
Sudah hampir satu bulan Imel dan Bima tidak bertemu. Besok lusa adalah hari pernikahan Imel dan Bima. Hari yang telah di nantikan oleh Bima dan Imel. Namun, menjadi hari yang paling menggalau bagi Imel. Pasalnya setelah kebersamaannya yang hampir Dua bulan bersama Ibu tercinta membuatnya semakin berat untuk meninggalkan Ibunya.
Hari ini Imel dan Ibu Maryam pergi ke makan Ayah Imel bersama Uwa dan putra bungsu Uwa. Karena Uwa khawatir jika hanya Imel dan Ibunya yang pergi ke makam. Oleh karena itu Uwa meminta putra bungsunya untuk mengantarkan mereka.
Imel duduk bersimpuh di samping batu nisan sang Ayah. Imel mengadukan apa yang di alaminya beberapa waktu terakhir tanpa kehadiran sang Ayah. Imel pun meminta restu untuk menikah dengan pria pilihannya. Setelah itu Imel bangkit dari duduknya dan berpamitan pada nisan sang Ayah.
"Ada yang mau di tuju lagi Bi?" Agung putra bungsu Uwa Imel.
"Tidak ada Gung. Kita langsung pulang saja." Ibu Maryam.
"Kamu Mel?" Agung.
"Ngga ada A. Kita langsung pulang saja." Imel.
Kemudian mereka pun pulang. Karena pemakaman Ayah Imel hanya berjarak dekat dari rumah mereka pun pergi hanya berjalan kaki saja. Sampai di persimpangan jalan Uwa dan putranya langsung pulang menuju rumah mereka sedangkan Imel dan Ibu Maryam langsung pulang ke rumahnya.
Imel sengaja tak mengadakan siraman karena Imel tak ingin mengingat sang Ayah yang telah pergi meninggalkannya. Imel dan keluarga hanya mengadakan pengajian yang akan di laksanakan malam nanti. Uwa pun akan kembali ke rumah Imel saat sore nanti.
"Mel, keluarga Mas kamu sudah sampai?" Ibu Maryam.
"Sudah Bu. Semua sudah di hotel." Imel.
"Syukurlah. Kamu istirahat saja dulu ya. Biar nant malam segar." Ibu Maryam.
"Iya Bu." Imel.
"Ste, bobo yuk sama Tante." Ajak Imel pada Stella putri pertama Juna dan Anya.
"Ste mau ikut Mami jemput Papi Tante." Stella.
"Yaah, ya udah hati-hati." Imel.
"Oke. Bye Tante sayang." Stella.
"Bye.." Imel.
__ADS_1
Imel memasuki kamarnya. Imel merebahkan badannya yang cukup lelah mengurus beberapa persiapan sendiri di rumah. Lebih tepatnya ikut meriweuh walaupun tak langsung bekerja. Tak butuh waktu lama Imel langsung memejamkan matanya menuju pulau mimpi.
"Oma,,," Teriak Wulan yang baru saja datang bersama Dini. Perut wulan belum juga terlihat menyembul.
"Masya Allah jangan berlari. Kenapa kalian datang siang ini hm?" Ibu Maryam.
"Dia mau makan di suapin Imel Oma." Tunjuk Wulan pada perutnya yang masih terlihat rata.
"Yaah,,, Imel baru saja tidur." Jawab Ibu Maryam.
"Yaah..." Ucap Wulan dengan wajah yang langsung berubah murung.
"Kalo Oma saja yang menyuapi mau tidak?" Tawar Ibu Maryam karena merasa tak enak oleh Wulan yang langsung menampakkan wajah murungnya.
"Ngga mau Oma. Maunya Imel. Kalo gitu Wulan mau tunggu Imel bangun saja." Jawab Wulan dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi, kamu ga kelaparan?" Dini.
"Ngga Nit. Aman. Ge mau nunggu Imel ajah." Jawab Wulan dengan suara bergetar menahan tangisnya.
Karena sahabatnya itu akan selalu menyambut kedatangannya saat seperti apapun tapi ini di luar ekspektasinya. Imel tidur siang tanpa menyambutnya. Walaupun itu kesalahan mereka sendiri karena tanpa mengabari Imel jika mereka akan datang lebih dulu karena Wulan yang selalu makan dari suapan Imel. Yang menurutnya sangat nikmat walau hanya sepiring nasi tanpa lauk.
