
Juan telah berhasil mengucapkan janji sucinya. Kini saatnya Wulan bertemu dengan kekasihnya yang telah berubah status menjadi suami setelah Juan mengucapkan janji sucinya.
Wulan di apit oleh Dini dan Imel berjalan menuju meja dimana Juan berada. Sementara Nita berada di belakangnya. Wulan terlihat anggun mengenakan kemeja broken white dengan kain batik.
Juan tampak memandang Wulan tak berkedip. Wulan terus mengulas senyumannya sepanjang perjalanannya. Pandangannya terus tertuju pada Juan.
Setelah mengantarkan Wulan Imel dan yang lainnya duduk bersama dengan pasangan masing-masing. Imel di samping Bima, Dini di samping Dodit dan Nita di samping Heru. Ada sepasang mata memandangi Imel tak berkedip.
"Mel, ada Anggi." Bisik Dini.
"Hah! Ngapain dia?" Imel.
"Entahlah." Dini.
"Kenapa?" Bima.
"Hah! Ga kenapa-kenapa." Imel.
Bima pun membawa tangan Imel untuk di genggamnya. Imel pun hanya bisa pasrah. Sementara mata Anggi semakin membulat melihat tangan Imel di genggam Bima.
Saatnya sesi foto bersama. Imel, Dini dan Nita berfoto berempat hanya bersama Wulan kemudian di lanjut bersama Juan dan terakhir bersama pasangan masing-masing. Betapa geramnya Anggi melihat Imel dekat dengan Bima.
Anggi merupakan mantan Raka hasil merebutnya dari Imel. Anggi kurang suka pada Imel sejak duduk di bangku sekolah. Entah apa yang membuatnya tak menyukai Imel. Setelah putus bahkan batal menikah dengan Raka Anggi berhasil menggaet seorang pria yang di ketahuinya sebagai pengusaha.
Anggi belum mengetahui jika lelaki yang kini bersama dengannya adalah anak buah dari Bima. Yang Anggi ketahui hanya tak rela melihat Imel bahagia dengan pria manapun. Apalagi jika Anggi mengetahui latar belakang pria tersebut.
Anggi memang pintar namun kepintarannya selalu terkalahkan oleh Imel. Dan semua orang menyukai Imel mungkin itu yang membuatnya merasa tersaingi oleh Imel padahal Imel sendiri tak merasa di saingi atau menyaingi.
Saat Imel mengambil minuman dengan sengaja Anggi menumpahkan minuman di gaun yang di kenakan oleh Imel. Dan semua orang melihat jika Anggi sengaja menumpahkannya. Bahkan Yuni melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Up's! Maaf tidak sengaja. Makanya kamu kalo jalan lihat-lihat." Anggi.
"Terima kasih sudah mengingatkan." Imel.
Anggi sangat kesal dengan jawaban Imel membuat dirinya semakin ingin berbuat kasar. Namun, baru saja tindakannya akan di lakukan datang dua orang lelaki bertubuh kekar dengan menggunakan kaos hitam mendekati Imel.
"Nona Imel, apa Anda baik-baik saja?" Tanya salah satu di antara mereka.
"Hah! Iya. Saya baik-baik saja." Jawab Imel sedikit takut.
Imel tidak mengetahui siapa dua orang tersebut yang tiba-tiba datang di hadapannya. Begitupun dengan Anggi yang merasa sedikit takut dengan kehadiran dua pria tersebut.
__ADS_1
"Kami di tugaskan oleh Nyonya Yuni." Bisik Salah satu di antara mereka.
"Hah! Terima kasih." Bisik Imel.
Bukan tanpa alasan Yuni mengirim dua orang tersebut. Bima sedang bersama rekan bisnisnya dan Yuni menangkap gelagat tak baik dari Anggi untuk Imel maka dari itu Yuni menghubungi orang kepercayaannya untuk menjaga Imel. Yuni tak ingin terjadi sesuatu dengan calon menantunya itu.
Bima melihat dua orang bodyguard di dekat Imel. Bima mengenalinya dan Bima mengernyitkan dahinya mengapa dua orang itu bisa berada di sana. Yuni menepuk lengannya dan berbisik padanya.
