
Imel banyak diam setelah mendengar cerita Teh Leli yang bekerja di rumahnya jika dia dan suaminya berpisah tempat tinggal karena memang suaminya memiliki istri lain di kota sana. Teh Leli begitu berlapang dada menerima madu suaminya.
Imel berfikir bagaimana jika Bima memperlakukannya sama dengan Teh Leli. Apalagi dirinya dan Bima hanya sebatas kekasih. Apalagi hingga sore ini Bima belum juga membalas pesannya. Bahkan telfonnya tak kunjung di angkat.
"Mel, lu kenapa?" Tanya Dini yang penasaran karena Imel terus diam sejak kedatangan mereka.
"Hah! Ga kenapa-kenapa." Imel.
"Yakin Lu?" Dini.
"Yakin. Emang kenapa?" Imel.
"Om Bima belum di kabarin kalo kita udah sampe?" Dini.
"Udah.". Jawab Imel singkat.
"Lu jangan punya fikiran macem-macem nanti jadi penyakit." Dini.
"Apaan sih Lu." Imel.
"Gw tau yang lu fikirin Mel. Lu jangan khawatir. Tuh liat Mas Dodit dia juga langsung kerja begitu sampai di sini." Dini.
"Hah! Terus apa hubungannya sama gw?" Imel.
"Ya Om Bima juga pasti sama lagi sibuk kaya Mas Dodit." Dini.
"Hm... Udah ah. Mandi yuk, makan gw laper." Imel.
"Ya sono. Lu yang belum mandi ajak-ajak gw." Dini.
Imel pergi ke kamar mandi sementara Dini keluar kamar dan bergabung bersama Ibu Maryam, Anya dan kedua anak Anya. Teh Leli di dapur menyiapkan makan malam.
"Imel mana Din?" Anya.
"Mandi Kak." Dini.
"Loh, baru mandi dia?" Anya.
"Iya. Udah denger cerita Teh Leli dia bengong terus Kak." Dini.
"Astaga! Imel selalu begitu kefikiran apa yang ga seharusnya dia fikirkan." Ibu Maryam.
"Iya Bu. Padahal kita selalu mengingatkan loh Bu." Dini.
"Yah,, begitulah dia nak." Ibu Maryam.
Tak lama Teh Leli memberitahukan jika makan malamnya sudah siap. Tapi, Imel tak kunjung turun. Dini memberitahu Dodit jika makan malam sudah siap. Anya memanggil Imel. Sedangkan Ibu Maryam dan kedua anak Anya pergi ke meja makan lebih dulu.
Anya mengetuk pintu kamar Imel terlebih dahulu tapi tak kunjung mendapatkan jawaban. Anya pun berinisiatif langsung membuka pintu perlahan. Di lihatnya Imel tengah duduk di samping tempat tidur masih menggunakan bathrobe dan handuk kecil di kepalanya.
__ADS_1
"Mel," Panggil Anya.
Imel tak menjawab panggilan Anya. Anya pun berjalan perlahan mendekati Imel. Ternyata Imel tengah menangis memegang ponselnya.
"Mel," Panggil Anya lagi.
Imel menoleh pada Anya dengan sisa air mata di pipinya.
"Kenapa?" Tanya Anya ikut duduk di bawah.
Imel menghambur memeluk Anya dan tangisnya pecah dalam pelukkan Anya. Anya mengusal lembut punggung adik iparnya. Imel memang dekat dengan kedua kakak iparnya. Tak ada jarak dan batas di antara mereka.
Setelah Imel lebih tenang Anya melepaskan pelukannya dan menatap wajah adik iparnya yang sembab. Anya mengusap sisa air mata di pipi Imel.
"Ada apa?" Tanya Anya pelan.
"Mas Bima." Imel.
"Kenapa?" Anya.
"Apa Mas Bima selingkuh ya Kak? Sejak siang tadi Imel hubungi ga bisa Imel chat ga ada balasan. Imel hubungi lagi berkali-kali juga ga di angkat." Ucap Imel dengan sisa isak tangisnya.
"Ssst... Sayang, jangan pernah berfikiran negatif pada pasangan kita. Apalagi dia sekarang sedang berjuang mencari nafkah untuk kita." Anya.
"Tapi,," Imel.
"Tidak ada tapi. Sekarang pakai baju kamu kita turun makan. Berfikir dengan perut kosong akan semakin kacau. Maka dari itu perut kita harus terisi dulu. Ayo, Kakak udah laper." Anya.
