Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Menjemput Wulan


__ADS_3

Hari ini Nita dan Imel pergi ke kota C berdua menggunakan mobil Imel. Sampai di kota C mereka berdua beristirahat sejenak untuk makan siang sebelum menjemput Wulan dan Juan di bandara. Mereka berdua tidak langsung pergi ke rumah Dini karena ingin sekalian bersama Wulan.


Imel dan Nita sudah membooking kamar hotel terlebih dahulu untuk keluarga Bima yang akan datang sore nanti. Imel dan Nitavpun sudah memberitahu Dini tentang kedatangan mereka namun tak langsung ke rumah Dini.


Dini memakluminya asalkan mereka datang malam nanti. Karena akan ada acara pengajian nanti malam. Imel dan Nita pun sudah mempersiapkan pakaiana untuk acara nanti malam. Begitupun dengan pakaian untuk Wulan.


Sekarang Nita dan Imel sudah bersiap di depan pintu kedatangan. Tak lama mereka berdiri terlihat Wulan dan Juan berjalan bergandengan menuju mereka dengan tiga koper yang mereka bawa. Imel menggelengkan kepalanya melihat apa yang mereka bawa.


"Imel,,, Nitaa...." Teriak Wulan melepaskan tangannya yang bertaut pada lengan Juan dan menghambur pada Imel dan Nita.


Imel dan Nita pun menyambut Wulan dengan merentangkan kedua tangan mereka. Mereka bertiga pun saling berpelukan melupakan keberadaan Juan dalam sesaat.


"Hm.."


Juan mengeluarkan suarany menginterupsi ke tiga perempuan yang tengah saling berpelukan. Ketiganya pun melepaskan pelukannya dan menatap Juan. Juan yang di tatap menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Nih, kuncinya. Ayo." Ajak Imel setelah menyerahkan kunci mobil kepada Juan.


Juan pun berpasrah menerima kunci mobil kemudian mendorong bawaan mereka menuju mobil. Imel dan Nita duduk di bangku penumpang di bagian belakang sementara Wulan di kursi penumpang samping kemudi. Dan Juan di balik kemudi.


"Hotel mana Mel?" Tanya Juan di tengah perjalanan.


"Hotel G." Jawab Imel singkat.


"Loh, kok hotel G Mel?" Wulan.


"Iya. Biar pas resepsi Dini kita tinggal menyebrang jalan." Nita.


"Kok ga di hotel M saja di tempat acaranya?" Wulan.


"Full saii. Keluarga Dini tumplek di sana." Imel.


"Heh! Emang kita ga di kasih jatah sama Dini?" Wulan.


"Di kasih. Hanya saja Mas Bima bilang kita booking sendiri saja jadi gw booking deh di hotel G." Imel.


"Astaga Om Bima..." Wulan.


"Semua udah di setujuin kok sama Dodit." Imel.

__ADS_1


"Heru datang Ta?" Juan.


"Datang Mas. Tadi baru sampai hotel." Nita.


"Kenapa ga sekalian ikut jemput?" Wulan.


"Kita udah di bandara pas Mas Heru datang." Nita.


"Ya ampun kasiannya. Jadi lu belum ketemu dong?" Wulan.


Nita menjawabnya dengan gelengan kepala dan muka di buat cemberut. Tak terasa mobil Imel sudah tiba di parkiran hotel. Tampak mobil Bima baru saja memarkirkan mobilnya. Begitu juga dengan Mobil Mama Saras, Mobil Dodit dan mobil Melati Mama Dodit.


"Loh, Dodit sendiri dia?" Imel.


"Ngga ah, kan sama Mas Heru." Nita.


"Lah itu dia sendiri." Tunjuk Imel.


"Dodit cuma turun buat mastiin parkiran keluarga barengan gitu." Nita.


"Owh! Gw fikir." Imel.


"Eh..."


Mereka berempat pun turun menghampiri semua keluarga. Wulan dan Juan pun di sambut hangat oleh semua keluarga terutama Saras, suami dan putra bungsunya.


"Aaa.... Sayang Mami." Teriak Saras saat melihat putri pertamanya melangkahkan kakinya mendekati mereka.


"Mami.." Teriak Wulan menghambur kedalam pelukan Saras.


