Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Wanita Kuat


__ADS_3

Seperti yang sudah di janjikan Juna dan Anya pun datang untuk menjenguk Imel dan Gendis juga Athar tentunya karena sejak kelahiran Athar Anya belum pernah melihatnya Juna pun hanya sebentar saja singgah kemudian kembali harus melanjutkan perjalanan bisnisnya saat itu. Anya begitu bahagia bisa melihat dua keponakannya yang manis dan tampan.


"Kamu sudah segar Dek?" Anya.


"Alhamdulillah Kak. Demi mereka ga boleh leyeh-leyeh." Imel.


"Betul... Tetep semangat apapun keadaannya ya Dek." Anya.


"Iya Kak. Kan aku niru Kakak yang selalu semangat." Imel.


"Kamu ini. Mana ada begitu." Anya.


"Kalian sama-sama wanita kuat dan hebat." Saras.


"Aamiin... Makasih Kak." Anya.


"Kamu masih kontrol Nya?" Melati.


"Terakhir pas Mas ada acara di sana Anya ikut dan sempetin buat kontrol dan alhamdulilah hasilnya baik." Anya.


"Syukurlah."


"Anak-anak sama siapa kok ga di ajak?" Saras.


"Sama Bibi Kak. Anak-anak sudah besar, Stela sudah bisa jaga Bian. Mereka juga kan sekolah dari pagi pulang sore. Jadi waktu mereka habiskan di sekolah." Anya.


"Stela sudah masuk sekolah pertama ya Nya?" Saras.


"Stela baru masuk sekolah atas Kak. Bian mau masuk sekolah pertama." Anya.


"Loh, udah gede ya Stela. Perasaan kemarin ketemu masoh kecil sekarang udah gadis toh rupanya." Melati.


"Iya Kak. Alhamdulillah." Anya.


Mereka berempat pun asik mengobrol sambil menjaga Athar yang tengah bermain dan juga Gendis yang asik terbuai oleh obrolan empat orang dewasa. Seperti di nina bobo Gendis tidur dengan pulasnya. Hingga membuat Anya gemas karena keponakannya tak sedikitpun membuka matanya.


Juna, Papa Bambang dan Bima berbincang mengenai bisnis di lain ruangan sementara Mama Yuni dan Ibu Maryam di temani Bi Imah meracik berbagai makanan demi memanjakan perut keluarga mereka. Keduanya sangat kompak jika sudah berada di dapur. Mama Yuni pun tak canggung masuk ke dapur karena memang sudah terbiasa seperti itu walaupun sudah ada asisten rumah tangganya yang melakukan segalanya.


"Mas Athar, bobo dulu yuk Nak." Ajak Imel.


"Da au Mi." Athar.


"Kasian badannya sayang capek. Mas Athar ajakin main dari tadi pagi." Bujuk Imel.


"Iya sayang. Sama Uwak yuk bobonya. Mau yah?" Ajak Anya.

__ADS_1


Athar menatap Anya dan Imel bergantian seolah meminta persetujuan Imel. Karena Athar belum begitu mengenal Anya. Ini kali pertama pertemuannya membuat Athar canggung.


"Boleh kok Nak. Uwak seneng sekali kalo Mas Athar mau bobo sama Uwak." Imel.


Kemudian Athar pun bangun dan berjalan mendekati Anya. Anya begitu takjub pada Athar yang begitu pengertian dan tidak rewel. Saat keduanya sudah di atas tempat tidur pun Anya begitu terharu ketika Athar mengucapkan do'a sebelum tidur walaupun dengan suara cadelnya. Dan tak lama Athar tertidur dengan pulas. Anya pun tak tertahankan untuk tidak mencium pipi gembul Athar. Anya tidur memeluk Athar.


"Dek, Kakak kemana?" Tanya Juna.


"Tidur siang sama Mas Athar." Jawab Imel yang tengah menggendong Gendis yang baru saja bangun.


"Loh, Athar mau?" Juna.


"Mau kok." Imel.


"Hebat. Athar tau mana saudara mana bukan yah." Juna.


"Harus dong Bang." Imel.


"Kalian sudah akan pindah?" Juna.


"Iya Bang. Mas Bima sedang mengurus surat menyuratnya." Imel.


"Syukurlah." Juna.


