
Bima pun akhirnya menemani Imel dan Mama Yuni berbelanja. Bima dengan sabar menemani dua wanita berbeda generasi itu memilih segalanya. Bima juga meminta salah satu orangnya untuk membawa belanjaan mereka berdua. Imel terlihat bersemangat berbelanja karena Bima selalu menemaninya.
Mama Yuni pun melihat aura yang berbeda saat Imel berbelanja bersamanya kemarin dan hari ini saat mereka berbelanja di temani oleh Bima. Mama Yuni pun bahagia riak badai diantara Bima dan Imel segera berlalu. Bima begitu mengerti akan Imel. Setelah selesai berbelanja Bima mengajak mereka untuk makan siang terlebih dahulu. Mereka pun memilih salah satu restoran yang ada di sana.
"Imel..."
Imel menoleh ke arah sumber suara. Imel sedikit heran di negara yang baru saja dia datangi ada orang yang mengenalnya.
"I..ra.."
"Hai Mel apakabar?" Tanya Ira berbasa-basi.
"Hai Ra. Kabar baik. Kamu sedang apa? Tidak bekerja?" Imel.
"Kerja Mel. Ini baru selesai meeting sama asistennya Pak Bos." Ira.
"Owh! Kenapa ga sama Pak Bosnya?" Tanya Imel berpura-pura tak tau siapa Pak Bos yang di maksud Ira.
"Ngga Mel. Pak Bos sibuk." Ira.
"Sayang," Panggil Bima.
"Ya Mas?" Imel.
"Ayo makan dulu. Ma, ayo." