
Seperti yang di katakan Imel. Besok harinya Imel jaga siang lanjut malam dan pagi. Imel pun telah membawa persiapannya di dalam tas ransel miliknya. Dokter senior dan juga para perawat salut pada Imel yang mau jaga tiga sip sekaligus.
Tidak ada kata lelah baginya. Bahkan raut wajahnya senantiasa berseri-seri. Bahkan saat terakhir jaga pagi pun Imel masih dengan penampilan yang segar walau dirinya berjaga di IGD.
"Dokter bagaimana Ayah nya sudah pulih?" Tanya teman Imel sesama dokter.
"Alhamdulillah sudah. Kemarin sudah pulang." Imel.
"Walau anaknya dokter tidak serta-merta bisa mengobati ya Dok?" Perawat.
"Karena lain penyakit lain dokternya. Walaupun Ayah sakit saat saya berada di sisinya saya pun akan membawanya ke rumah sakit." Imel.
"Eh, maaf dok bukan maksud saya." Ucap perawat merasa tak enak.
"Tenang saja. Saya saja sakit masih minta obat sama apoteker kok." Imel.
"Ya iya Dok. Masa iya minta sama security. Mana punya dia." Dokter.
Siang hari selepas dinas Imel menyempatkan diri pulang ke kost terlebih dahulu mengistirahatkan dirinya dan menyempatkan mencuci pakaian kotornya. Saat membuka tas dan akan membereskan bawaannya tiba-tiba ada yang terjatuh dari tasnya.
"Astaga! Ini kan kartunya si Om. Aduh... Kenapa dia ga minta ya." Gumam Imel.
Imel pun kembali memasukkan kartu tersebut kedalam dompetnya karena takut terjatuh lagi. Sore hari Nita mengetuk pintu kamar Imel untuk mengajaknya bersama ke rumah Wulan.
"Mel,, Imel.." Panggil Nita.
"Ya Nit. Sebentar." Jawab Imel.
Imel pun keluar dengan pakaian casualnya. Dengan tas ransel di punggungnya.
"Mel, lu ga punya tas cewek gitu?" Nita.
"Lah, ini kan juga gas ransel cewek." Imel.
"Terserah Lu deh. Ayo. Mas Heru udah nungguin." Nita.
Sesampainya di rumah Wulan terlihat sudah banyak mobil di sana. Imel sedikit kaget karena ternyata keluarga Imel merayakan kelulusan Imel, Dini dan Nita bersama keluarga besarnya juga.
"Gw saltum ga sih Nit?" Tanya Imel yang kurang percaya diri. Pasalnya Imel hanya mengenakan celana jeans sebetis dan kaos longgar lengan pendek saja dengan rambut yang di ikat sembarang.
"Kayanya ngga deh. Gw juga pake baju biasa aja kok." Nita.
"Astaga! Baju biasa lu bilang dres kaya gitu?" Imel.
"Biasa dong Mel. Kan emang gw biasa pake dres kaya begini." Nita.
"Iya juga sih." Imel.
"Udah-udah. Kalian mau bahas baju atau mau ikut keluar?" Heru.
"Ikut keluar." Jawab Imel dan Nita bersamaan.
__ADS_1
Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah Wulan. Dan di sana audah ramai keluarga Wulan dan ada juga Dini, Dodit dan Juan yang sudah ikut bergabung.
"Mel, Nit, Mas Her. Ayo sini gabung." Ajak Dini.
Imel menyapa orang tua Wulan, Dodit dan juga Opa dan Oma Wulan terlebih dahulu sebelum dirinya ikut bergabung dengan yang lainnya. Imel tak melihat Bima di sana mungkin saja Bima tak hadir. Nita dan Heru pun mengikuti Imel menyapa semuanya.
"Apa kabar Bu dokter?" Sapa Yuni.
"Eh, aduh. Biasa aja deh Oma jadi malu." Jawab Imel sesantai mungkin.
"Bagaimana keadaan Ayah kamu Mel?" Saras.
"Alhamdulillah semakin membaik Tan." Imel.
"Syukurlah. Kamu ga di jemput Bima?" Saras.
"Hah! Eh, Imel sama Nita Tan." Imel.
"Kenapa ga sama Bima Mel?" Melati.
"Ya ngga kenapa-kenapa Tante." Imel.
"Nah, tuh Bima." Tunjuk Yuni pada putra bungsunya yang baru saja datang.
