
Bima dan Papa Bambang pun tiba di rumah sakit saat Wulan telah berhasil melahirkan putra pertamanya. Wulan telah di pindahkan ke ruangan vvip. Di sana sudah ada Mama dan Papa Juan. Saras dan suami juga Dodit dan Heru tak lupa juga Juan si Bapak baru.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam..."
"Hai,, keponakan." Bima.
"Om, Opa. Mana Oma sama Tante?" Tanya Wulan.
"Oma sama Tante di rumah." Bima.
"Ih, jahat deh kalian. Masa semua sahabat Wu di larang datang sih. Dini, Nita sekarang Imel juga." Rajuk Wulan.
"Sorry Wu, gw ngeri Dini ikutan ngeden soalnya." Dodit.
"Iya Wu. Apalagi Nita masih lama ke perkiraan lahirnya." Heru.
"Apalagi istri Om. Beuuh... Jangan sampe deh dia ikutan ngeden kaya kamu tadi." Bima.
"Emang kenapa?" Saras.
"Kehamilan Imel masih muda. Gimana jadinya kalo dia ikutan ngeden." Papa Bambang.
"Hah! Papa serius? Imel hamil Pa?" Saras.
"Hus... Tuh tanya suaminya. Kok tanya Papa." Papa Bambang.
"Eh, iih Papa mah suka becanda gitu deh. Sama aja. Bener Bim?" Saras.
"Iya Kak Alhamdulillah." Bima.
"Om yakin kan bukan lagi ngeprank?" Wulan.
Plak
"Aww.."
"Sejak kapan Om becanda. Emangnya kamu." Bima.
"Om, Istri Juan baru lahiran loh." Bela Juan.
"Lagian otak istri kamu tuh. Sempet-sempetnya becanda." Bima.
"Om, jatuh harga diriku di hadapan Mama dan Papa mertua." Wulan.
"Hahaha..."
Suasana kamar Wulan yang ramai pun bertambah ramai dengan kehadiran Baby Boy yang baru saja di bawakan oleh suster dengan di kawal oleh Melati dan suami. Karena Melati takut jika putra pertama Wulan tertukar.
"Wah,,, Cicit Opa gantengnya.." Puji Papa Bambang.
"Makasih Opa." Ucap Wulan menirukan suara anak-anak.
"Mirip Juan semua. Lu ga kebagian Wu." Dodit.
"Sepupu lu cinta mati soalnya sama gw." Juan.
"Liat aja Ntar anak-anak kalian." Wulan.
__ADS_1
"Wuih, so pasti anak-anak kita mirip kita dong. Apalagi anak gw." Dodit.
"Untung mirip Juan ya Wu." Bima.
"Maksud Om?" Wulan kesal.
"Ya kalo mirip kamu. Masa iya anak cowok cantik sih. Ya masih mending mirip Juan sama-sama tampan kan? Tapi, lebih tampan anaknya sih." Bima.
"Om Bima iiihh,,, Wu do'ain anaknya mirip Imel plek ketimplek." Wulan.
"O...ya Nda masalah kalo anaknya perempuan memang harus mirip Mamanya." Bima.
"Jebul anaknya Cowok gimana Om?" Heru.
"Nda apa-apa. Yang penting gagah dan berwibawa kaya Papanya." Bima.
"Eleeh,,, sudah-sudah cucu ku ke brisikan kalian ini." Saras.
"Maaf ya san. Kelakuan mereka memang ga patut di contoh." Ucap Saras lagi pada orang tua Juan.
"Sama saja. Saudara-saudara Juan juga ya begini ini. Ga masalah. Malah jadi asik to ga tegang." Mama Juan.
"Gimana Imel udah baikan Bim?" Melati.
"Sudah Kak. Sudah di rumah juga." Bima.
"Pantas akhir-akhir ini dia ga mau ketemu orang. Ternyata bawaan anak kamu ya Bim?" Melati.
"Memangnya sampe gitu Om?" Wulan.
"Iya. Makanya acara tujuh bulan Dini kemarin kita ga hadir. Karena Imel lagi rewel-rewelnya." Bima.
"Sabar Om. Nanti juga terlewatkan masa-masa paling asik itu." Heru.
"Belum Om." Dodit.
"Jangan sampe deh. Mudah-mudahan ngga yang aneh-aneh." Bima.
