Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Sensitif


__ADS_3

Imel tak menegur saat Teh Leli dan Bi Imah berinteraksi dengan Athar dan Gendis. Karena memang seperti itulah biasanya. Namun, bagi Teh Leli itu salah. Entah perasaan apa yang di rasakan Teh Leli membuat apa yang di lakukan Imel itu terasa salah dimatanya. Namun, saat Athar menangis kuat membuat atensi Imel teralihkan.


"Kenapa?" Tanya Imel singkat.


"Maaf Bu. Mas Athar tidak ingin di ganggu." Bi Imah.


"Kemarilah." Imel.


Bi Imah pun langsung membawa Athar pada Imel. Dan sekejap tangis Athar langsung berhenti. Athar duduk di pangkuan Imel dengan terus mendekapnya. Nafasnya tak beraturan dan Imel tau itu pertanda jika Athar tengah emosi. Imel mengusap lembut punggung Athar.


"Ge mau jadi anak lu Mel." Ucap Nita bangga melihat interaksi sahabat dan putranya.


"Ogah gw." Imel.


"Hahahaha..."


"Kamu juga Mami hebat buat Putri." Heru.


"Makasih sayang." Nita.


"Kalian Mami-Mami hebat. Hanya saja beda cara kalian memperlakukan putra putri kalian." Bima.


"Dih, Om Bim udah punya dua anak mah beda ya." Wulan.


"Hus, itu mah naluri Yang." Juan.


"Mami," Panggil Athar.


"Ya sayang?" Jawab Imel lembut.


"Nanapa ada dia?" Tunjuk Athar pada Teh Leli.


"Namanya Teh Leli sayang. Panggil Teteh ya. Bukan dia." Imel.


"Ya, tapi napa?" Tanya Athar lagi.


"Teteh datang ke sini Mami yang memintanya sayang. Untuk membantu Bibi menjaga Mas Athar sama Dek Gendis. Bibi mau pergi sebentar jadi nanti Mas Athar sama Dedek sama Teteh sementara ya." Jelas Imel.


"No!" Teriak Athar kemudian menyusupkan kepalanya ke dada Imel. Pelukannya pun semakin erat.


Melihat hal itu membuat Bi Imah pun merasa bersalah karena dirinya akan libur membuat kedua anak asuhnya harus berpisah darinya sementara waktu.


"Why?" Tanya Bima tegas.

__ADS_1


Namun, bukannya menjawab Athar malah menangis kencang. Membuat semua yang berada di sana merasa heran ada apa dengan Athar. Wulan, Dini dan Nita saling pandang. Imel pun membawa Athar ke luar dan menenangkan putranya.


"Kenapa Athar?" Wulan.


"Athar memang sensitif. Om salut sama Imel karena dia akan begitu mengerti ada apa yang terjadi dengan Athar." Bima.


"Dia memang yang paling peka." Dini.


"Imel banget ya Athar." Nita.


"Maksudnya?" Tanya semuanya kompak.


"Sensitif. Dua-duanya sangat sensitif." Nita.


Seketika hening kemudian mereka pun kembali berbincang seperti biasa. Bima meminta Gendis pada Bi Imah dan meminta Bi Imah untuk persiapkan saja dulu susu untuk Gendis. Sementara Imel masih menggendong Athar di taman samping. Entah apa yang di bicarakan mereka berdua hingga Athar terlelap di gendongan Imel.


Dengan sigap Bi Imah segera mendekati Imel dan mengambil alih Athar dengan perlahan. Setelah mengantarkan Athar ke dalam kamarnya Bi Imah segera mengambil Gendis yang berada di pangkuan Bima. Anak-anak yang lain pun sudah di bawa baby sitter nya masing-masing untuk pulang dan tidur siang.


"Lu mah Mel nurunin sifat sensitif lu sama Athar. Dia cowok loh." Nita.


"Lah, mana gw tau. Tapi, Gendis juga gitu loh. Udah keliatan dari sekarang. Meskipun ya lebih sensitif Athar." Imel.


"Dan Tante faham betul ya." Dini.


"Ya siapa lagi kalo bukan kita. Papinya kan sibuk cari uang masa harus ngurusin hal-hal kecil juga." Imel.


