udah gw hubungi pemiliknya dan pulang dari sini gw segera melakukan pembayaran." Heru.


"Iya sayang. Maaf tidak mengatakan padamu terlebih dahulu. Karena sebenarnya Mas ingin membuat kejutan padamu. Tapi, sayangnya mulut calon Bos ini sangat bocor.". Heru.


"Hahahaa... Sorry Her. Gw kira Nita udah tau." Dodit.


"Iish.. Mas ini jadi gagal kan bikin kejutannya." Kesal Dini.


"Tak apa Din. Biarlah dia seperti itu." Heru.


"Terus lu kapan ngantor di tempat Dodit?" Juan.


"Besok lah sepulang dari sini. Kan gw udah resign dari kantor lama.". Heru.


"Wah,, ada yang bakal kebakaran jenggot nih. Udah nungguin lu balik honeymoon eh, ternyata zong." Dodit.


"Hus Mas, diem ih." Dini.


"Ga apa-apa Sayang. Om Bima perlu tau supaya dia ga macem-macem." Dodit.


"Siapa yang kamu maskud?" Steve.

__ADS_1


"Mantan Tante baru gw masih ngincer Tante baru gw." Dodit.


"Heh! Tuh mulut sembarangan Tante baru emang ada Tante lama. Tante aja. Awas ya Om denger kamu bilang tante baru lagi." Ancam Bima.


"Eits... Sorry Om. Jangan nge gas dong." Dodit.


"Lagian dia ga selevel sama Om ya. Berani ngerebut istri Om jangan harap dia hidup tenang." Bima.


"Mas. Udah ga usah di urus. Cinta aku udah full sampe luber-luber kok buat kamu." Imel.


"Aaa... Imel so sweet." Wulan.


"Tante!" Bima.


"Iih, galak bener sih." Wulan.


"Terserah kalian mau manggil gw apa. Yang pasti gw masih sama Imel yang kalian kenal ga akan ada yang berubah. Kecuali om-om yang satu ini bikin perut gw ngembang." Celoteh Imel.


"Makasih sayang." Bima.


"Kok makasih?" Imel.


"Makasih karena kamu bersedia di buat mengembang perutnya." Bima.


"Iiish... Emang Mas ga mau? Ya sudah Jangan sentuh Imel sebelum Imel pake alat kontrasepsi." Ancam Imel.


"Eeh, kan tadi mas bilang makasih. Berarti gas Mas bikin perut kamu kembung. Bila perlu setiap tahun Mas bikin perut kamu kembung." Bima.


"Maas,,,. ga gitu juga kali." Teriak Imel.


Semua pun tertawa mendengar ke konyolan pasangan pengantin baru itu. Belum juga unboxing sudah meributkan perihal perut kembung. Nasi di piring Imel telah tandas di lahap Wulan. Juan pun menyunggingkan senyumannya karena Wulan telah berhasil memasukkan asupan gizi untuk dirinya dan juga bayi mereka.


Perut Wulan belum terlihat jelas karena usia kehamilannya yang maish menginjak 11 minggu. Tidak ada ngidam aneh-aneh seperti yang lain hanya satu keinginannya yaitu makan dari suapan tangan Imel. Itu yang membuat Juan kelimpungan pasalnya kemarin mereka berpisah cukup lama dan sekarang Imel akan pergi berbulan madu membuat Juan kembali resah.


Semoga apa yang di bicaran Imel pada Wulan dapat terserap dengan baik sehingga Wulan bisa makan dengan lahap dari suapan Dini ataupun dirinya. Karena Juan benar-benar khawatir dengan keadaan Wulan. Pasalnya berat badan Wulan yang seharusnya naik akrena kehamilannya ini malah menurun karena kurangnya asupan nutrisinya.


"Bos kami pamit ke hotel dulu. Besok saya jemput jam 8.30." Pamit Johan.


"Baiklah. Terima kasih Jo." Bima.


"Sama-sama Bos. Nyonya Bos kami pamit." Johan.


"Iya. Terima kasih Kak Jo." Imel.


"Sama-sama Nyonya Bos." Johan.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2