"Sudah ayo cepet." Anya.
Imel pun menuruti perkataan Anya. Imel segera mengenakan pakaiannya dan ikut bersama Anya turun untuk makan malam. Saat sampai di meja makan tak ada satupun yang bertanya ada apa dengan wajah sembab Imel.
Ibu Maryam sudah memberi tahu Dini dan Dodit sebelumnya apapun yang mereka lihat jangan banyak bertanya pada Imel karena Imel paling tidak suka di perlakukan seperti itu.
Imel menikmati makan malamnya bersama yang lain. Selesai makan malam Imel berkumpul bersama keluarga di ruang keluarga. Imel menyandarkan kepalanya di pangkuan Ibu Maryam.
"Besok kalian pergi jam berapa ke rumah Nita?" Ibu Maryam.
"Mungkin selepas subuh Bu." Imel.
"Pagi sekali Dek?" Anya.
"Kan malam ini kita ga kesana Kak." Imel.
"Memangnya jam berapa besok acaranya?" Ibu Maryam.
"Besok pagi jam sepuluh." Dini.
"Oalah.. Ibu tidak bisa hadir bagaimana?" Ibu Maryam.
__ADS_1
"Loh, Ibu mau kemana?" Imel.
"Ibu mau ke acara keluarga Anya besok." Ibu Maryam.
"Loh, acaranya siapa Kak?" Imel.
"Itu adiknya Ibu syukuran gitu." Anya.
"Owh! Ya udah ga apa-apa nanti Imel kasih tau Nita sama ibunya." Imel.
"Ga apa-apa nanti kita ke sana aja dulu sebelum pergi dek." Anya.
"Owh! Begitu ya sudah." Imel.
"Stela, Bian. Kalian belum ngantuk?" Tanya Imel yang melihat Stela dan Bian yang masih asik bermain bersama Dodit.
"Belum Tante." Jawab Stela.
"Asik banget mereka main dari tadi." Dini.
"Dodit suka anak kecil ya Din?" Anya.
"Iya Kak. Adek ku juga deket banget sama Mas Dodit. Bahkan Adek lebih sering berkabar sama Mas Dodit ketimbang aku." Dini.
"Wealah..." Anya.
Imel memejamkan matanya terbuai dengan usapan lembut Ibu Maryam. Dini dan Anya saling menatap melihat Imel yang tertidur di pangkuan Ibu Maryam.
"Beginilah Nak Dini Imel." Ibu Maryam.
"Iya Bu. Imel memang mandiri tapi manjanya juga tidak pernah lepas pada kami. Karena di antara kami berempat Imel anak bungsu sendiri. Wulan, saya dan Nita anak sulung." Jelas Dini.
Setelah cukup larut Ibu Maryam membangunkan Imel perlahan agar Imel bisa pindah ke kamarnya. Dini membantu membangunkan Imel. Sedang Anya sudah pergi ke kamar bersama kedua anaknya.
Dodit pun sudah masuk ke dalam kamar. Teh Leli, Dini dan Ibu Maryam masih menunggu Imel terbangun. Tak lama Imel yang merasa tidurnya terusik pun terbangun.
"Hm... Ada apa?" Tanya Imel dengan suara khas bangun tidur.
"Pindah tidurnya sayang." Ibu Maryam.
"Aduh, maaf Bu. Imel buat Ibu pegal ya?" Imel.
"Tidak sayang. Hanya saja ini sudah malam. Tidurlah. Bukannya besok pagi kalian harus ke rumah Nita." Ibu Maryam.
"Iya Bu. Maaf ya Bu. Ibu juga istirahat." Imel.
Ibu Maryam pun bangun dan berjalan ke kamar di antar Teh Leli. Imel dan Dini masuk ke dalam kamar Imel. Sejak tadi Imel melupakan ponselnya. Imel tak perduli lagi jika Bima tak bisa di hubungi.
Setelah masuk kamar. Imel dan Dini membersihkan wajahnya kemudian naik keatas tempat tidur. Imel memeluk Dini dan Dini pun membalas pelukannya. Dini tau Imel sedang galau karena Bima.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk masuk ke alam mimpi mereka. Dini dengan cepat tidur karena lelah sepanjang hari telah melewati perjalanan panjang. Sedang Imel karena lelah menangis juga.
🌹🌹🌹