
Pagi hari Bima berbicara pada Bi Imah dan Pak Dimin mengenai keberangkatan mereka ke LN untuk menemani Bima dan Imel disana nanti. Bi Imah dan Pak Dimin pun setuju untuk ikut bersama imel dan Bima. Pak Dimin pun memberikan berkas untuk kepergiannya yang akan di urus Bima.
"Sayang, Mas berangkat ya. Kamu hati-hati, nanti ke rumah Dini di antar Bi Imah saja." Bima.
"Iya Mas sayang. Mas hati-hati ya." Imel.
Bima pun pergi ke kantir setelah berpamitan. Setelah Bima pergi Imel kembali ke dalam untuk bersiap-siap pergi ke rumah Dini. Imel sudah berkirim pesan pada ke tiga sahabatnya untuk berkumpul di rumah Dini. Karena Wulan tengah berada di rumah mertuanya maka waktunya mengikuti datangnya Wulan.
Semua perasaan bercampur aduk. Antara senang, sedih dan segalanya. Senang karena akan pergi bersama suami tercinta akan tetapi sedih karena harus meninggalkan orang-orang tersayang. Imel pun sudah berkirim kabar dengan Ibu Maryam dinunhari tadi. Ibu Maryam setuju saja karena dan memberi pesan pada Imel dan Bima untuk berhati-hati dan tetap saling menyayangi, terbuka satu sama lain.
"Mel," Mama Yuni.
"Ya Ma." Imel.
"Katanya mau ke rumah Dini?" Mama Yuni.
"Iya Ma. Nunggu Wulan masih dalam perjalanan." Imel.
"Loh, Wu masih di rumah mertuanya?" Mama Yuni.
"Masih Ma." Imel.
"Kamu sudah packing untuk keberangkatan kalian?" Mama Yuni.
"Belum Ma. Rencananya setelah Imel berbicara dengan mereka Imel akan mulai packing. Semua koper sudah turun kok Ma. Mas Bima sudah siapkan tinggal di packing saja." Imel.
"Ya sudah nanti Mama bantu ya." Mama Yuni.
"Terima kasih Ma." Imel.
"Lantas untuk keperluan bayi bagaimana? Dibeli di sana dong nanti?" Mama Yuni.
"Iya Ma. Karena katanya masih pamali kalo di beli sekarang jadi, paling nanti di sana." Imel.
"Ya sudah, nanti setelah kehamilan kamu tujuh bulan Mama menyusul ke sana untuk nemenin kamu belanja perlengkapan baby ya." Mama Yuni.
"Terima kasih Mah. Maaf jadi ngerepotin Mama nyusul jauh ke sana ya Ma." Ucap Imel tulus.
"Tidak apa-apa sayang. Mama akan senang melakukannya." Mama Yuni.
"Mama jaga kesehatan ya Ma. Imel sayang Mama dan Papa juga tentunya." Imel.
"Iya sayang." Mama Yuni.
Mama Yuni menahan air matanya yang sedikit lagi akan turun. Untung saja Bi Imah memberitahukan jika Wulan sudah datang dan sudah berada di rumah Dini. Imel pun berpamitan dan langsung pergi ke rumah Dini. Kenapa di rumah Dini karena Dodit belum pulih sepenuhnya. Terkadang masih mencari keberadaan Dini.
Imel dan Bi Imah jalan menuju rumah Dini. Eit's! Bukan hanya Imel dan Bi Imah tapi ada dua orang bodyguard yang mengikuti mereka di belakang. Karena Raka masih belum sadar dan kapok untuk terus mengejar Imel. Dan itu juga yang menjadi alasan terkuat Bima membawa Imel ikut serta. Bima tidak ingin mendengar berita apapun yang menyangkut Imel dan Raka.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikum salam.."
"Loh, Dit. Mau kemana?" Tanya Imel saat melihat Dodit sudah rapih dengan kemeja dan jasnya.
"Eh, Tante. Masuk Tan. Dit tinggal ke kantor ya Tan. Ada meeting." Pamit Dodit.
"Owh! Oke. Hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut, jangan ngelamun juga." Pepsan Imel.
"Dodit pake supir Tan." Dodit.
"Nah, itu lebih baik." Imel.
"Ya sudah Dodit berangkat ya Tan." Pamit Dodit.
"Oke."
Setelah Dodit pergi Imel pun segera masuk ke dalam rumah. Terlihat melati tengah menggendong A. Dan ketiga sahabatnya pun sudah berkumpul di ruang utama rumah Dini.
