Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Pak Dimin


__ADS_3

Waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk beristirahat tidak untuk Bima dan Imel. Lebih tepatnya Imel. Karena dirinya harus melayani Bima. Disaat Mama Yuni dan Papa Bambang keluar dari kamar dengan wajah yang lebih segar begitu juga dengan Bima namun tidak dengan Imel.


"Kamu ga tidur Mel?" Tanya Saras.


"Adik Kakak tuh yang bikin aku ga bisa tidur." Cebik Imel pada Bima.


Sementara sang pelaku hanya menampilkan deretan gigi putihnya seperti tak berdosa. Papa Bambang hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak bungsunya yang begitu bucin kepada istrinya. Semua makan dengan hidmat. Athar dan Gendis bersama dengan Bi Imah. Aidan dan Gilang bersama dengan baby sitter masing-masing.


"Jadi, bagaimana acara malam nanti?" Tanya Papa Bambang setelah menyelesaikan makan siangnya.


"Makan malam saja Pah. Mel nanti chat di grup. Kalian bersikap biasa saja seolah masih di sana ya." Melati.


"Siap."


Seperti yang sudah di ucapkannya Melati mengirim chat di grup keluarga yang berisikan Nita juga tentunya. Tak ada jawaban apapun di dalam chat hingga sepuluh menit berlalu barulah Nita membalas chat di grup.


"Di rumah utama? Yakin ga salah Tante Mel?" Nita.


"Mi, dimana? Cepetan pulang ih, Dini kangen Aidan." Isi chat Dini malah menanyakan putranya yang seharian di bawa Melati.


"Yakin, di rumah Utama biar rumah ramai." Balas Melati untuk Nita.


"Nanti malam makanya kamu ke rumah utama Mami bawa Aidan ke sana." Melati.


"Duuh,,, Tante. Kenapa sih bikin acara di rumah utama? Di rumah Wu aja gimana?" Wulan.


"Ga bisa. Biar kamu bangun jangan kelonan aja sama Juan." Melati.


"Mi, jemput Papi di bandara." Pram.


"Nanti Mami minta supir aja ya Pi? Mami lagi sama Aidan." Melati.


"Oke." Pram.


Chat di grup pun di akhiri dengan persetujuan dari semua anggota grup. Dengan drama yang di buat Mama Yuni dan Imel juga tentunya. Tapi, saat Nita mencoba melakukan panggilan dengan Imel. Imel tak menanggapinya karena akan fatal jadinya jika Imel menjawab panggilan Nita maka Nita akan tau jika dirinya berada di rumah utama.


Sore hari semua telah bersiap. Orang-orang dari restiran Xx pun sudah berdatangan dan menata makanan yang mereka bawa. Melati dan Saras mengontrol semuanya. Imel yang tak bisa diam pun ikut menghampiri Melati dan Saras.


"Apa menunya Kak?" Imel.


"Hanya seperti ini agar ibu-ibu hamil itu bisa memakannya juga." Melati.


"Iya. Awalnya kita akan barbeque tapi ga jadi Wulan mabok berat." Saras


"Hm... Tak masalah ini juga udah enak-enak kok." Imel.


"Maaf ya Kakak malah lupa ga nanya kamu mau makan apa." Melati.


"Santai Kak. Imel bisa makan apapun." Imel.


"Mel, jangan lupa jemput Pras." Saras mengingatkan.


"Udah Kak. Supir udah jalan." Melati.

__ADS_1


"Mel," Saras.


"Iya Kak." Jawab Imel dan Melati bersamaan.


"Astaga! Lupa klo adek gw Mel semua." Saras.


"Imel, Bima tidur?" Saras.


"Ngga. Dia di ruang kerja." Imel.


"Huh... Kerja terus ga dimana kerja." Melati.


"Yah, begitulah Kak." Imel.


"Suruh suami kamu mengurangi waktu kerjanya. Athar sama Gendis juga butuh perhatiannya. Apalagi kamu." Saras.


"Hahaha.... Iya Kak." Imel.


Ketiga kakak beradik itu pun terus mempersiapkan acara nanti malam. Setelah menyelesaikan persiapannya Imel, Melati dan Saras bersantai bersama di gazebo dekat kolam ikan yang Imel minta buatkan.