Mereka berdua saling berpelukan bergantian dengan Papa Wulan, Adik Wulan, Bima, Melati dan terakhir suami melati. Imel yang merupakan calon anggota keluarga baru pun tak lupa mereka sambut begitu juga dengan Nita.


Juan jangan di tanya lagi ya pastinya juga di sambut oleh keluarga Wulan. Sambil berjalan masuk ke dalam hotel Saras tak henti memberondong Wulan dengan berbagai pertanyaan dan Wulan pun menjawabnya dengan sangat antusias.


Imel dan Bima berjalan beriringan saling menautkan tangan mereka memasuki gedung hotel setelah bercengkrama sejenak. Keduanya pun saling melepas rindu dengan memutuskan untuk santai sejenak di restoran hotel. Sementara Wulan dan yang lainnya masuk.


Nita memilih keluar jalan-jalan bersama Heru. Karena pernikahan mereka yang juga tinggal menghitung minggu membuat keduanya merasa perlu merilekskan sejenak fikiran mereka.


Suasana yang panas di luar kamar hotel bertambah panas di salah satu kamar hotel milik Juan dan Wulan. Keduanya belum puas untuk saling memanaskan dan bertukar peluh. Wulan di buat kewalahan oleh serangan Juan. Sedangkan Juan selalu merasa kurang jika urusan yang satu itu. Wulan benar-benar membuatnya candu.

__ADS_1


Berbeda hal di restoran. Kedatangan seseorang mengusik ketenangan Imel yang hanya ingin menikmati waktu berdua bersama Bima mengingat besok mereka harus sudah terpisah kembali.


"Bimantara." Panggil seseorang ketika Bima dan Imel tengah asik berdua.


"Ya. Maaf siapa ya?" Tanya Bima dingin.


"Gw Mira. Lu lupa? Gw temen kulian lu." Jawab orang tersebut tanpa memperdulikan Imel di samping Bima.


"Owh! Sorry gw ga inget." Bima.


"Ya ampun Bim,, sombong amat sih." Celoteh orang tersebut dan langsung duduk di depan Bima.


Bima menatap tak minat sedang Imel menatap waspada.


"Sorry gw lagi ada urusan. Lu bisa tinggalin meja gw?" Pinta Bima mencoba sabar.


"Ya ampun Bim. Ga kangen gitu lama ga ketemu kok lu malah usir gw sih. Tega deh lu." Protes Mira.


"Astaga! Mulutnya pengen gw sumpel pake kursi kali ya." Batin Imel.


"Sorry tapi KITA lagi ga pengen di ganggu." Ucap Bima menekankan kata Kita.


"Bima ih, lu berubah deh." Ucap Mira sambil berusaha memegang tangan Bima.


Namun, dengan sigap Bima menarik tangannya agar tak tersentuh. Begitulah Bima ketika berhubungan dengan seorang perempuan. Bima memeluk pinggang ramping Imel dari samping dan mengeratkannya.


Imel masih diam mengamati perempuan yang mengaku sebagai temen kuliah Bima. Namun, Bima masih mengelak jika dirinya mengenal perempuan itu. Namun, tak di pungkiri Bima pun membenarkan nama-nama yang Mira sebutkan adalah teman kuliahya.


Pak Bambang dan Toni yang datang untuk sekedar minum kopi bersama melihat kejadian di meja Bima. Salutnya Imel masih tetap sabar dan diam. Pak Bambang dan Toni mendekati meja mereka.


"Maaf kami terlambat. Kalian sampai harus menunggu lama."


Suara bas dari belakang tubuhnya menginterupsi Mira untuk menoleh. Dan seketika Mira terpana melihat dua pria di depannya yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah tak muda lagi.


"Papa, Mas. Ayo duduk." Sapa Imel.


"Tapi, sepertinya meja di sini penuh. Kami duduk di sana saja." Tunjuk Toni pada salah satu meja tak jauh dari tempat mereka sekarang.


Bima dan Imel pun meninggalkan Mira yang masih terkejut melihat Papa Bambang dan Toni suami dari Saras. Mira tak mengetahui jika mereka adalah Ayah dan Kakak ipar Bima.

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2