Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Luar Biasa


__ADS_3

Hingga Nita, Wulan dan Dini keluar Raka terus mengikuti mereka. Hingga Dini geram dan menghentikan langkahnya seketika membuat Raka kaget dan menabraknya. Bukan hanya Raka, Wulan dan Nita pun sama kagetnya.


Brakk..


"Eh, ma maaf." Raka.


"Lu ngapain ngikutin kita?" Tanya Dini datar.


Dini berani menghentikan langkahnya karena ada satpam di dekat mereka.


"Hah! Gw... Ngikutin? Ngga." Jawab Raka gugup.


"Owh! Klo gitu silahkan jalan lebih dulu." Dini.


"Te tentu..." Raka.


Raka pun jalan di depan mereka. Ketika Raka telah melangkahkan kakinya sedikit lebih jauh dari mereka bertiga Dini menarik Wulan dan Nita untuk bersembunyi di balik pos satpam. Raka menoleh kebelakang dan matanya meyapu seluruh ruangan di lantai tersebut. Tak ada Dini, Wulan dan Nita. Tidak mungkin mereka bisa menghilang begitu saja fikir Raka.


Dengan putus asa Raka pun keluar meninggalkan gedung mall tersebut tanpa informasi apapun dari ketiga sahabat Imel. Padahal Raka bisa saja bertanya baik-baik mengenai Imel pada mereka bertiga hanya saja Raka sedikit ragu ketika melihat adanya Nita di sana. Pasalnya dirinya sempat mendaptkan ancaman yang cukup serius ketika dirinya mengganggu Imel ketika bersama Nita.


"Huh..."


"Kenapa Kak?" Satpam.


"Itu Pak. Cowok tadi ngikutin kita terus sekarang dia udah pergi. Kasian sodara saya nih lagi hamil jadi susah buat kabur." Wulan.


"Walah, kenapa tidak lapor tadi Kak?" Satpam.


"Ini mau lapor tapi orangnya udah ga ada Pak. Makasih ya Pak udah ngijinin kita sembunyi di sini sebentar." Dini.


"Sama-sama. Hati-hati di jalan." Satpam.


"Iya Pak. Terima kasih." Dini.


Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka keluar dari mall tersebut. Karena mereka berencana untuk pulang. Supir mereka telah menunggu di lobi membuat mereka bisa lebih mudah langsung masuk. Sebelum masuk Dini dan Wulan mengecek keadaan mobil terlebih dahulu membuat supir mereka heran dengan kelakuan nyonya mereka.


"Ada apa Bu?" Tanya supir.


"Jaga-jaga siapa tau ada penyelinap." Wulan.


"Ga mungkin Bu. Ada mobil belakang kok." Supir.


"Hah! Siapa yang kirim?" Wulan.


"Bapak." Supir.


"Ya sudah. Ayo masuk aman." Wulan.

__ADS_1


"Hadeeuuuh.... Kenapa kita ampe lupa sih kalo kita bawa istri sultan." Dini.


"Hahaha... Jangan bilang begitu. Dodit akan memperlakukan hal yang sama ke lu." Nita.


"Jangan lu fikir lu aman ya Ta. Gw yakin Heru juga begitu." Wulan.


"Hahahaa...."


Hanya memerlukan waktu satu jam saja sampai akhirnya mereka sampai di rumah. Dan mereka bertiga pun harus berpisah. Wulan dan Dini harus mangasihi putra-putra nya sedangkan Nita kakinya sudah terasa cepat pegal setelah berjalan seharian tadi.


🎶🎶🎶


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya Bima sampai di kota tujuan. Steve dan istrinya menyambut kedatangan Bos sekaligus sahabatnya itu. Imel sedikit lega karena ada istri Steve yang dia kenal di negara orang.


"Akhirnya.... Apa kabar Bos?" Steve.


"Seperti yang lu liat gw baik-baik aja. Lu apa kabar?" Bima.


"Luar biasa baik." Steve.


"Hai... Masih ingat aku kan?" Mira istri Steve.


"Hai... Tentu." Imel.


"Pasti lelah kan ibu hamil ini. Kalo begitu kita langsung pergi saja." Ajak Mira.


"Masih dong Den." Pak Dimin.


Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah. Rumah Bima dan Steve cukup berdekatan hanya berbeda blok saja. Akan tetapi masih bisa di tempuh dengan berjalan kaki. Steve tidak membeli rumah di dekat Bima karena semua penuh terisi. Andai saja ada satu kosong sudah pasti Steve akan membelinya.