Karena waktu sudha hampir tengah malam semua pun membubarka diri pulang ke rumah masing-masing. Hanya menyisakan Juan dan Wulan saja sesuai permintaan Wulan dan Juan. Mereka berdua sepakat akan mengurus sendiri tanpa bantuan Mama Wulan dan Mama Juan.
Hingga hampir dini hari baby masih aman hanya terdengar rengekan-rengekan kecil darinya. Namun, pagi hari entah apa yang terjadi pada bayinya. Wulan dan Juan di buat kewalahan karena bayinya terus menangis hingga suster datang ke ruangannya dan memeriksa bayi Wulan. Dan ternyata baby boy nya pup sehingga membuatnya tak nyaman namun Wulan dan Juan belum mengerti akan tangisannya.
"Owh! Ternyata aku pup Mama, Papa." Suster.
"Astaga! Maafkan Mami sayang. Mami tidak mengerti ya." Ucap Wulan sedih.
"Tidak apa-apa Mami, nanti Mami bisa belajar lagi." Suster.
"Terima kasih Suster." Juan.
"Sama-sama Tuan, Nyonya. Mari." Ucap Suster setelah selesai menggantikan popok baby boy.
Setelah nyaman Baby Wulan dan Juan pun kembali terlelap setelah kembali melahap ASI langsung dari sumbernya. Karena alhamdulilah ASI Wulan keluar dengan lancar setelah baby keluar. Membuat Wulan tak kesulitan untuk mengasihi. Juan selalu setia mendampingi Wulan ketika mengasihi.
"Sudah bobo Mas. Tolong simpan lagi ke boksnya." Wulan.
"Oke. Anak Papi udah kenyang ya. Ayo bobo ya sayang." Ucap Juan ketika akan mengangkat bayinya.
Juan dan Wulan sama-sama belajar menjadi orang tua. Mereka tak mendapatkan bantuan dari orang tua masing-masing seperti keinginan mereka. Tapi, entah sampai berapa hari kedepan karena setelah Juan kembali ke kantor pasti Wulan akan sangat kerepotan.
__ADS_1
Pagi hari Suster memandikan bayi Wulan. Dengan teliti Wulan memperhatikan semua prosesnya agar dirinya bisa melakukannya di rumah tentunya dengan pengawasan Mami Saras atau Mama Juan terlebih dahulu untuk mencegah terjadi sesuatu yang tidak di inginkan terjadi.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam."
"Waaah,, cucu Oma Sudah wangi. Sudah mandi rupanya." Ucap Mami Saras saat datang menjenguk cucu pertamanya.
"Sudah Oma.." Jawab Wulan menirukan suara anak kecil.
"Mami sendiri?" Tanya Juan.
"Sama Papi. Itu ada rekan bisnisnya di depan. Katanya istrinya juga abis melahirkan." Mami Saras.
"Waduh, masih muda dong Mi?" Wulan.
"Iya, istrinya masih muda. Klo teman Papi ya udah kaya Papi." Mami Saras.
"Wah, ada yang lebih dari Om Bima Yang." Juan.
"Hus,, Eh, iya juga ya." Mami Saras.
"Hahaha...."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Adududu.... Mana cucu Opa? Wah,, sudah wangi rupanya." Sapa Yoga suami Saras.
"Sudah dong Opa."Jawab Wulan.
"Pi, tadi temen Papi nganter istrinya bukan anaknya?" Mami Saras.
"Istrinya Mi." Papi Yoga.
"Istrinya masih muda Pi?" Juan.
"Masih. Dua tahun di atas kamu." Tunjuk Papi Yoga pada Wulan.
"Eh,ga salah Pi?" Wulan.
"Ngga. Kan temen anaknya." Papi Yoga.
"Aduh, kok bisa pi?" Mami Saras.
"Dia udah lama menduda sejak anaknya usia lima tahun. Terus istrinya sekarang itu suka main sama anaknya nginep di rumah juga jadi katanya kepincut gitu terus di nikahin deh." Papi Yoga.
"Terus jadi anaknya sama anaknya sekarang jauh dong Pi jaraknya?" Wulan.
"Anaknya udah punya anak juga Wu." Papi Yoga.
"Ya Tuhan. Jadi nanti cucu sama anak dong ya Pi?" Mami Saras.
"Iyah, kaya Imel. Anak kamu Wu cucunya Imel nanti Imel juga punya anak." Papi Yoga.
"Iya tapi kan itu Om Pi." Wulan.
"Iya juga ya." Papi Yoga.
__ADS_1
"Hahahaa..."
🌹🌹🌹