Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Penyesalan Selalu Datang Di Akhir


__ADS_3

Sementara di perusahaan tempat Heru dulu bekerja Raka terus mencari Heru yang seharusnya telah kembali bekerja setelah masa cutinya selesai. Raka tau jika Heru cuti dua minggu dari rekan satu divisinya. Namun, saat Raka mencari informasi mengenai Heru yang tak kunjung juga masuk ternyata Heru telah resign satu minggu yang lalu.


Raka begitu kacau ketika mendengar kenyataan jika Heru telah resign. Pasalnya demi Imel dirinya rela bekerja di luar perusahaan Ayahnya. Karena hanya Heru tempat dirinya mencari informasi mengenai Imel. Namun nyatanya Heru pun tak dapat di genggam.


Raka menundukkan kepalanya di atas meja kerjanya. Tangannya meremat rambutnya yang sudah berantakan. Dasi yang semula terpasang rapi entah kemana sekarang larinya. Sungguh kacau. Raka belum mengetahui jika Imel telah menikah. Entah seperti apa kekacauan yang akan terjadi kala Raka tau jika Imel sudah melangsungkan pernikahannya seminggu yang lalu.


Raka pun mengeluarkan ponselnya dari saku celananya bermaksud mencari nomor Heru dan akan menghubunginya untuk bertanya langsung mengenai Imel. Dirinya akan langsung to the poin tidak akan mengulur-ulur waktu lagi. Namun, sayangnya nomer ponsel Heru yang Raka miliki nomer ponsel lama sebelum Heru berganti nomer karena ponselnya hilang saat hari wisudanya.


Raka semakin mengumpat kebodohannya. Raka pun berniat menanyakan mengenai nomer ponsel Heru pada HRD sayangnya tak ada satupun orang HRD di ruangannya karena mereka tengah melaksanakan seleksi pegawai baru di aula perusahaan. Raka merasa bagaikan waktu tak berpihak padanya.


Sementara yang di cari tengah menikmati bulan madunya di negara K. Bima benar-benar membuat Imel seperti ratu. Bima dengan sabar mengikuti kemana Imel mau dan Bima pun tak mengkungkung Imel di kamar seperti apa yang dia lakukan saat di pulau.


Bima benar-benar tak membiarkan Imel keluar dari kamar hotel selama berada di pulau. Bima terus menggarapnya hingga Imel tak dapat melakukan apapun hanya pasrah menerima serangan demi serangan dari Bima. Bima yang sama-sama baru merasakannya merasa ingin lagi dan lagi. Imel bagai candu baginya.


Namun, tidak di negara K. Bima lebih santai dan membiarkan Imel pergi berjalan-jalan kemana yang Imel inginkan. Bahkan untuk berbelanja sekalipun. Bima menuruti semuanya dan terus berjalan saling bergandengan. Namun, tidak untuk malam hari. Bima selalu meminta jatahnya tak perduli mereka telah letih karena seharian berjalan-jalan.


Karena bagi Bima pertempurannya bersama Imel membuat tenaganya full kembali. Dan esok pagi dirinya akan lebih bersemangat menemani sang istri berjalan-jalan mengitari kota masuk ke dalam toko satu ke toko lainnya dengan berbagai paper bag di tangannya.


Bima tak perduli berapa banyak uang yang di keluarkan olehnya. Yang terpenting baginya adalah kebahagiaan Imel. Bima hanya ingin Imel bahagia dengan cara apapun. Biarlah dirinya merogoh kocek dalam toh besok lusa dirinya akan mendapatkan lagi uangnya.


"Sayang, terima kasih ya." Ucap Imel di tengah-tengah dirinya tengah berbelanja.


"Tak perlu berterima kasih sayang. Karena kebahagiaan mu lebih penting dari segalanya." Bima.


"Tapi, apa Imel tidak keterlaluan berbelanja banyak begini?" Imel.


"Uang bisa kita cari lagi sayang. Untuk apa Mas kerja mencari uang jika bukan untuk istri Mas dan anak-anak kita nanti." Bima.


Blush...


"Love you Om ku sayang." Ucap Imel.

