
Hampir tengah malam Bima baru saja tiba di rumah. Bima terkejut saat melihat Mama Yuni masih duduk di depan televisi bersama Bi Imah. Bi Imah langsung berpamitan saat melihat Bima datang. Mama Yuni diam menyilangkan tangannya saat melihat Bima datang.
"Loh, Mama kenapa belum tidur?" Tanya Bima.
"Kamu kemana saja? Apa tidak mengkhawatirkan istrimu sedikit pun?" Tanya Mama Yuni mengabaikan pertanyaan Bima.
"Astaga! Maaf Mah ponsel Bima mati. Tapi tadi Bima sudah memberi kabar Imel jika Bima pulang terlambat." Jawab Bima santai.
"Kau tau sejak pulang mengantar Papa dan berbelanja tadi Imel belum keluar dari dalam kamar." Mama Yuni.
"Apa?!" Bima.
"Ya. Entah apa yang dia lihat saat di mall tadi. Karena Sejak di dalam mall tadi Imel mulai berbeda. Dia hanya mengatakan jika kakinya sakit akan tetapi hingga malam ini Imel tak kunjung turun." Ucap Mama Yuni sedikit marah.
"Astaga! Bima naik dulu Mah." Bima.
"Dan perlu kamu tau Nak. Imel belum menyentuh makanannya sejak siang tadi." Mama Yuni.
Tanpa menjawab pertanyaan Mama Yuni Bima segera menaiki anak tangga dengan tergesa Bima melupakan rasa lelahnya setelah seharian bertemu klien. Bima memang sengaja membuat jadwal untuk bertemu klien di hari ini agar beberapa hari kedepan dirinya bisa sedikit melonggarkan jadwalnya.
Karena Bima merasa jika dirinya sudah terlalu mengacuhkan istri tercintanya dengan segala kesibukannya. Beruntung kedua orang tuanya datang untuk menghibur Imel. Jika tidak mungkin Bima akan sangat mengkhawatirkan dirinya. Dan saat Bima memasuki kamar dilihatnya Imel sudah terlelap dengan piyama tidurnya. Dua piring nasi dan segelas susu masih tertata dengan rapih tak sedikit pun Imel menyentuhnya.
Bima mengusap wajahnya melihat keadaan sang istri yang tertidur dengan wajah sembab. Bima tak tau apa penyebab Imel seperti itu. Dan Bima yakin semua ini ada hubungan dengannya yang tak menghiraukan dirinya seharian penuh. Bima melihat ponsel Imel yang tergeletak di lantai. Bima mengambil dan membukanya. Betapa terkejutnya Bima melihat ada pesan dari nomer baru yang dikenalnya dan menampilkan foto dirinya.
Bima mengetikkan sesuatu di ponselnya kemudian menyimpan ponselnya dan juga ponsel milik Imel. Bima membersihkan dirinya kemudian segera menyusul Imel ke atas tempat tidur. Bima membawa Imel kedalam pelukannya dan sedikit mengganggu tidurnya berharap Imel bangun untuk makan. Namun nihil Imel tertidur pulas melupakan perutnya yang belum terisi sejak siang tadi.
Pagi hari Imel bangun karena perutnya terasa sangat lapar. Imel menggerakkan badannya dan ternyata dirinya dalam pelukkan Bima. Perlahan Imel menggeser badannya untuk bangkit dari tidurnya. Namun pergerakan Imel di rasakan oleh Bima.
"Hmm, sayang. Mau kemana?" Tanya Bima dengan suara khas bangun tidurnya.
"Ke kamar mandi." Jawab Imel singkat.
Bima langsung bangun menunggu Imel selesai dari kamar mandi. Saat Imel keluar kamar mandi Imel melihat Bima tengah duduk di atas tempat tidur dengan menyandarkan badannya pada headboard. Imel tak menghiraukannya dan berjalan keluar begitu saja. Bima yang menyadari Imel keluar dari kamar mereka pun segera menyusul Imel.
__ADS_1
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" Tanya Bima saat melihat Imel menyalakan kompor.
"Menyalakan kompor." Jawab Imel singkat.
"Iya sayang Mas tau. Tapi untuk apa? Kamu ingin sesuatu? Biar Mas buatkan." Tawar Bima.
"Tidak hanya memasak air." Imel.
