
Sudah satu minggu dari kelahiran putranya Imel sekarang sudah berada di rumah sejak dua hari setelah melahirkan. Imel sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hanya Bima yang merasa tersiksa dengan hasratnya yang tak dapat di tuntaskan pada sang istri mengingat Imel belum bisa di sentuhnya. Saras sang Kakak selalu menemani mereka tidur bersama berdalih agar Imel bisa belajar mengurus Athar.
Bima selalu mencuri-curi waktu saat berada di kamar mandi. Imel terkadang merasa kasian kepada suaminya itu akan tetapi dirinya pun tak dapat berbuat apa-apa. Imel selalu membantu Bima menuntaskannya di dalam kamar mandi.
"Sayang siang nanti ke kantor ya." Rengek Bima.
"Bagaimana mungkin Mas. Mama dan Kakak pasti akan melarang Imel begitu juga dengan Papa." Imel.
"Astaga! Kenapa harus ada masa nifas ini sing Yang..." Rengek Bima lagi saat mereka berdua tengah berada di ruang ganti.
Imel tengah membantu Bima mengenakan dasinya. Setelah selesai mereka pun keluar dari ruang ganti. Saras sudah berkacak pinggang menunggu keduanya keluar dari kamar ganti yang terasa lama oleh Saras.
"Kamu ini Bim. Ga kasian liat istri kamu." Omel Saras.
"Apa sih Kak. Kakak itu yang ga kasian sama Bima." Bima.
"Justru kamu. Liat tuh Athar masih merah begitu." Tunjuk Saras pada Athar yang tengah berbaring di atas tempat tidur.
"Uuu... Kesayangan Papi.... Budhe cerewet ya Nak. Ga sayang sama Papi." Ucap Bima pada bayinya.
Plak...
"Ngomong kok ngawur... Awas ya kamu ngajarin ga bener sama ponakan Kakak." Omel Saras.
"Astaga! Kakak kenapa sih? PMS ya?" Tanya Bima tanpa dosa sambil berlenggang menuju pintu keluar.
"Ssshhh... Awas ya Mel jangan mau di rayu suami kamu." Pesan Saras.
"Iya Kak." Imel.
Imel dan Saras pun bergabung ke luar bersama Athar untuk sarapan bersama. Kali ini Papa Bambang ikut ke kantor bersama Bima di karenakan Bima meminta bantuan Papa Bambang agar proyeknya segera terselesaikan dengan cepat dan mereka nisa berkumpul kembali bersama keluarga di negara asal mereka.
"Selamat pagi cucu Oma. Ayo sini sayang kita sarapan bersama." Ucap Mama Yuni menyiapkan stroller khusus untuk Athar.
Setelah menyimpan Athar Saras pun ikut bergabung sarapan. Imel dan Bima membiasakan Athar untuk ikut sarapan bersama walaupun Athar hanya diam tertidur atau hanya asik bermain dengan tangannya.
Siang ini Bima menyempatkan untuk pulang dan makan siang bersama begitu juga dengan Papa Bambang. Imel begitu telaten mengurus Athar di bantu oleh Mama Yuni dan Saras. Sebagai seorang dokter sedikitnya Imel tahu teori mengenai perawatan pada bayinya.
__ADS_1
"Kak, apa Mas Toni tidak akan menyusul ke sini?" Imel.
"Tentu akan dong. Besok lusa Mas Toni datang." Saras.
"Wah, asik dong rumah jadi rame." Imel.
"Apa kamu ga mau ikut pulang saja nanti biar Bima menyelesaikan pekerjaannya di sini." Mama Yuni.
"Ngga Mah. Kasian Mas Bima nanti sendiri." Imel.
"Ceh, Mama kaya ga ngerti pengantin baru saja." Saras.
"Astaga! Ga gitu Kak. Kan kasian juga Mas Bima nanti kalo mau ketemu Athar. Biar Imel ngalah aja deh, meskipun kangen tanah air tercinta tapi mau bagaimana lagi." Imel.
"Terima kasih ya sayang. Mama bangga sama kamu." Mama Yuni.
"Tidak perlu berterima kasih Ma. Ini kan sudah kewajiban Imel menemani suami kemana pun." Imel.