__ADS_1


"Love you sugar baby." Bima.


"Iiih, awas ya berani cari sugar baby!" Ancam Imel.


"Kalo di rumah punya yang seperti ini mau cari apalagi. Lebih baik Mas pulang ke rumah dan mengurung istri Mas di dalam kamar." Goda Bima.


"Mas,,, ih mesum ga tau tempat." Imel.


"Mesum juga sama istri sendiri bukan istri orang lain." Bima.


"Awas berani macem-macem." Imel.


"Mas ga berani macem-macem sama yang lain sayang beraninya cuma sama kamu macem-macem di kamar." Goda Bima lagi.


"Mas... Ih. Udah ah. Ayo pulang. Imel udah capek." Rengek Imel.


"Udah ga sabar pengen yang macem-macem sama Mas ya sayang?" Goda Bima di telinga Imel.


Keduanya kembali ke hotel. Setelah membersihkan diri Imel pun mengepak oleh-oleh yang di belinya sesuai nama dalam paper bag masing-masing karena Imel tak mau dirinya harus bekerja lagi mencari barang untuk di berikan pada sahabat dan keluarganya. Jadi, ketika sampai di tanah air nanti Imel tinggal membagikannya sesuai nama yang tertera di paper bagnya.


Bukannya Bima tak ingin membantu. Dirinya sudah menawarkan jasanya hanya saja Imel menolaknya karena akan sulit jika di lakukan berdua menurut versi Imel. Jadilah Bima hanya duduk memeriksa email yang masuk ke dalam ponselnya yang di kirimkan oleh Arman.


Karena Bima selalu meminta Arman mengirimkan pekerjaannya melalui email walaupun entah kapan Bima membukanya. Dan kali ini Bima menyempatkan membuka emailnya karena Imel tengah asik mengepak oleh-oleh untuk sahabat dan keluarganya.


"Sudah selesai sayang?" Tanya Bima menyimpan ponselnya di atas meja setelah menbalas email yang menurutnya harus segera di balas.


"Sedikit lagi Mas." Imel.


"Baiklah. Mas tunggu saja kalo begitu." Bima.


"Memangnya Mas mau mengajak Imel kemana?" Imel.

__ADS_1


"Mandi sayang." Ucap Bima.


"Eh, Mas mandi duluan saja." Imel.


"Ngga ah takut. Mas mau nunggu kamu aja." Rengek Bima.


"Modus." Imel.


"Nah, itu tau. Istri Mas emang the best." Bima.


Imel pun segera menyelesaikan pekerjaannya kemudian menghampiri Bima dan mereka berdua mandi bersama dan bukan hanya mandi saja tapi ada ritual lain yang mereka lakukan yang membuat Imel kelelahan. Bima memutuskan makan malam di dalam kamar setrlah dirinya memesan beberapa menu makanan.


Imel hanya tiduran di atas tempat tidur dengan paha Bima sebagai bantalnya. Bima mengusap lembut rambut Imel yang tergerai dan sesekali mengusap lembut pipi mulus Imel.


"Mas, Imel boleh bertanya?" Imel.


"Tentu sayang. Apa?" Bima.


"Apa Imel boleh bekerja?" Imel.


"Mas tidak akan melarangmu sayang. Selama kamu masih bisa membagi waktu diantara pekerjaan dan keluarga Mas tidak masalah. Kamu ingin bekerja?" Bima.


"Imel belum tau Mas. Imel berfikir jika Ibu mau ikut dengan Imel mungkin akan lebih mudah Imel memutuskan. Tapi, Ibu benar-benar kuat pendirian." Imel.


"Memangnya kenapa?" Bima.


"Jika kita sama-sama bekerja maka waktu untuk keluarga akan sangat berkurang. Dan mungkin dengan kesibukan Imel sebagai dokter akan bisa di pastikan Imel tidak bisa sebebas dan setenang seperti sekarang." Jelas Imel.


"Jika kamu tidak bekerja pun Mas masih mampu membiayai kamu sayang. Mas tidak akan memaksa kamu untuk bekerja." Bima.


"Terima kasih Mas. Imel sayang Mas." Imel.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2