
Pagi-pagi saat Imel bangun Dini sudah tidak ada lagi di sampingnya. Karena tadi malam Dini masih tidur bersamanya. Imel fikir pasti Dini sudah berada di dapur bersama Teh Leli. Imel pun ke kamar mandi untuk mandi dan melaksanakan kewajibannya.
Setelah menyelesaikan kewajibannya Imel pun turun untuk ikut membantu Teh Leli dan yang lain menyiapkan sarapan. Tapi, apa yang dia dapatkan tak ada seorang pun di dapur. Imel melihat pintu belakang terbuka dan Imel pun melangkahkan kakinya menuju taman belakang.
Imel melihat Bima tengah berolah raga sendiri. Imel mengernyitkan keningnya kemana yang lainnya. Dan Imel pun berfikir jika Teh Leli dan Dini pergi ke pasar. Imel pun melangkahkan kakinya mendekati Bima.
"Pagi sayang.." Sapa Bima saat melihat Imel berjalan mendekatinya.
"Pagi Mas. Yang lain kemana? Kok Mas sendirian?" Imel.
"Kak Anya dan anak-anak pergi jemput Bang Juan. Ibu, Teh Leli, Dini dan Dodit entah pergi kemana mungkin ke pasar." Bima.
"Wulan sama Mas Juan?" Imel.
"Mereka pamit jalan pagi baru aja." Bima.
"Terus kita berdua di rumah?" Imel.
"Iya sayang. Kenapa?" Bima.
"Ga apa-apa. Mas mau sarapan apa? Biar Imel buatkan." Tanya Imel.
Karena Imel yakin Bima pun belum sarapan. Karena biasanya Bima tidak sarapan terlebih dahulu jika berolah raga pagi.
"Apa aja boleh Yang. Asal ga bikin kamu capek." Bima.
"Iiih,,, masa bikin sarapan aja capek. Ya udah Imel liat yang ada di dapur dulu ya Mas." Pamit Imel.
"Iya sayang. Mas lanjut sebentar lagi ya." Bima.
"Iya. Abis itu Mas mandi Imel tunggu di meja makan." Imel.
"Oke." Bima.
Imel meninggalkan Bima yang masih pendinginan. Imel mencari sesuatu di dalam kulkas yang bisa dia buat untuk sarapan. Kemudian Imel memilih memasak nasi goreng saja lebih praktis dan cepat.
Imel mulai menyiapkan bahan-bahannya untuk membuat nasi goreng. Sementara Bima setelah melakukan pendinginan Bima langsung pergi mandi sesuai instruksi Imel.
Setelah Bima selesai mandi Bima pun segera menemui Imel di dapur dan di lihatnya dua piring nasi goreng telah tersaji di meja makan. Sementara Imel masih membersihkan dapur.
"Sayang, ayo makan." Ajak Bima.
__ADS_1
"Hah! Mas sudah selesai? Sebentar Imel cuci tangan dulu." Imel.
Setelah mencuci tangannya Imel pun duduk di samping Bima dan mulai menikmati nasi goreng buatannya sendiri. Bima benar-benar takjub dengan rasa masakan Imel. Tak terlihat suka memasak tapi masakan Imel selalu memanjakan lidahnya.
"Enak Yang. Kamu emang pinter manjain lidah Mas." Puji Bima.
"Makasih Mas.." Jawab Imel.
Keduanya pun asik dengan makanan masing-masing. Bima memakan nasi gorengnya dengan lahap sayangnya Imel hanya membuat dua porsi untun mereka berdua. Jika masih ada mungkin Bima akan tambah lagi.
"Yang, abis ini kita pergi yuk?" Ajak Bima.
"Kemana?" Imel.
"Ke hotel." Bima.
"Ish.. Ngapain ke hotel. Mas mesum." Protes Imel.
"Eh, ngapain Mas cari hotel cuma buat mesum. Kalo Mas mau Mas bisa melakukannya di sini sekarang. Kan kita cuma berdua." Goda Bima.
"Aaa.. Mas nakal. Terus ngapain ke hotel?" Imel.
"Mas ada janji ketemuan sama klien di hotel T. Boleh ya? Kamu ikut juga." Ajak Bima.