"Nah, ini dia yang di tunggu. Siapa yang buat janji siapa yang dateng belakangan." Dini.
"Maaf, tadi tanggung lagi ngobrol sama Mama." Imel.
Setelah bercipika cipiki Imel pun mendudukan dirinya di samping Wulan.
"G mana?" Tanya Imel pada Wulan.
"Akhirnya pake sus juga." Imel.
"Iya. Mama mertua kasian katanya sama gw. Jadi pake suster." Wulan.
"Udah tua apa masih muda?" Nita.
"Sedenglah. Dia belum nikah baru lulus sekolah." Wulan.
"Hati-hati loh Wu. Jangan percayain sepenuhnya G sama dia. Lu tetep nomer satu. Imel.
"Iya Tan." Wulan.
"Jangan mengabaikan pesan yang. terlihat sepele itu Wu." Dini.
"Iya Din. Mama mertua juga bilang begitu. Apalagi membiarkan Mas Juan berinteraksi bertiga dengan G dan Suster. Kata Mama kejadian apapun tidak akan terjadi tanpa adanya kesempatan." Wulan.
"Nah, itu pinter mertua lu." Nita.
"Hahaha.."
__ADS_1
Mereka pun berbicara kesana kemari sebelum Imel mengutaran apa maksudnya mengajak mereka semua berkumpul bersama. Sampai pada saatnya di antara mereka ada yang menyadari jika pertemuan mereka atas permintaan Imel.
"Eh, ngomong-ngomong ada apa lu minta kita kumpul disini?" Nita.
"Astaga! Hampir gw lupa." Imel.
"Ada apa?" Wulan.
"Gw mau pamit." Imel.
"Pamit?" Kompak semuanya.
"Jiah,,, kompak bener.." Imel.
"Imelda Anastasya! Serius nih?" Dini.
"Iya serius. Siapa juga yang bilang slank." Imel.
"Mel,,," Nita.
"Hehehe... Iya-iya. Gw mau pamit sama kalian. Dalam waktu dekat gw sama Mas Bima mau pindah ke LN untuk waktu yang lumayan lama. Mungkin satu atau dua tahun dan mungkin juga lebih." Imel
"Apa? LN? Lu serius Mel? Terus?" Wulan.
"Iya. Mas Bima ada pekerjaan yang harus di selesaikan di sana. Karena akan memakan waktu lama. Maka Kami memutuskan untuk tinggal sementara di sana." Imel.
"Kita pisah dong mel?" Nita.
"Iya. Untuk sementara waktu. Karena Mas Bima ngga bisa ninggalin gw di sini Ta." Imel.
Tanpa banyak bicara lagi mereka bertiga mendekati Imel dan memeluknya. Jadilah mereka berempat saling berpelukan. Melati yang melihat kedekatan diantara mereka pun tanpa sadar ikut meneteskan air matanya. Persahabatan mereka begitu kuat. Itu membuat Melati bangga. Karena banyak sekali di luaran sana yang mengatas namakan persahabatan akan tetapi di belakang mereka saling menjatuhkan.
Akan tetapi persahabatan menantu dan ketiga sahabatnya begitu kuat. Semakin mendapat guncangan dari luar semakin kuat persahabatan mereka. Apalagi sekarang semua terikat menjadi saudara. Walaupun Nita tidak tapi mereka tak pernah membedakan. Mereka merangkul Nita walau Nita bukan saudara. Karena bagi mereka persahabatan mereka lebih dari persaudaraan.
"Maafin gw kalo gw ada salah ya semuanya. Jangan lupa juga kalian dateng ke sana buat jengukin gw ya. Jangan pelit-pelit ngeluarin duit buat tiket kesana."Imel.
"Astaga Lu mah Mel." Dini.
"Udah ih, jangan nangis. Gw aja ga nangis" Imel.
"Imel, lu mah jahat." Ucap Wulan di sela isaknya.
"Kalian boleh jengukin gw sesering mungkin kok." Imel.
"Dini sama Wulan bisa Mel. Gw, ga mungkin gw pake duit laki gw semaunya cuma buat ketemu lu di sana." Nita.
"Lu jangan khawatir. Dodit sama juan punya jet pribadi. Jadi, lu ga perlu bayar apapun. Kalo mereka ga mau bawa lu. Bilang sama gw. Biar gw pecat mereka jadi ponakan." Imel.
__ADS_1
"Imeeellll...."
🌹🌹🌹