Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Trio Bumil


__ADS_3

Setelah menunggu akhirnya trio bumil itu keluar dari ruang pemeriksaan. Dokter Alya yang kebetulan mengetahui siapa ke tiga bumil itu pun keluar mengantarkan trio bumil itu keluar karena di beritahukan jika Imel pasti sudah berada di luar menunggu mereka. Saat melihat Imel Dokter Alya pun menghampiri dan menyapa Imel terlebih dahulu. Semua itu membuat atensi dari beberapa pasien yang masih berada di sana untuk menunggu giliran.


"Dokter Imelda."


"Dokter Alya...."


Grep...


"Masya Allah, apa kabar Dok? Seneng deh bisa ketemu Dokter lagi." Dokter Alya.


"Alhamdulillah baik Dokter. Bagaimana kabar Dokter?" Tanya Imel. Karena kebetulan Gendis tengah berada dalam gendongan Dodit.


"Baik Dok. Kangen deh lama ga ketemu. Denger kabar terakhir Dokter pindah ke LN." Dokter Alya.


"Iya Dok, hanya dua tahun sekarang pindah ke sini lagi. Di sana ga enak Dok jauh dari sodara." Imel.


"Dokter bisa saja. Habis vaksin anaknya?" Tanya Dokter Alya.


"Iya. Dan ternyata yang bertugas Dokter Ridwan." Imelda.


"Pasti dia terkejut melihat kedatangan Dokter?" Dokter Alya.


"Iya. Karena aku pun ga tau kalo dia yang bertugas." Imel.


Huaaa... Huaa...


Gendis menangis karena merasa di acuhkan oleh Imel.


"Astaga! Ini Gendis putriku Dok." Imel.


"Aduuuuh, cantik banget sih." Puji Dokter Alya.


"Terima kasih Onty. Kalo gitu aku permisi Dok. Kasian pasiennya nunggu lama." Pamit Imel.


"Baiklah Dok. Sering-sering main ke sini ya Dok." Dokter Alya.


"Pastinya Dok. Maaf akan selalu merepotkan Dokter karena trio bumil itu." Imel.


"Hahaha... Dengan senang hati." Dokter Alya.


Mereka pun berpamitan dan pulang bersamaan. Nita, Wulan dan Dini pun sudah terbiasa dengan interaksi Imel bersama dokter-dokter di sana. Mereka tidak protes sama sekali.


"Tante, ga kangen kerja lagi?" Dini.


"Terkadang kangen sih tapi kalo udah liat Athar sama Gendis meluap begitu saja." Imel.


"Apanya meluap?" Wulan.


"Rasa kangen ingin kerja lagi." Imel.

__ADS_1


"Kenapa bisa begitu?" Nita.


"Karena gw sekarang cuma ingin kedua putra dan putri gw sehat dan tidak kurang kasih sayang dari gw sama Mas Bima." Imel.


"Betul itu." Nita.


"Terus rencana kalian apa kedepannya? Biasanya para ibu-ibu suka bikin arisan atau apalah." Dodit.


"Iiih,,, Ayang.. Boleh kita arisan?" Dini.


"Asal jangan yang tidak-tidak." Dodit.


"Gw aja baru nyampe belum ada kepikiran mau ngapain." Imel.


"Setelah kita melahirkan kita fikirkan apa yang akan kita lakukan." Nita.


"Gw sih masih ada kafe yang masih gw jalanin walaupun 90% asisten gw yang jalanin." Wulan.


"90% asisten lu 9% laki lu ya Wu." Imel.


"Astaga! Kok Tante tau? Hahaha..." Wulan.


"Ya lu kerjaannya rebahan mulu di kasur makanya tu perut buncit lagi. Juan jadi bolak balik tempat tidur terus liat lu rebahan mulu." Imel.


"Lah, pengalaman Tan?" Dini.


"Hahahaa..."


"Lah, gw sih ga pake rebahan laki gw nyosor. Gimana kalo gw rebahan coba dah bunting ga kelar-kelar gw." Imel.


"Imelda iih,,, lu mah ga malu sama ponakan?" Tunjuk Nita pada Dodit.


"Lah, emang lu fikir ni ponakan gw polos-polos aja? Lu ga liat perut bini nya buncit." Imel.