"Ikan-ikan ini di ganti ya Mang?" Tanya Imel pada tukang kebun yang merawat ikan Imel dan tanaman Mama Yuni.


"Ada beberapa Nyonya. Terus saya tambahin yang baru lagi di minta Tuan." Mamang.


"Waah,,, sayangnya. Kenapa Mang?" Imel.


"Sepertinya sudah kebesaran Nyonya. Jadi ga kuat nampung badannya." Mamang.


"Sepertinya begitu Nyonya." Mamang.


"Mel, takutnya anak-anak keburu ke sini mending kamu cepet masuk siap-siap." Melati.


"Siap Kakak. Eh, tuh Mas Pras datang Kak." Tunjuk Imel pada Kakak iparnya yang baru saja datang.


Imel bersalaman dan menyapa Pras terlebih dahulu sebelum dirinya masuk ke dalam kamar. Melati pun masuk ke dalam bersama Pras untuk bersiap-siap.


Tak berselang setelah Pras datang. Toni suami dari Saras pun datang. Saras menyambutnya kemudian mereka pun langsung masuk kedalam kamar mereka. Aidan dan Gilang di siapkan oleh baby sitter masing-masing. Sementara Athar dan Gendis di handle oleh Bi Imah sendiri karena Gendis masih bisa di tinggal.


Menjelang makan malam Wulan datang bersama Juan dengan Wulan yang terus bergelayut pada Juan. Di susul Nita dan Heru. Mereka tanpa curiga membawa Putri Nita bertemu dan bermain bersama Aidan dan Gilang. Bahkan saat Nita dan Wulan menyadari ada mainan baru mereka fikir oma-oma Aidan dan Gilang yang sengaja membelikannya untuk mereka.


Tak berselang Dini datang bersama Dodit. Mereka berdua langsung bergabung bersama yang lain dan menghampiri putra mereka yang telah seharian tak bertemu.


"Mas Ai, kangen ga sama Bunda?" Tanya Dini pada Putranya.


"Yah.." Jawab Aidan singkat.


"Ish... Sini peluk Bunda dulu." Dini.


Aidan pun memeluk Dini dengan erat.


"Ulu.... Ulu... Kangen banget yah sama Bunda." Ucap Dini.


"Lah, ganti lagi ga Mami?" Wulan.

__ADS_1


"Ga tau nih anak tiba-tiba manggil gue Bunda." Dini.


"Terus manggil laki lu?" Nita.


"Papi." Dini.


"Ajaib ni anaj. Jadi, Bunda sama Papi dong?" Wulan.


"Begitulah. Kalo gue bilang Mami mana mau dia jawab. Tapi, kalo Bunda dengan senang hati dia jawab." Dini.


"Makanya kaya gue. Mama Papa udah kelar." Nita.


"Serah lu dah." Dini.


"Eh,gw liat ada asinan. Seger deh kayanya." Wulan.


"Makan sonoh kalo mau Kanjeng Mami murka." Dini.


"Lah, kan itu di sediain buat kita ya kita makan dong." Wulan.


"Iya tapi lu kudu makan dulu jenong." Dini.


"Ish... Berdosa lu ngomong gitu sama Mba." Wulan.


"Bodo amat... Lu sih pake ajakin kita-kita hamidun lagi." Dini.


"Lah, mana gue tau kalo kalian juga hamidun. Jangan-jangan suami-suami kita lagi nih yang janjian." Lirik Wulan pada Juan.


"Jangan aneh-aneh mana ada kita juga kefikiran ke situ." Juan.


"Kefikiran buat ngadonnya sih iya tiap malem." Dodit.


"Astaga! Dodit ih... Lu mah." Protes Wulan pada adik sepupunya yang berbicara begitu fulgar menurutnya.


"Lah,iya kan Mas?" Tanya Dodit pada Juan meminta persetujuan.


"Itu mah jangan ditanya." Heru menimpali.


"Mas Ih..." Nita.


"Lah, emang iya kan." Heru.


"Ternyata kalian ga kalah mesumnya ya dari kita" Dini.


"Mesum juga sama istri sendiri Yang." Dodit.


"Iya sayang.... Awas aja berani sama yang lain.." Ucap Dini sambil mendaratkan capitan kepiting di pinggang Dodit.


"Aaww... Sakit Yang..."


"Eh, Pak Dimin!"


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2