Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Pernikahan Imel dan Bima


__ADS_3

Dan disinilah mereka semua di halaman rumah Imel yang telah di sulap sedemikian rupa dengan megahnya. Semua tamu yang datang tak akan menyangka jika mereka hanya berada di alam terbuka. Karena halaman rumah Imel di sulap bagaikan di dalam gedung.


Anya dan Lena sengaja membua konsep itu untuk menjaga jika saja hujan turun karena cuaca mulai tak menentu antara hujan dan panas. Dan konsep itu di setujui oleh Imel dan Bima. Karena Ibu Maryam tidak ingin acara di adakan di gedung mana pun. Maka halaman rumahlah yang kemudian di sulap menjadi gedung resepsi.


Juan yang baru saja tiba sore hari tidak lagi bisa beristirahat karena keluarga sudah berkumpul di rumah ibunya. Tidak mungkin Juna meninggalkan mereka begitu saja tanpa menyapa mereka. Sebagai tuan rumah yang baik Juna pun menyempatkan menemui mereka terlebih dahulu.


Semalam, Imel sudah mengutarakan beberapa pesan pada Wulan agar Wulan mau makan dengan di suapi oleh Dini ketika dirinya pergi berbulan madu nanti dan hal itu pun di setujui oleh Dini mengingat rumah mereka yang bersebelahan.


Wulan pun menuruti apa yang di pesankan oleh Imel. Di mulai saat acara pernikahan ini Dini mulai menyuapi Wulan. Dan dini akan mengancam Wulan ketika Wulan mulai tak mau membuka mulutnya. Dini akan berkata jika dirinya akan mengatakannya pada Imel.


Wulan pun akhirnya menurut karena tak ingin Imel berhenti menyuapinya lagi ketika Imel pulang berbulan madu nanti. Juan pun kini oercaya terhadap ucapan Dodit dan Papa Bambang jika Imel akan melakukan sesuatu yang membuat Wulan mau membuka mulutnya untuk makan. Walaupun beralih menjadi makan dari suapan Dini.


SAH...


Kata itu pun menggema di sekitar ruangan itu. Bima berhasil menyunting gadis pujaannya yang tak pernah di sangka jika dirinya akan bersanding dengan sahabat dair keponakannya sendiri.


Pandangan Bima terus tertuju pada Imel yang keluar dengan balutan kebaya putih tulang yang sangat pas d tubunya dengan di apit Wulan dan Dini sementara Nita berada di belakang mereka. Begitulah selalu terlihat mengagumkan kebersamaan mereka.


Serangkaian acara akad nikah pun telah usai. Kini Imel dan Bima duduk bersanding di pelaminan dengan status baru mereka yakni sebagai sepasang suami istri. Imel begitu cantik dengan balutan gaun berwana hijau botol dan Bima menggunakan pakaian yang senada dengan Imel. Keduanya terus menebar senyum bahagia mereka kepada para tamu undangan yang telah hadir dan memberikan selamat pada keduanya.


Terlihat seorang gadis yang kebingungan di depan rumah Imel. Pasalnya dirinya di perintahkan untuk menghadiri acara pernikahan bos besar mereka dan lokasi yang dikirim padanya begitu dia kenali. Karena merupakan rumah teman sekolahnya. Namun, dirinya bingung ketika melihat rumah teman sekolahnya yang sudah di sulap sangat mewah dan megah.


Ira melangkahkan kakinya gontai. Pasalnya dirinya pun menyukai bos besarnya itu. Hanya saja Ira tak berani mengungkapkannya karena berada di samping Bos besarnya itu sangat mencekam karena bos besarnya itu sangat dingin dan tegas.


"Ira.." Panggil Nita yang melihat kedatangan Ira.


"Hah! Hei,, Nita. Kamu ada di sini juga?" Tanya Ira bingung.


"Tentu saja. Kan ini acaranya Imel." Nita.


"I mel." Jawab Ira terbata.


"Astaga! kenapa aku melupakan nama Imel. Imelda Anastasya." Batin Ira.

__ADS_1


"Kamu kenapa Ra? Datang sendiri?" Nita.


"Eh, iya Nit. Aku datang sendiri perwakilan dari perusahaan tempat aku kerja." Ira.