"Hahahahaa...."


Beruntung Gendis tertidur pulas jadi tidak terganggu dengan kericuhan para ibu-ibu yang tak berfaedah. Berbeda dengan mobil yang satu lagi yang berisikan para baby sitter dan anak asuhnya. Mobil tampak sunyi karena anak asuh mereka semua tepar karena lelah bermain.


Athar paling terakhir memejamkan matanya karena Putri begitu posesif padanya membuat Athar tak bebas bergerak. Setelah Putri tertidur barulah Athar mencari posisi ternyaman untuk tidur. Berbeda dengan ketiga bocah lainnya Athar tidak di temani baby sitter karena Imel dan Bima memang tidak menggunakan jasa mereka.


Sampai di rumah Dodit tidak turun dirinya langsung kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda demi mengantarkan istri dan kedua sahabatnya memeriksakan kandungan mereka. Juga Imel yang harus membawa Gendis untuk vaksin.


"Waduh... Cucu-cucu Oma sudah selesai bermain? Bagaimana asik bermain bersama?" Tanya Mama Yuni yang juga baru saja tiba di rumah.


"No." Jawab Athar singkat padat dan jelas.


Bocah dua tahun itu pun berlari masuk ke dalam dengan menarik bibinya. Semua merasa aneh dengan sikap Athar. Dengan berlakunya Athar pecah begitu saja tangis Putri membuat Nita sang Mami merasa heran kenapa putrinya menangis.


"Loh, kenapa sayang?" Tanya Nita.

__ADS_1


"Huaaa.... Huaaaa....." Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir Putri hanya tangan yang terulur menunjuk ke arah Athar.


"Ini Bu, sejak tadi pergi Mba Putri Mau deket Mas Athar terus mungkin Mas Atharnya risiko jadi pergi ninggalin anak-anak begitu saja." Baby sitter Putri.


"Astaga! Mel, anak lu tuh." Ucap Nita sambil menahan tawanya.


"Kenapa anak gw? Nakalain Putri?" Tanya Imel santai. Pasalnya Athar bukan tipe anak yang jahil.


"Bukan, anak gw terpesona sama anak lu jadi sekarang dia nangis kejer di tinggal anak lu masuk ke dalam." Nita.


"Astaga! Putri... Padahal selama ini dia deket sama dua cowok ganteng biasa aja. Baru ketemu Athar langsung bucin." Wulan.


"Hahahaa..."


"Tau aja Putri yang berkualitas." Imel.


"Hm... Mulai deh narsisnya." Dini.


"Asem lu." Wulan.


"Lah, buktinya Putri anteng-anteng aja di deketin Aidan sama Gilang." Imel.


"Udah-udah ayo masuk anak gw tambah kejer nih." Nita.


Mereka semua pun masuk. Athar dengan santainya duduk di sofa menikmati minuman dingin yang di sodorkan bibi padanya. Putri mulai mereda tangisnya ketika Athar membiarkan Putri duduk disamping Athar.


"Bener-bener ya pesona Athar. Pas udah sekolah nanti udah pasti nih anak jadi interaksi cewek-cewek. Di tambah lagi Athar yang super cuek bikin cewek-cewek tambah meleleh." Dini.


"Siapa dulu dong Maminya." Imel.


"Ga sia-sia nikah sama om-om ya Mel? Dapet bibit unggul." Nita.


"Nah, itu dia hahahaha..." Imel.


"Belum lagi ini nih Gendis. Sebagai cucu Bapak Bambang gue kalah saing nih kayanya." Wulan.


"Tenang, tapi kan tetep lu yang udah laku duluan." Imel.


"Astaga! Jelas aja lah. Gw brojol lebih dulu. Anak gw aja brojol lebih dulu dari pada Gendis." Wulan.


"Jadi, tetep lu ga ke saing Wu. Lu tetep jaraknya." Nita.


"Hahaha... Si Alan lu." Wulan.


"Klo lu ajak Gendis jalan pasti orang ngira anak lu." Dini


"Astaga! gw ga bisa bayangin seumur gw punya adik seumur Gendis." Wulan.


"Lah, nyatanya elu ada." Nita.

__ADS_1


"Sekandung Nit. Klo ini kan sepupuan." Wulan.


🌹🌹🌹


__ADS_2