"Bima pinter ya. Begitu Imel lulus langsung di nikahi. Coba tunggu beberapa bulan lagi mingkin Imel sudah bekerja di suatu tempat." Saras.
"Tapi, jika kejadiannya seperti ini ya Imel juga pasti resign dong Kak kerjanya nemenin Mas. Masa Imel mau egois sih." Imel.
"Melati mau ke sini Mah. Tapi belum kasih kabar kapan." Saras.
"Wealah.. Bilang adekmu jangan bikin kejutan nanti terkejut. Kita kan mau holiday." Canda Mama Yuni.
"Hahahaha..."
Tawa mereka pun pecah. Bi Imah yang melihat keakraban mereka pun ikut merasakan kehangatanya. Bi Imah ikut tersenyum sendiri mendengar candaan dari mereka bertiga dengan Athar yang anteng tertidur di boks.
"Athar anteng ya Mel." Saras.
"Iya ga kaya baby G yang dikit-dikit ngerengek." Mama Yuni.
"Ya Wulan pas hamil G. Dikit-dikit nangis pengen ketemu Tantenya dikit-dikit lagi nangis sedih Juan ga pulang tepat waktu. Pokoknya Wulan itu jadi cengeng." Saras.
"Iya juga sih." Mama Yuni.
__ADS_1
"Tapi, sepertinya Athar Mas Bima banget Kak. Acuh dengan lingkungan sekitar." Imel.
"Waduh,,, Jangan ya sayang. Mending kaya Oma aja ramah dan hangat jangan kaya Papi kamu dinginnya ngalahin kulkas empat pintu." Mama Yuni.
"Papa muda gitu juga ga Mah?" Imel.
"Lah, itu dia. Papa kalian itu ya persis Bima. Yang ada di fikirannya itu bisnis dan bisnis saja. Beruntung Mama begitu pengertian padanya." Puji Mama Yuni pada dirinya sendiri.
"Hmm.. Masa sih Ma.." Canda Saras.
"Kamu ini yang anak siapa. Baru masuk kuliah sudah minta nikah. Nikahnya sama om-om pula." Mama Yuni.
"Loh, sama kaya Imel dong Kak?" Imel.
"Ya kamu, Saras sama Melati itu sama saja. Dapet jodoh pria berumur." Mama Yuni.
"Tapi, Imel termasuk yang paling tua umurnya Mah. Lah, kita bisa di bilang baru lulus sekolah." Saras.
"Iya. Yang ga habis fikir lagi kalian kompak banget ngasih Mama sama Papa cucu cuman satu." mama Yuni.
"Ya kan usaha udah Mah." Saras.
"Kamu jangan tunda lagi kehamilan Mel. Gas saja biar Mama punya banyak cucu." Mama Yuni.
"Kalo bikinnya sih si Bima semangat Mah." Sindir Saras.
"Apa?! Sudah di proses?" Tanya Mama Yuni kaget.
"Eh, belum lah Mah. Baru seminggu Ma. Masih sakit semua ini. Bukan cuma dalemnya tapi luarnya juga masih sakit." Imel.
"Bagus... Awas ya jangan dulu sekarang. Pokoknya tunggu empat puluh hari." Mama Yuni.
"Iya Ma." Imel.
Saat mereka asik becanda ria Athar tiba-tiba menangis kuat. Mereka bertiga pun menjadi panik. Dan ternyata Athar buang hajat. Merasa tidak nyaman dengan popoknya Athar pun menangis. Setelah di bersihkan Athar kembali menangis dan ternyata Athar lapar. Imel pun segera memberikan ASI nya pada Athar.
Mama Yuni dan Saras membantu Bi Imah menyiapkan makan siang untuk mereka semua. Tak di sangka Papa Bambang dan Bima pulang ke rumah sebelum waktu makan siang tiba. Mama Yuni dan Saras pun menyiapkan piring tambahan untuk Papa Bambang dan Bima. Bima mencuci tangannya kemudian menyusul Imel yang sedang menyusui Athar di dalam kamar.
__ADS_1
Bima selalu senang melihat moment Athar menyusu karena bagi Bima Athar sangat lucu saat menghisap susu dari sumbernya.
🌹🌹🌹