"Kamu duduk manis aja dan jawab pertanyaan yang di lontarkan sama kamu oke." Bima.
"Hm.. Boleh deh. Imel harus pake baju apa?" Imel.
"Apapun kamu pasti cantik. Tapi, kalo Mas boleh usul gimana kalo pake dress?" Bima.
"Pake dress? Formal ya acaranya?" Imel.
"Ngga juga sih. Tapi, ya ngga ada salahnya juga sih kalo kita pake pakaian formal." Bima.
"Oke siap komandan." Jawab Imel dengan tingkah menirukan pasukan yang tengah melapor pada atasannya.
Kemudian Imel pun membereskan piring bekas mereka makan dan tak lupa mencucinya. Setelah itu Imel dan Bima masuk kedalam kamar masing-masing untuk bersiap pergi. Namun, saat akan pergi Imel mengingat sesuatu.
"Kenapa?" Bima.
"Rumah belum di kunci Mas lupa. Kan ga ada orang di rumah." Imel.
__ADS_1
"Astaga iya. Ya udah kita kunci-kunci pintu dulu." Bima.
Setelah mengunci semua pintu rumah mereka pun pergi ke hotel T. Imel berjalan di samping Bima dengan tangan melingkar di tangan Bima. Bima membiarkannya saja walaupun banyak pasang mata melihat ke arah mereka.
Imel tak curiga dengan banyaknya pengunjung yang datang ke hotel tersebut. Imel terus melenggang di samping Bima. Bima meminta Imel duduk di meja restoran. Imel menurutinya.
"Yang, Mas ke toilet sebentar ya." Pamit Bima.
"Jangan lama." Imel.
"Iya sayang." Bima.
Saat Imel menunggu Bima Imel di kejutkan dengan seseorang yang datang dan langsung menutup kedua matanya. Imel menjerit berontak. Imel melakukan satu jurus beladirinya namun sepertinya orang tersebut mengetahui jika Imel pandai beladiri.
Imel merasa dirinya di bawa kedalam ruangan yang gelap. Imel terdiam dan merasakan di mana dirinya berada karena Imel merasa dirinya masih berada di lingkungan hotel. Imel merasakan jika orang yang membawanya pergi meninggalkannya dan datang seseorang mendekatinya.
Imel mengenali bau parfum yang menyeruak ke dalam hidungnya. Imel meyakinkannya dengan bergerak ke kanan dan kekiri. Karena tangannya terikat dan matanya tertutup. Orang yang berada di dekatnya mencoba membuka ikatan di tangan Imel.
"Mas Bima?" Panggil Imel pelan.
Namun tak ada jawaban sama sekali. Tapi, Imel sangat yakin jika wangi yang dia cium saat ini adalah wangi Bima kekasih ya. Tapi, Imel heran kenapa Bima tak menjawab panggilannya.
"Mas.." lagi Imel memanggil Bima.
Dan tak ada jawaban apapun hingga saat tali ikatan tangannya terbuka Imel segera membuka tali ikatan di kepalanya agar matanya dapat memastikan jika Om kesayangannya ada di sisinya. Namun saat Imel berhasil membuka penutup mata.
Namun, saat berhasil membuka matanya Imel membulatkan matanya ketika Imel melihat semua keluarganya, keluarga Bima dan semua sahabat dan sahabat Bima sudah berada di sana.
Imel membalikkan badannya dan melihat Bima berada di hadapannya. Bima menuntun Imel hingga ke depan. Imel hanya diam mengikuti langkah Bima. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Sayang ini..." Ucap Imel tercekal.
"Ssstt... Bukannya Mas sudah bilang sejak di rumah tadi Kamu hanya boleh berbicara ketika pertanyaan terlontar untuk kamu. Dan sekarang belum ada pertanyaan untuk mu sayang." Bima.
"Tapi, Mas ini..." Lagi-lagi ucapan Imel terhenti kala Bima menutup mulut Imel dengan jari telunjuknya.
"Belum ada pertanyaan untuk kamu sayang.." Ucap Bima lembut.
"Hmm.. Baiklah." Imel.
Tiba-tiba Bima berjongkok di hadapannya kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil nan cantik.
__ADS_1
"Imelda Anastasya will you marry me?"
🌹🌹🌹