Dan hal itu di saksikan langsung oleh Teh Leli. Entah mengapa Teh Leli merasa iri pada Imel. Padahal sebelumnya tak seperti itu. Teh Leli bersikap baik pada keluarga Imel. Dan Imel sudah mengenal Teh Leli sejak kecil. Sudut mata Imel menangkap keberadaan Teh Leli.


"Ada apa Teh? Ada yang mau di tanyakan?" Tanya Imel.


"Eh, iya Mel. Anu, kalo anak-anak tidur beginu Teteh ngapain ya?" Teh Leli.


"Hm..." Bima.


Bibi yang kebetulan ada di dekat mereka segera menarik Teh Leli ke dapur dan menceramahi Teh Leli karena berani menyebutkan nama Imel hanya dengan sebutan nama. Dan hal itu juga di dengar oleh Mba Ina. Mba Ina pun segera meminta maaf pada Imel.


"Maaf Teh Leli apa sebelumnya nyonya tidak menyatakan apa-apa?" Mba Ina.


"Nyonya siapa?" Teh Leli.


"Nyonya siapa? Apa maksud kamu? Nyonya Imel. Jangan lancang kamu menyebut namanya langsung." Mba Ina.


"Maaf, tapi saya sudah terbiasa menyebutnya Imel." Bantah Teh Leli.

__ADS_1


"Tolong patuhi perintah di rumah ini jika masih ingin bekerja di sini." Mba Ina.


"Loh, apa hubungannya. Saya datang ke sini juga kan atas perintah Imel." Teh Leli.


"Nyonya Teh Nyonya!" Mba Ina.


"Maaf." Teh Leli.


"Dan saya rasa Mba Inah sudah memberitahukan apa saja tugas kamu disini." Mba Ina.


"Baiklah saya akan tanyakan pada Bi Imah." Teh Leli.


"Itu lebih baik." Mba Ina.


Sementara di dalam Imel bersikap biasa saja seolah tak terjadi apapun. Nita pun yang tau dan mengenal Teh Leli tak ingin berusaha menolongnya. Bukan karena mereka sombong tapi itu sudah menjadi aturan di dalam rumah itu. Mereka pun tak pernah menjaga jarak dengan para pekerja mereka hanya saja aturan tetap aturan juga sopan santun harus tetap di gunakan.


"Apa kamu tidak memberitahu dia aturan disini?" Bima.


"Tidak untuk apa? Seharusnya dia tau. Bukankah dia pernah bekerja di luar." Imel.


"Dan sekarang Mas tau apa keluahan Athar." Bima.


"Sepertinya apa yang ada di fikirannya Mas benar deh hehehe..." Imel.


"Mel, hamil Gendis ngidam?" Dini.


"Ngidam lah tapi ga separah Athar sih." Imel.


"Gw parah banget deh." Dini.


"Gw juga tau." Wulan.


"Gw ngga tuh." Nita.


"Astaga! Kalian ini. Dinikmati saja lah apapun yang terjadi." Imel.


"Tuh denger Yang." Dodit.


"Ish... Kamu mah memang bisanya bikin doang." Dini.


Karena para pria harus kembali ke kantor maka para wanita pun berpindah tempat menuju gazebo samping kolam. Mereka berempat saling bernostalgia masa remaja. Diam-diam Teh Leli memperhatikan mereka berempat. Entah sejak kapan perasaan iri dan cemburu datang di hati Teh Leli terhadap Imel.


Betapa beruntungnya Imel yang bisa mendapatkan Bima yang notabene dari kalangan orang berada. Pria yang begitu tulus menyayanginya. Para sahabat yang begitu perhatian padanya. Dan selalu ada di saat seperti apapun. Di saat Imel kehilangan Ayahnya pun mereka ada. Bahkan Bima selalu ada mendampinginya.

__ADS_1


Sedangkan dirinya yang harus terus berjuang. Bahkan Pria yang di anggapnya suami pun entah dimana keberadaannya sekarang. Dirinya pun tak dapat menghubunginya. Bahkan saat Teh Leli menyusul ke kota dimana suami dan istri pertamanya tinggal pun tak ada satupun yang mengenalnya. Teh Leli bagai mendapatkan alamat palsu yang di berikan oleh suaminya.


🌹🌹🌹


__ADS_2