"Untuk apa? Kamu mau minum susu? Bukannya bisa ambil di dispenser sayang." Bima.
Tanpa menjawab Bima Imel mematikan kompor kembali dan menyimpan kembali panci ke tempat semula. Imel mengisi gelasnya yang sudah berisikan susu dengan air panas dari dispenser. Kemudian Imel duduk di kursi meja makan dan mengaduk susunya perlahan. Bima duduk di sampingnya.
"Sayang, Mas minta maaf. Mas tidak mengabari jika kemarin Mas bertemu klien satu hari penuh bahkan hingga malam." Bima.
Imel hanya menjawab dengan anggukan saja sambil menikmati susunya dari sendok.
"Sayang, Mas tau kamu marah dan sedih Mas abaikan seharian kemarin bahkan hingga malam kamu tertidur sendiri." Bima.
Lagi-lagi Imel hanya menjawab dengan gelengan kepala. Menandakan dirinya baik-baik saja.
"Ya. Maaf tidak menyambut kedatangan Mas." Jawab Imel datar.
Imel benar-benar diam seribu bahasa. Begitulah Imel. Ketika hatinya mulai baik-baik saja maka Imel akan bersikap biasa saja. Namun, kali ini Imel tak dapat menghindari semuanya. Imel harus menghadapinya dan cukup membuatnya sesak.
Imel bangkit dari duduknya setelah menghabiskan susunya tanpa berkata apapun pada Bima. Bima hanya diam membiarkan Imel. Saat akan naik Imel berpapasan dengan Mama Yuni.
"Pagi sayang. Mau mama buatkan sarapan apa?" Tanya Mama Yuni.
"Pagi Ma. Hm,,, Imel sudah sarapan barusan. Maaf ya Ma mendahului." Imel.
"Tidak apa-apa sayang. Mau kemana?" Mama Yuni.
"Mau mandi Mah gerah." Imel.
__ADS_1
"Ya udah. Nanti temenin mama jalan yuk." Ajak Mama Yuni.
"Iya Ma. Nanti Mama panggil aja Imel ya Ma." Imel.
"Oke." Mama Yuni.
Setelah Imel menghilang dari pandangannya Mama Yuni pun menghampiri Bima yang tengah frustasi di meja makan.
"Ada apa?" Mama Yuni.
"Imel mendapatkan pesan dari sekretaris Bima Ma." Bima.
"Pesan apa? Kenapa sampai semarah itu?" Mama Yuni.
"Dia membuat seolah Bima dan dirinya tengah menghabiskan waktu berdua. Dan memang Bima bersamanya tapi dalam profesional kerja bukan yang lain." Bima.
"Dari mana sekretaris kamu mendapatkan nomer ponsel Imel?" Mama Yuni.
"Bima sedang menyelidikinya Mah. Karena Bima tak pernah memberikan nomer ponsel Imel pada karyawan kantor. Hanya Steve, Arman dan Jo yang tau." Bima.
"Kamu sudah menjelaskan semuanya pada Imel?" Mama Yuni.
"Sudah Ma. Tapi, Imel hanya diam. Menjawab ucapan Bima pun hanya mengangguk dan menggeleng saja." Bima.
"Bersabarlah. Imel hanya butuh waktu." Mama Yuni.
"Makasih Ma." Bima.
Di dalam kamar ponsel Bima terus berdering. Imel yang akan memasuki kamar mandi melihat sekilas ke layar ponsel milik Bima dan tertera nama Ira di sana membuat dadanya terasa sesak. Memang tak ada yang spesial dalam penamaan nama Ira hanya saja Imel terlanjut shok dengan pesan yang di kirimkan Ira padanya.
Imel membiarkan saja ponsel Bima berdering. Kemudian dirinya masuk kedalam kamar mandi dengan air mata yang sudah mengalir begitu saja dari matanya. Imel begitu sensitif dalam segala hal hanya saja Imel pandai menutupinya. Bahkan ketiga sahabatnya pun terkadang kecolongan atas masalah yang Imel hadapi dan tak jarang mereka marah karena Imel tak mau berbagi masalahnya dengan mereka.
Walaupun tak ada solusi setidaknya Imel menceritakannya pada mereka karena apapun masalahnya jika di hadapi bersama akan terasa ringan.
__ADS_1
🌹🌹🌹