
Setelah semua berpamitan menyisakan Wulan dan Juan yang memutuskan menginap di rumah Imel sampai Imel dan Bima pergi berbulan madu. Karena Wulan terus merengek meminta untuk tetap bersama Imel sampai Imel pergi. Saat Imel akan berganti pakaian ke kamarnya Wulan mengikutinya namun di halangi oleh Bima.
"Eit's! Boleh nempel sama Istri Om asal tidak ikut ke dalam kamar." Tolak Bima.
Wulan memonyongkan bibirnya karena larangan Bima.
"Tapi, Wu mau bantu Tante ganti baju Om." Rengek Wulan.
"No! Biarkan Om yang membantu Tante kamu. Kamu mandi saja sana sama Juan." Usir Bima.
"Om.... Ih,, nyebelin. Wu mau sama Imel..." Rajuk Wulan.
"No!" Bima.
"Om jahat!" Wulan.
"Kamu boleh minta apapun asal jangan Tante kamu." Bima.
"Tapi Wu mau Imel Om. Iih,,, pelit." Jerit Wulan.
Ibu Maryam yang berada di dekat mereka menghampiri keduanya.
"Ada apa Bima, Wulan?" Tanya Ibu Maryam.
"Om Bima jahat Bu.. Wu mau sama Imel Om larang. Om jahat huhuhu..." Adu Wulan pada Bima.
Bima menarik nafasnya dalam. Imel yang mendengar suara ribut-ribut di luar kamarnya pun kembali keluar kamar dengan masih mengenakan gaun pengantinnya. Begitupun Juan yang mendengar teriakan dan tangisan Wulan segera lari ke atas.
"Ada apa?" Tanya Imel dan Juan bersamaan.
Semua pun di buat panik dan segera menyusul.
"Huaaa... Mas... Om Bima jahat ga bolehin Wu sama Imel huhuhu..." Adu Wulan pada Juan.
Semua pun menrik nafas dalam mendengar penjelasan Wulan. Jelas saja Bima melarang Wulan berdekatan dengan Imel karena mereka pengantin baru apalagi keduanya di telah di pingit tidak boleh bertemu bahkan berkomunikasi via telfon.
Itulah yang membuat Bima tak rela. Rasa rindunya sudah tak tertahankan lagi. Apalagi saat ini Imel bisa di apakan saja olehnya karena telah halal. Buma mendengus kesal melihat tingkah keponakannya. Bima melupakan jika Wulan tengah berbadan dua. Dengan menjinjing gaunnya Imel mendekati Wulan.
"Jangan nangis nanti ponakan gw jadi cengeng. Udah ayo masuk kamar gw." Ajak Imel.
"Yang.." Protes Bima.
"Sama Mas itu bisa kapan aja Mas. Udah diem klonga mau cucunya ileran." Imel.
"Heh!" Bima.
__ADS_1
Bima nampak berfikir setelah Imel dan Wulan berjalan beriringan menuju kamar Imel yang akan menjadi kamar mereka beruda tentunya.
"Tunggu sayang." Cegah Bima.
"Apa lagi Mas ku sayang?" Tanya Imel lembut.
"Rasanya ada yang salah deh." Bima.
"Apa?" Imel.
"Kenapa kamu menyebut anak dalam perut Wulan keponakan sementara padaku cucu?" Bima.
"Karena Mas itu Omnya Wulan kenapa menolak tua ya?" Tanya Imel di akhiri dengan tawa.
"Dan kau dinikahi pria tua itu Mel jangan lupakan itu." Sambung Anya gemas.
"Astaga! Jadi anak lu nanti panggil gw Oma?" Tanya Imel seakan syok dengan pertanyaannya sendiri dan Wulan hanya mengangguk dengan menampilkan deretan gigi putihnya.
"Aaaa... Ga mau... Gw belum Oma-oma." Teriak Imel pergi begitu saja masuk kedalam kamarnya.
"Mel," Panggil Wulan.
"Sayang, sebaiknya kita istirahat dulu saja di kamar ya. Imel masih belum percaya jika anak kita nanti memanggilnya dengan sebutan Oma. Biarkan Imel tenang dulu ya. Saat makan malam nanti Imel pasti sudah lebih baik." Bujuk Juan.
