
"Hati-hati di jalan ya Nak. Jika lelah beristirahatlah sejenak jangan memaksakan." Pesan Ibu Maryam.
"Iya Bu. Kami pamit ya Bu. Bima ijin bawa Imel." Pamit Bima.
"Sudah kewajiban kamu membawa Imel dan kewajiban Imel mengikuti kemanapun kamu pergi." Ibu Maryam.
"Terima kasih Bu." Bima.
"Ibu... Imel pamit ya." Rengek Imel manja.
"Iya Nak. Patuhi suami kamu ya sayang." Ibu Maryam.
"Ibu nanti ke kota Y kan?" Imel.
"Iya sayang. Nanti ibu akan berkunjung ke sana." Ibu Maryam.
"Kak, Imel pamit ya." Pamit Imel pada Anya.
"Iya Sayang." Anya.
Imel pun memasuki mobil Bima yang memang sudah ada sebelum pernikahannya. Supirnya yang membawanya. Bima mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tangan kirinya menggenggam tangan kanan Imel. Walaupun terbiasa pergi meninggalkan rumah namun kali ini terasa berbeda karena Imel pergi bersama dengan laki-laki yang berstatus suaminya.
Ada rasa bahagia juga sedih bercampur aduk di hatinya namun rasa bahagianya lebih mendominasi karena kehadiran Bima. Semoga apa yang di rasakannya sekarang tidak akan pernah berubah.
"Masih berat meninggalkan Ibu?" Bima.
"Hm... Walaupun Imel terbiasa tinggal jauh dari Ibu dan Ayah. Rasanya sekarang begitu berbeda ketika meninggalkan Ibu tanpa Ayah." Imel.
"Lambat laun akan terbiasa. Di sana juga ada Kak Anya yang selalu siaga menemani Ibu begitu juga dengan Teh Leli." Bima.
"Iya. Mas benar." Imel.
Bima mengecup punggung tangan kiri Imel yang sejak tadi di genggamannya. Imel pun menyandarkan kepalanya di bahu Bima. Sejenak hening dengan fikiran masing-masing.
"Mas," Panggil Imel.
"Hmm,,, Kenapa?" Bima.
"Jangan pernah tinggalin Imel ya Mas." Imel.
__ADS_1
"Mas akan selalu berusaha ada di samping mu sayang. Apapun yang terjadi. Begitu juga dengan kamu sayang. Mas harap kamu tidak akan meninggalkan Mas apapun keadaannya." Bima.
"I Love you Mas."
"Love you more sayang."
Perjalanan pun terasa begitu cepat tanpa terasa mobil Bima telah memasuki halaman rumahnya. Bima dan Imel memutuskan untuk tinggal bersama Mama Yuni dan Papa Bambang seperti keinginan Mama Yuni. Karena Mama Yuni merasa kesepian jika Bima dan Imel tinggal sendiri.
"Sayang, sudah sampai." Bisik Bima membangunkan Imel yang tertidur.
"Hm.. Sudah sampai. Maaf Imel tidur ya Mas." Imel.
"Tidak apa-apa sayang. Mas tau kamu masih lelah. Nanti di lanjut di kamar ya sayang." Bima.
"Iya Mas." Imel.
Bima pun membantu Imel keluar dari mobil. Mang Dadang membantu Bima membawakan beberapa koper yang di bawa Bima dan Imel. Imel tak membawa banyak pakaian dan perlengkapan permintaan Bima. Karena Imel bisa membelinya di sana.
"Imeeelll...."Teriak Wulan menyambut kedatangan Imel.
Plak...
"Yang sopan. Tante. Imal Imel semaunya." Bima.
"Dih,,, iya... iya cerewet." Wulan.
"Awas sekali lagi manggil mana ga bakal Om bolehin kamu ketemu istri Om lagi." Bima.
"Jahaaat..." Protes Wulan.
"Hus.. Udah ih. Ini kapan pelukannya?" Protes Imel yang sudah merentangkan tangannya sejak tadi.
"Kangeeen..." Ucap Wulan langsung menghambur pada pelukan Imel.
"Me too..." Imel.
Bima mengulas senyum manisnya melihat keakraban keponakan dan istrinya. Sementara dua sahabat itu saling berpelukan Bima menghampiri Papa dan Mama nya untuk bersalaman dan mencium punggung tangan mereka. Tak lupa Bima memeluk Mama Yuni dan mencium pipi kanan dan kirinya.