"Kalian tidak bersama Nita?" Tanya Lena.
"Nita menyusul. Mungkin dia masih di perjalanan Kak." Dini.
"Kata Mas Bagas Heru gabung di perusahaan Dodit?" Lena.
"Iya Kak. Jadi kepala cabang anak perusahaan kebetulan kosong dan Mas Heru bersedia." Dini.
"Syukurlah. Semoga berkah ya." Anya.
"Iya Aamiin Kak." Dini.
Sementara Wulan hanya diam tak memperdulikan obrolan orang di sekitarnya. Wulan hanya membayangkan makan dari suapan tangan Imel. Dengan membayangkan saja Wulan hampir meneteskan air mata karena kecewa Imel tidur.
__ADS_1
Sementara di kamar Imel Teh Leli merasa kasian untuk membangunkan Imel karena Imel terlihat tidur sangat pulas. Teh Leli pun duduk di samping tempat tidur Imel dan mengusap tangan Imel.
"Neng Imel," Bisik Teh Leli.
Entah mengapa Imel langsung membuka matanya. Mungkin karena terbiasa sebagai mahasiswa kedokteran yang harus siaga dalam keadaan apapun membuat Imel mudah di bangunkan.
"Hm... Teh. Ada apa?" Tanya Imel dengan suara khas bangun tidur.
"Di bawah ada Neng Wulan dana Neng Dini." Teh Leli.
"Owh! Iya Teh. Kenapa ga di suruh ke sini aja." Imel.
"Neng Wulan hampir nangis denger Neng Imel tidur. Soalnya Neng Wulan mau makan di suapi Neng Imel." Jelas Teh Leli.
"Astagfirullah! Ya sudah Teh sebentar Imel turun. Teteh tolong siapin makanannya ya." Pinta Imel.
"Oke." Teh Leli.
Teh Leli pun turun kemudian menuju dapur. Melihat Teh Leli hanya turun seorang diri membuat Wulan semakin ingin menangis saja. Karena dia fikir Imel tak berhasil di bangunkan. Kesedihannya tak dapat di bendung lagi dan air matanya lolos begitu saja.
Anya, Lena dan Dini merasa prihatin. Dini pun memeluk sahabat sekaligus kakak sepupu iparnya itu. Wulan pun menangis dalam pelukkan Dini. Tanpa banyak bicara Dini hanya mengusap lembut punggung Wulan. Dini tau Wulan menahan laparnya demi ingin makan di suapi Imel.
Saat Imel menuruni anak tangga Dini melihatnya dan Imel pun memberikan kode diam dengan menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Dini dan yang lainnya pun hanya diam. Imel menerima sepiring nasi dan segelas air minum dari tangan Teh Leli. Teh Leli hanya tersenyum melihatnya.
Imel duduk di samping Wulan tanpa Wulan tau jika dirinya yang duduk. Wulan mengira itu Anya atau Lena. Imel menyimpan poring dan gelasnya di atas meja kemudian berbisik di belakang Imel.
"Ibu hamil jangan banyak nangis nanti anaknya cengeng. Terus kalo nangisnya nangisin gw nanti anaknya mirip gw plek ketimplek." Bisik Imel.
Wulan melepaskan pelukannya pada Dini dan menoleh ke samping kirinya dengan sisa air mata yang membasahi pipinya. Imel tersenyum dengan manis saat Wulan menatapnya.
"Adudu... Kasiannya. Ada yang kangen sama gw ya ampe nangis begini." Ucap Imel mengusap sisa air mata di pipi Wulan.
Bukannya berhenti menangis Wulan malah terus menangis. Membuat Imel gemas karena usapan di pipi Wulan tak kunjung kering.
"Iisshh... Jangan nangis terus. Muka lu jelek tau." Ucap Imel.
__ADS_1
Tanpa menjawab Wulan langsung menghambur memeluk Imel. Suasana haru pun langsung tercipta. Dini, Anya dan Lena pun tak kuasa meneteskan air mata harunya.
🌹🌹🌹