"Owh! Begitu. Sudah mengisi data?" Nita.


"Sudah." Ira.


"Oke. Kalo begitu silahkan menikmati hidangan ya Ra. Gw ada yang mesti di urus." Pamit Nita.


"Eh, iya Nit. Makasih ya." Ira.


"Santai aja Ra." Nita.


Setelah kepergian Nita. Ira mendekati stan minuman dan menegak jus di dalam gelas hingga tandas. Rasanya dadanya terasa sesak mengetahui kenyataan ternyata bos besar yang di idam-idamkannya menikaha teman sekolahnya. Bahkan Imel mengetahui jika dirinya mengagumi bos besarnya itu bahkan terang-terangan Ira mengatakan jika dirinya menyukai bosnya itu. Hanya saja Ira tak pernah mengatakan siapa bos besarnya itu dan Imel pun tak mengetahui jika Bima merupakan bos besar dari beberapa perusahaan.


Dengan sekuat hati Ira melangkahkan kakinya menuju pelaminan untuk memberikan selamat kepada bos besarnya itu. Imel yang menyadari kehadiran Ira pun tersenyum lebar. Karena Imel mengira jika kedatangan Ira atas undangan dirinya. Dan Bima tak mengetahui jika Ira merupakan perwakilan anak perusahaannya di LN. Bima hanya mengira jika Ira adalah teman Imel yang di undang Imel.


"Ira,, makasih ya udah nyempetin datang. Padahal kamu bilang acaranya bentrok sama acara bos kamu." Ucap Imel memeluk Ira.


"Selamat ya Mel. Semoga samawa." Ucap Ira tulus.


"Makasih Ra. Semoga lu cepet nyusul ya Ra. Jangan lupa undang gw ya." Imel.


"Iya." Ucap Ira kemudian turun dari pelaminan.


"Hei, kamu Ira perwakilan anak cabang LN kan?" Steve.


"Pak Steve. Iya Pak." Jawab Ira tak bersemangat.


"Terima kasih sudah hadir ya. Sampaikan terima kasih Bos kepada atasan kamu ya." Steve.


"Baik Pak." Ira.

__ADS_1


"Silahkan di nikmati acaranya ya." Steve.


"I Iya Pak." Ira.


Walaupun hatinya sesak Ira tak bisa meninggalkan acara begitu saja. Apalagi Steve selalu berada di dekatnya. Ira takut dirinya kena teguran jika meninggalkan acara begitu saja. Karena tak ada satupun yang mengetahui jika dirinya menyukai Bos besarnya.


Melihat Ira berbincang dengan Steve membuat Imel mengernyitkan keningnya. Kemudian Imel berbisik pada Bima menanyakan kedekatan Steve dan temannya Ira.


"Mas, Kak Steve kenal sama temen aku yang barusan?" Bisik Imel.


"Yang mana?" Bima.


"Itu yang lagi ngobrol sama Kak Steve." Tunjuk Imel pada Steve yang tengah berbincang dengan Ira.


"Mas kurang tau sayang. Mungkin Steve kenal atau baru di kenalnya hari ini." Bima.


"Hm.. Betul juga." Imel.


"Kenapa?" Bima.


"Ga apa-apa. Tapi, Imel lihat sepertinya Kak Steve begitu mengenal Ira." Imel.


"Ya sudah biarkan saja. Steve tak akan macam-macam kok sayang. Steve begitu setia pada Soraya istrinya." Bima.


"Ya. Mas benar." Imel.


Acara terus berlangsung hingga usai. Para tamu undangan satu persatu telah meninggal tempat acara begitupun dengan para keluarga dekat sudah mulai meninggalkan acara satu persatu. Menyisakan Imel, Bima dan para sahabat mereka.


Saat ini mereka tengah duduk di meja bundar yang telah di sediakan. Mereka berbincang kesana kemari yang sangat tidak berfaedah. Namun, ingatan Imel kembali pada cara Steve menyapa Ira tadi. Akhirnya Imel pun menanyakan pada Steve.


"Kak Steve, apa Imel boleh bertanya?" Imel.


"Boleh Bu Bos silahkan." Steve.

__ADS_1


"Apa Kakak mengebal Ira?" Imel.


🌹🌹🌹


__ADS_2