Seakan mendapat angin segar Bima pun segera melesat kekamar Imel. Wulan pun mau di bujuk ke kamar oleh Juan. Ibu Maryam dan yang lainnya hanya bisa tertawa dan membubarkan diri mereka menuju tempat masing-masing.
"Sayang," Panggil Bima.
"Mas" Imel.
"Kenapa tertawa? Kamu sengaja bikin drama ya?" Tanya Bima mendekati Imel.
Imel pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Bima sunggung takjub dengan ide yang selalu ada di otaknya. Andai saja dirinyavtadi tidak begitu peka dengan ucapan wanita yang sudah menyandang status istrinya sekarang mungkin drama Imel tidak akan berhasil.
"Ternyata kamu jail juga ya." Ucap Bima mencolek hidung Imel.
"Abis masa iya pengantin baru mau di ganggu sih." Ucap Imel menutup mulutnya.
"Memangnya pengantin baru kenapa sayang?" Goda Bima memeluk pinggang Imel dan mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi dengan Imel.
Wajah Imel terlihat memerah menahan malu dengan ucapannya sendiri apalagi Bima tak memberi jarak padanya. Hal itu membuat Bima semakin gemas dan tak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak ******* benda kenyal milik Imel.
Skip ðŸ¤
Saat jam makan malam. Bima dan Imel keluar dengan wajah lebih segar. Bima memang sengaja menahan hasratnya sore tadi karena Bima ingin melakukannya pertama bersama Imel saat di tempat mereka berbulan madu nanti.
__ADS_1
"Imel.." Teriak Wulan merentangkan tangannya.
"Kenapa hm?" Imel.
"Mau di suapin.." Rengek Wulan.
"Baiklah. Tapi harus di habiskan ya?" Imel.
"Siap!" Wulan.
Karena Imel menyuapi Wulan membuat Bima merasa kasian dan berinisiatif untuk menyuapi Imel juga. Jadilah saling suap menyuapi. Meskipun mendapat ledekan dari keponakan-keponakan Imel Wulan tak memperdulikan mereka.
Setelah selesai makan malam. Mereka semua berkumpul di ruang keluarga bercengkrama bersama menikmati kebersamaan mereka yang sangat jarang terjadi. Membuat Ibu Maryam merindukan Ayah Agus. Andai suaminya itu masih ada sudah di pastikan kebahagiaannya akan bertambah-tambah kali lipat.
Juna memeluk Ibu Maryam dari samping mengerti jika ibunya tengah merindukan sang Ayah. Karena begitupun dengan Juna dan yang lainnya. Mereka pun merindukan sosok Ayah Agus yang hangat kepada keluarganya.
"Kalian pergi jam berapa besok?" Tanya Bagas.
"Pagi Bang. Johan akan menjemput sekitar jam 8 pagi." Bima.
"Kenapa pagi sekali?" Lena.
"Ya. Sengaja supaya lebih santai saja. Nanti kita mampir di pulau dulu sebelum melanjutkan perjalanan." Bima.
"Memangnya kalian ke dua tempat?" Juna.
"Iya Bang. Karena ada dua tempat yang ingin Imel kunjungi." Bima.
"Ya. Tidak apa-apa kalian atur waktu saja." Juna.
"Iya Bang. Bima mau fokuskan ke Imel sebelum nanti perhatian Bima terpecah oleh pekerjaan." Bima.
"Kamu harus bisa mengatur waktu. Ingat sekarang ada istri yang menunggumu pulang." Ibu Maryam.
"Tentu Bu. Apa Ibu yakin nanti tidak akan ikut bersama kami di kota Y?" Bima.
"Tidak Nak. Ibu disini saja. Kalian saja yang sering-sering pulang ke sini." Ibu Maryam.
"Pastinya Bu. Tapi, Iby juga jangan pernah menolak jika kami meginginkan Ibu ikut bersama kami menginap untuk beberapa hari." Bima.
"Iya tentu saja ibu akan pergi jika ibu sehat." Ibu Maryam.
"Oleh karena itu Ibu harus tetap sehat agar Ibu bisa berjalan-jalan bersama kami terus bergantian atau jalan-jalan bersama." Anya.
"Aamiin.." Ibu Maryam.
__ADS_1
🌹🌹🌹