"Mama yang meminta mereka menjaga Imel." Bisik Yuni di sela obrolan bersama rekan bisnis mereka.
Karena acara pernikahan Wulan dan Juan di langsungkan dari akad menuju resepsi membuat semua di sibukkan dengan undangan yang datang. Bahkan rekan bisnis mereka pun datang satu persatu.
"Kenapa Ma?" Tanya Bima berbisik.
"Nanti kamu lihat di cctv." Yuni.
Bima pun berpamitan pada rekan bisnisnya sejenak untuk menghampiri Imel. Imel duduk sendiri menikmati hidangan yang ada. Karena Nita dan Dini tengah sibuk dengan pasangan masing-masing.
"Sayang, maaf ya. Kamu jadi sendiri." Bima.
"Ga apa-apa Mas. Udah selesai?" Imel.
"Owh! Mas mau sesuatu biar Imel ambilkan." Imel.
Bima melihat ke arah gaun Imel ketika Imel berdiri.
"Kamu duduk saja Mas bisa ambil sendiri nanti. Itu baju kamu kenapa basah dan bernoda?" Bima.
"Tadi ga sengaja terkena tumpahan air Mas." Imel.
"Sayang ayo kita ganti." Ajak Bima.
"Eh, nanti ga sama lagi gaun Imel dengan yang lainnya." Rengek Imel.
"Sama." Ucap Bima menarik tangan Imel.
"Carikan gaun yang sama seperti yang di pakai Imel sekarang. Saya tunggu di kamar saya." Titah Bima pada kedua bodyguard yang tadi menemani Imel.
Tanpa menjawab keduanya bergegas pergi ke butik dimana Imel mendapatkan gaun tersebut kemarin. Imel dengan pastah mengikuti langkah Bima menuju kamarnya. Di dalam lift Bima mengirimkan pesan pada seseorang untuk mengirimkan rekaman cctv di dalam ballroom.
"Kamu lepas gaun itu nanti di ganti yang baru." Titah Bima begitu sampai di kamar pribadinya.
__ADS_1
"Hah! Terus Imel ga pake baju di sini?" Imel.
"Kalo kamu mau ga apa-apa." Goda Bima.
"Mas Bima... Iiih,, dasar om-om mesum." Kesal Imel.
"Hahahaha... Ngga dong sayang. Kamu bisa pake kemeja Mas yang ada di lemari sana. Nanti setelah gaunnya sampai kamu ganti lagi dengan gaun yang baru. Yang ini basah nanti kamu masuk angin." Ucap Bima.
"Owh! Ya udah. Mas jangan ngintip." Imel.
"Kenapa Mas harus mengintip? Bukannya Mas boleh melihat semuanya?" Bima.
"Mas Bima!" Teriak Imel dengan wajah yang memerah membuat Bima merasa gemas.
Sementara Imel mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi Bima membuka ponselnya melihat rekaman cctv yang dikirimkan oleh seseorang dan Bima membuka matanya sempurna melihat kejadian yang membuatnya kesal.
Bima menghubungi seseorang untuk menyelidiki siapa Anggi dan kenapa Anggi berbuat seperti itu pada Imel. Bahkan Bima mengetahui jika Dini berbisik menyebutkan nama seseorang tadi ketika mereka baru saja mengantarkan Wulan.
Terdengar suara ketukan di pintu. Bima segera membukanya dan tak membiarkan orang lain masuk kedalam kamar pribadinya. Dan ternyata salah satu dari bodyguard tadi membawakan paper bag yang berisikan gaun Imel.
"Terima kasih. Kamu kembali bertugas lagi." Bima.
"Baik Bos." Bodyguard.
Bima masuk kembali dan memberikan paper bag yang berisikan gaun tersebut pada Imel yang masih berada di dalam kamar mandi.
"Sayang, ini gaunnya." Teriak Bima di balik pintu kamar mandi.
"Loh, kok cepet banget." Imel.
"Udah ga usah di fikirkan yang penting kamu dapet ganti gaun dengan warna yang sama walau berbeda model." Bima.
"Ish... Iya. Makasih Mas Om." Imel.
"Eh,"
Belum sempat Bima bicara pintu kamar mandi sudah kembali di tutup oleh Imel.
"Awas ya sayang.."
🌹🌹🌹
__ADS_1