Sepertinya Bima baru saja pulang kantor di lihat dari setelan celana dan kemeja panjang yang di gulung sampai sikut menambah ketampanannya.
"Astaga! Kok cakep ya." Batin Imel.
"Kenapa Mel?" Saras.
"Hah! Eh, ngga Tan. Baru ke ingetan sesuatu. Imel gabung dengan yang lain dulu Tante-tante Oma." Pamit Imel.
Imel pun bergabung dengan yang lainnya. Senyum yang terbit ketika melihat Imel seketika menghilang kembali saat Imel bergabung bersama teman-temannya.
Imel tampak melamun saat sedang menikmati makanannya. Wulan, Dini dan Nita saling pandang melihat Imel yang terus melamun.
"Kenapa?" Tanya Wulan tanpa suara.
Dini dan Nita hanya mengangkat kedua bahunya tanda tak tau apa yang terjadi dengan Imel. Juan, Heru dan Dodit pun penasaran dengan sikap Imel.
Sementara Imel berfikir bagaimana cara dia mengembalikan kartu milik Bima. Tak mungkin juga dirinya diam saja tanpa mengembalikkan kartunya. Menemuinya di kantor bukan ide yang baik juga karena dulu pernah ke kantor Bima.
Namun, mengembalikan sekarang di saat semua keluarganya berkumpul juga bukanlah ide yang bagus. Tadi saja Ibu dan kedua kakaknya menyindir tentang kenapa dia ga datang bersama Bima. Bagaiman reaksi mereka jika Imel mengembalikkan kartu Bima.
"Hufh.."
Terdengar helaan nafas berat dari mulut Imel. Semua pun menoleh padanya. Imel yang menyadari semua pandangan tertuju padanya tersenyum kaku dan berusaha menetralkan sikapnya.
"Ada yang di fikirkan Mel?" Dini.
"Hah! Ng ngga kok." Jawab Imel gugup.
__ADS_1
"Cerita aja Mel siapa tau lebih lega." Wulan.
"Eh, ngga ada kok." Imel.
Imel pun memutuskan mengirim pesan pada Bima meminta solusi bagaimana mengembalikkan kartu miliknya.
"Om, Maaf. Imel mau balikik kartu punya Om yang ngga sengaja ke ambil sama Imel. Tapi, gimana ya? Imel takut semua salah faham karna kartu Om ada di Imel." Tulis Imel.
Bima membaca pesan dari Imel kemudian bangkit dari duduknya. Bima keluar bergabung dengan para sahabat Wulan duduk di samping Imel. Wulan, Dini dan Nita saling pandang. Sementara Imel di buat gugup karena Bima duduk di dekatnya.
Bima menyambar sosis di piring Imel dan melahapnya. Imel salah tingkah karena malu dan takut bercampur aduk. Imel melihat ke segala arah dan menemukan ketiga sahabatnya menatap ke arahnya.
"Aduh, kenapa Om malah ke sini sih?" Gumam Imel yang masih bisa di dengar Bima.
"Kenapa?! Santai aja ga apa-apa." Ucap Bima sambil menatap Imel.
Deg...
"Astaga! Kenapa nih jantung gw. Aduh, semoga si Om ga denger." Batin Imel.
"Aduh,, kenapa dia tambah manis sih kalo lagi gugup gini." Batin Bima.
"Hem.."
Suara Wulan membuyarkan lamunan keduanya.
"Ngapain Om disini?" Wulan.
"Makan. Emang ga boleh?" Jawab Bima sebisa mungkin agar tidak terlihat gugup.
"Ceh, modus. Di dalem juga kan ada." Wulan.
" Mau yang ini." Bima mengambil satu lagi sosis di piring Imel.
"Mel," Panggil Wulan.
"Hah! Iya." Imel.
"Main rahasia Lu sekarang?" Wulan.
"Apaan?" Imel.
"Kayanya gw mau dapet Tante nih." Dodit.
"Kayanya ada yang mau nyalip gw nih Dit." Wulan.
Sementara Bima masih santai makan sedang Imel sudah di buat kelimpungan. Kemudian dengan tergesa Imel mengeluarkan kartu milik Bima dan mengembalikannya.
"Eh, sebentar. Apaan itu? Kok bisa kartu Om sama Imel?" Wulan.
🌹🌹🌹
__ADS_1