Setelah cukup lama Imel berpelukan dengan Wulan Imel pun melepas pelukannya dan berjalan menuju Papa dan Mama mertuanya. Imel bersalaman dan mencium punggung tangan keduanya juga mencium pipi kanan dan kiri Mama Yuni. Disana juga ada Kak Saras Mama Wulan.
__ADS_1
"Hai Kak.." Sapa Imel canggung.
"Hai adek ipar.." Saras.
Pipi Imel pun memerah dengan panggilan Saras. Pasalnya Imel kerap memanggilnya dengan sebutan Tante dan Saras memanggilnya Nak. Kini panggilan tersebut harus berganti karena Imel menikahi adik dari Saras.
"Sayang, kamu istirahat dulu sana. Pasti sangat lelah setelah kemarin perjalanan cukup jauh dan hari ini belum hilang lelahnya sudah harus menempuh perjalanan cukup jauh juga." Mama Yuni.
"Iya Mah. Terima kasih." Imel.
"Iya sana istirahat dulu Mel. Nanti turun lagi jam makan malam." Saras.
"Aaa... Jangan... Wulan mau sama Tante Imel." Protes Wulan.
"Nanti sayang setelah Tante istirahat. Apa kamu ga sayang sama Tante kamu? Dia kelelahan loh." Saras.
"Ish... Mami. Ya udah iya." Wulan.
Tak ingin mendengar protes lagi dari Wulan Imel pun segera melesat menuju kamar Bima bersama Bima juga tentunya. Bima tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas itu sebelum Wulan berubah fikiran dan membuatnya harus merelakan Imel bersama Wulan.
"Mas ih, kok jalan cepet-cepet gini sih?" Tanya Imel yang bingung.
"Mas ga mau tu ibu hamil berubah fikiran. Jadi, saat dia mengatakan iya Mas harus segera mengamankan istri Mas ini." Bima.
"Astaga! Mas ada-ada saja deh." Imel.
Setelah memasuki kamar Bima yang menjadi kamar mereka berdua Imel bermaksud menbereskan baju-bajunya yang ia bawa di dalam koper ke dalam lemari namun baru saja Imel memegang koper Bima langsung menariknya.
"Nanti saja sayang. Kita istirahat dulu. Ayo temani Mas bobo." Ajak Bima menyeret tangan Imel mendekati tempat tidur.
Bukannya tidur Bima malah asik mendusel di dada Imel tempat favoritnya setelah menikahi Imel. Dan itu membuat Imel mengeluarkan suara seksinya yang membuat sesuatu bangkit dari sarangnya. Bima pun tak dapat menahannya dan terjadilah sesuatu yang sangat mereka inginkan.
Suara-suara merdu Imel terus memenuhi ruangan kamar Bima membuat Bima bertambah semangat. Entah berapa kali Bima membajaknya tak ada kata puas darinya. Dan entah mengapa lahan Imel selalu membuat sesuatu yang berada di sarangnya bangkit. Terlebih saat sesuatu itu merasakan sarang barunya.
Jam makan malam tiba. Jam yang sudah di tunggu Wulan karena sudah sangat ngiler menunggu suapan makanan dari tangan Imel. Wulan duduk manis menunggu tante sekaligus sahabatnya itu. Sudah ada Dini dan Dodit juga di sana. Juga Melati dan suami.
Mereka semua berkumpul menyambut kedatangan keluarga mereka yang tak lain dan tak bukan adalah Bima dan Imel. Dam moment itu juga di manfaatkan Imel untuk membagikan oleh-oleh yang di bawanya. Khusus untuk Ibu hamil sesuai request.
Saat keluar dari kamar Imel terlihat lemas dan itu semua karena perbuatan Bima yang tak bisa di hentikan. Bima selalu meminta dan memintanya lagi seolah tak cukup hanya sekali. Membuat Imel hanya bisa pasrah menikmati semua permainan Bima. Mama Yuni, Saras dan Melati saling berpandangan melihat langkah Imel yang begitu terlihat kaku walau mereka tau Imel sudah berusaha bersikap biasa.
__ADS_1
🌹🌹🌹