Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Pulang Ke Kota Y


__ADS_3

Setelah acara pengajian Ayah Imel. Inel dan Bima berpamitan pada Ibu Maryam dan ke dua Kakak Imel. Seperti yang telah di sepakati oleh Ibu Maryam, kedua Kakak Imel dan orang tua Bima. Keluarga Bima akan datang kembali setelah empat puluh hari Ayah Imel.


Berdekatan dengan acara pernikahan Nita dan Heru. Bima akan datang melamar Imel bersama keluarganya. Sore ini Imel pulang bersama dengan Bima. Banyak pesan yang di terima keduanya dari Ibu Maryam dan Kedua Kakak Imel.


"Mas, kalo ngantuk istirahat aja ya." Imel.


"Iya sayang." Bima.


Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karena Bima tak ingin tergesa-gesa sampai di kota Y. Imel pun berusaha terjaga karena tak ingin membiarkan Bima menyetir sendiri walau Bima berkali-kali memintanya untuk tidur.


Hampir tengah malam Bima dan Imel tiba di kota Y. Bima meminta Imel untuk menginap di rumahnya karena besok pagi pun mereka akan pergi bersama ke tempat pernikahan Wulan dan Juan.


"Tapi, pakaian Imel masih di kost Mas." Imel.


"Nita sudah membawakannya ke rumah sayang. Mama yang memintanya." Bima.


"Loh, kok ga bilang?" Imel.


"Iya. Awalnya Mama minta di bawa ke hotel saja sekalian tapi takut kita datang pagi Wulan dan Nita sudah tidur jadi Mama memintanya dari Nita tadi siang." Bima.


"Terima kasih Mas. Imel sudah merepotkan kalian semua." Imel.


"Tidak perlu sungkan sayang." Bima.


"Imel jadi ga enak Mas karena tidak ikut acara Wulan sore tadi." Imel.


"Tidak apa-apa sayang. Wulan pasti mengerti kok." Bima.


"Astaga! Mas." Imel.


"Apa?" Bima.


"Imel lupa belum beli kado buat Wulan." Imel.


"Astaga! Kamu mengagetkan Mas sayang. Kamu sebut saja apa yang ingin berikan untuk Wulan nanti biar Johan yang mencarikan." Bima.


"Tapi ga enak. Masa ngerepotin Johan." Imel.


"Tidak apa-apa sayang. Kamu harus terbiasa merepotkan dia." Bima.


Sampai di rumah Bima, Yuni menyambut kedatangan mereka membuat Imel nerasa tak enak karena calon Ibu mertuanya belum beristirahat demi menunggu dirinya dan Bima datang.


"Mama... Kenapa Mama belum tidur?" Tanya Imel begitu turun dari mobil.


"Mama menunggu Bima takut kamu ga di bawa ke sini." Yuni.


"Mama, terima kasih Mama mau menunggu Imel dan Mas Bima." Imel.


"Ngga masalah sayang. Ayo masuk dan istirahat. Besok pagi-pagi kita harus ke hotel." Yuni.


"Iya Ma." Imel.

__ADS_1


Imel pun di antarkan oleh Yuni ke kamar tamu. Sementara Bima pergi ke kamarnya setelah berpamitan pada Imel dan Yuni. Setelah Imel masuk Yuni pun berpamitan ke kamarnya.


"Bima dan Imel sudah datang Ma?" Tanya Bambang.


"Alhamdulillah sudah Pa." Yuni.


"Ya sudah. Sini Mama tidur." Ajak Bambang.


Yuni pun segera berbaring di samping sang suami. Mencari posisi yang nyaman dalam pelukan suami tercintanya. Tak butuh waktu lama baginya untuk berlayar ke alam mimpinya.


Pagi hari sekali Imel sudah terbangun dan menuju dapur. Sudah ada pelayan yang tengah menyiapkan sarapan untuk semua penghuni rumah sebelum mereka semua pergi ke hotel.


Imel ingin pergi lebih pagi menemui sahabatnya tapi Yuni melarangnya. Biar mereka semua pergi bersama. Imel berniat membantu pelayan menyiapkan sarapan namun pelayan tak mengijinkannya.


"Mba duduk saja nanti Mas Bima marah sama saya." Mbok Nah.


"Tapi Mbok.." Imel.