"Sedikit repot dan membosankan Kak. Tapi, di nikmati saja setiap prosesnya. Bersyukur juga jadi bisa kumpul sama keluarga." Juna.


"Tapi, masih ingat nyupir pesawat dong Jun?" Melati.


"Kepepet bisa lah Kak."


"Hahahaa..."


Ibu Maryam dan Mama Yuni datang dengan membawa makanan dan minuman di tangan mereka. Papa Bambang dan Bima pun segera bergabung untuk menikmati kudapan nikmat yang di buat oleh Mama Yuni dan Ibu Maryam. Juna pun menbangunkan Anya yang tengah menemani Athar tidur.


"Apa Wulan akan terbang?" Mama Yuni.


"Tidak Ma. Saras mau tambah cucu jadi mereka ga mungkin ke sini dengan keadaan hami muda begitu." Saras.


"Mereka? Maksudmu Wulan dan Juan?" Mama Yuni.


"Bukan Mah. Wulan, Dini sama Nita sama-sama lagi hamil muda sekarang." Imel.


"Hah! Kamu serius?" Mama Yuni.


"Iya Ma. Kemarin Dini kasih kabar kalo Dini hamil lagi eh, Wulan juga hubungi Kak Saras ngasih tau klo Wu hamil. Kebetulan Mel sama Kak Saras lagi sama-sama di salon." Melati.

__ADS_1


"Astaga ketiga anak itu." Mama Yuni.


"Mereka kaya bersaing gitu sih." Ibu Maryam.


"Memang begitu Bu. Saat sekolah saja peringkat mereka bertiga selalu bersaing. Cuma Imel yang tetap teguh di peringkat pertama." Saras.


"Sok tau kamu." Papa Bambang.


"Papa jangan lupa klo menantu Papa ini teman sekolah anak Saras." Saras.


"Hahahaa..."


"Bisa begitu Mel?" Anya.


"Imel ga tau Kak. Padahal kita belajar bersama dan tak berniat bersaing. Bahkan kita memilih minat dan bakat masing-masing tanpa ikut-ikutan yang lainnya." Imel.


"Itulah pertemanan yang tulus Dek. Tak ada niat bersaing walau terlihat bersaing. Yang di luaran heboh kalian nya sih damai-damai saja." Bima.


"Ngga sedikit sih Bang yang ingin kita pisah apalagi pas Imel ambil jurusan yang begitu berbeda dengan mereka bertiga semakin banyak guncangan yang datang. Tapi, kembali lagi kepada pribadi kita. Sekuat apapun badai jika pondasi di dalamnya kuat maka akan tetap berdiri." Imel.


"Bangga sekali Mas Athar sam Gendis punya Mami seperti kamu sayang. Begitu juga dengan Mas tentunya." Bima.


"Apalagi Mba Maryam ya. Pasti rasa bangga tak henti di rasakan dari ketiga anaknya." Mama Yuni.


"Alhamdulillah Mba. Mereka memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang membuat mereka istimewa." Ibu Maryam.


"Anak-anaknya Ibu pasti baik-baik dari kecil ya Bu?" Melati.


"Ya ngga dong Mel. Ada masanya mereka mengeksplor diri mereka sendiri. Arjuna hampir tidak mau lagi bersepeda karena seringnya terjatuh. Bagas kena bully teman sekolahnya karena keistimewaan yang dia miliki. Imel cengeng karena selalu ada yang membela Abang-abang nya." Ibu Maryam.


"Semua istimewa ya Mba." Mama Yuni.


"Iya Mba." Ibu Maryam.


"Yah, begitupun ketiga anak kami Mba. Saras tiba-tiba minta nikah selesai sekolah atas. Dan yang membuat kami kaget calonnya anak dari teman bisnis saya. Begitu juga Melati diam-diam mengikuti jejak Kakaknya. Sedang anak bungsu kami memilih pergi jauh dan tau-tau kami mendapat kabar jika dia memiliki perusahaan sendiri." Papa Bambang.


"Baru saja datang dan berkumpul bersama eh, minta nikah. Dan calon istrinya malah sahabat keponakannya sendiri." Mama Yuni.


"Tau begitu ga usah jauh-jauh ke sini ya Ma." Saras.


"Betul.. Tau begitu Mama nikahin aja dari dulu." Mama Yuni.


"Tapi, belum tentu juga Imel mau Ma." Bima.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2