Sampai di rumah Steve mempersilahkan Bima dan Imel untuk beristirahat begitu juga dengan Bi Imah dan Pak Dimin. Mira sudah meminta art nya untuk menyiapkan makan malam mereka nanti. Jadi untuk malam ini Bi Imah masih bebas tugas. Karena Mira dan Steve pun membawa art dari tanah air juga saat mereka memiliki satu orang anak. Steve tidak ingin Mira kelelahan mengurus rumah dan putra mereka.


Sangat jarang di negara yang mereka tempati yang memiliki art seperti mereka. Hanya ada beberapa saja. Bahkan Bima pun tak menggunakan jasa art saat dirinya tinggal sendiri. Saat melihat rumah yang di miliki suaminya Imel begitu takjub Imel tak bisa membayangkan Bima membersihkan rumah itu sendiri dengan segala kesibukannya.


"Wah, dulu Mas tinggal disini?" Imel.


"Iya sayang." Bima.


"Dengan siapa?" Imel.


"Sendiri sayang. Sesekali ada Steve menginap. Atau Jo dan Arman yang Mas minta datang ke sini." Bima.


"Yakin hanya mereka?" Imel.


"Tidak ada beberapa teman Mas juga hanya saja tidak seperti Steve, Arman dan Jo. Mas tidak suka menerima tamu di rumah sayang. Mas lebih suka menyelesaikan semuanya di kantor jika itu urusan pekerjaan." Bima.


"Jika urusan hati?" Imel.

__ADS_1


"Sayang,,," Bima.


"Hanya bertanya Mas." Imel.


"Kamu bisa tanya Steve, Jo atau Arman. Hanya ada beberapa perempuan yang dekat dengan Mas dan itu pun tak seperti Mas memperlakukan kamu dulu. Mungkin itu yang membuat mereka akhirya pergi dan mencari yang lain. Karena obsesi Mas dalam berbisnis membuat Mas kurang peka terhadap lingkungan sekitar." Bima.


"Lantas jika salah satu dari mereka datang kembali dan menyesali kebodohannya telah meninggalkan Mas bagaimana?" Imel.


"Jika itu terjadi maka mereka hanya membuang waktu saja. Bagi Mas tidak ada istilah balikan. Bahkan jika Mas belum menikah sekalipun. Apalagi sekarang Mas sudah menikah dan memiliki istri yang sangat luar biasa. Untuk apa lagi yang lain." Bima.


"Gombal." Imel.


"Mas tidak pernah menggombal sayang. Jika pun iya. Hanya kamu satu-satunya wanita yang bisa membuat Mas gila." Bima.


"Yakin?" Imel.


"Sejuta persen." Bima.


Mereka saling berpelukan menyalurkan perasaan mereka walaupun sekarang sudah mulai terganjal oleh perut Imel yang semakin membesar. Bima membalikan Imel dan memeluknya dari belakangm Tangannya mengusap perut Imel dengan lembut.


"Sayang, apa kamu tidak ingin melihat apakah yang di dalam sini jagoan atau princess?" Bima.


"Di hati kecil Imel ada rasa penasaran itu Mas. Hanya saja Imel tidak ingin kecewa seandainya saja hasil komputer jagoan pas keluar princess." Imel.


"Masa ada yang begitu sayang?" Bima.


"Ada saja Mas. Jadi biarkan saja untuk kejutan." Imel.


"Lalu bagaimana nanti kamu beli perlengkapan untuk dia?" Bima.


"Kita beli yang netral saja dulu Mas. Jadi, apapun nanti hasilnya tidak membuat kita kecewa." Imel.


"Kamu tidak ingin seperti yang lain merayakan acara tebak jenis kelamin begitu?" Bima.


"Tidak Mas. Meskipun Imel acara tersebut tidak akan membuat suami Imel bangkrut. Hanya saja Imel kurnag menyukai keramaian apalagi acara-acara yang hanya membuat pusing kepala." Imel.


"Kok pusing? Nanti yang lain saja yang mengerjakannya sayang." Bima.


"Sudah Mas. Tidak perlu, kita bisa gunakan uangnya untuk keperluan yang lain. Memberikan santunan pada yang membutuhkan misalnya." Imel.


"Masya Allah... Bagaimana Mas mau cari yang lain coba jika yang di hadapan Mas ini begitu luar biasa." Bima.


"Love you.."


"Love you more.."


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2