"Duduk saja Mbok buatkan Teh ya." Mbok Nah.


"Eh, jangan Mbok. Biar Imel saja." Tolak Imel.


"Baiklah. Mba buat tehnya Mbok lanjutkan masak ya." Mbok Nah.


Imel pun membuatkan teh untuk dirinya sendiri. Saat sedang membuat teh Yuni datang menghampirinya di dapur.


"Loh, sayang lagi ngapain?" Yuni.


"Mama. Buat Teh Ma. Mama mau?" Imel.


"Udah kebiasaan Ma." Imel.


"Ya udah ayo sini duduk sama Mama kalo udah buat teh nya." Ajak Yuni untuk duduk di teras belakang.


Yuni dan Imel pun berbincang hangat di taman belakang sambil menikmati teh buatan Imel. Mereka berdua membicarakan acara yang akan di laksanakan bulan depan.


Obrolan mereka pun terhenti kala Papa Bambang dan Bima datang setelah mereka berdua berolah raga di ruang gim. Imel tak mengangka jika Bima sudah bangun dan bahkan telah selesai berolah raga.


"Sayang sudah bangun?" Bima.


"Hm.. Mas sejak kapan olah raga?" Imel.


"Setelah subuh tadi Mas sama Papa olah raga." Bima.


"Kok Imel ga liat Mas turun?" Imel.


"Mas turun sebelum subuh sayang terus solat di musola itu." Tunjuk Bima ke musola yang ada di belakang rumah mereka.


"Kamu suka ke rumah ini lupa kalo ada musola di belakang?" Yuni.


"Hehe... Iya Ma. Kan kalo ke sini Imel ga pernah merhatiin ada apa aja di rumah. Imel cuma duduk di depan tanpa ikut masuk." Imel.

__ADS_1


"Eh, masa sih?" Bambang.


"Iya Pa. Imel kan pemalu sekali." Yuni.


"Eh, Ngga juga. Malu-maluin mungkin maksud Mama." Imel.


Mereka berempat pun tertawa bersama. Kemudian Bima dan Papa Bambang berpamitan untuk mandi. Setelah itu mereka pun sarapan bersama. Imel dan Mama Yuni bersiap sebentar kemudian mereka berempat pergi bersama dalam satu mobil menuju hotel.


"Sayang baju kamu nanti biar Bima yang ambil ke kamar. Kamu boleh ke kamar Wulan lebih dulu. Di sana sudah ada Nita dan Dini juga." Yuni.


"Iya Ma. Nanti Imel pergi sama Mas aja sekalian." Imel.


"Ya sudah. Mama sama Papa langsung ke kamar ya." Yuni.


"Iya Mah. Nanti kita ketemu di ballroom saja." Imel.


Imel pun menunggu Bima dan mereka berdua pergi bersama menuju kamar dimana Wulan di rias. Kebetulan Nita dan Dini pun di rias di kamar yang sama dengan Wulan sesuai permintaan Wulan. Begitu juga dengan Imel.


"Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikum salam."


"Imeelll..." Wulan.


Ketiga perempuan yang tengah di rias itu pun menghentikan MUA yang tengah merias mereka kemudian berhambur memeluk Imel.


"Aaa... Pengantin ini kenapa cantik banget sih." Imel.


"Kamu datang jam berapa?" Dini.


"Jam berapa ya? Hampir tengah malam sih kayanya." Imel.


"Makasih ya Mel kamu udah datang?" Wulan.


"Aku yang minta maaf Lan. Kemarin ga bisa ikut acara kamu." Imel.


"Hus... Siapa menyangka dan siapa yang menginginkan berita itu datang kepada kita." Wulan.


"Sayang." Panggil Bima menghentikan ke empat perempuan itu.


"Eh, astaga! Maaf Mas lupa hehehe.." Imel.


"Mas simpan di sini ya. Mas ke kamar dulu." Bima.


"Oke. Makasih Mas." Imel.


"Sama-sama sayang." Bima.


"Hmm... Ada yang ga mau sama om-om tapi malah lengket sama om-om." Gida Nita.


"Seperti yang kamu bilang. Kalo om-omnya kaya Om Bima sih mana tahan."

__ADS_1


"Hahahaa....."


🌹🌹🌹


__ADS_2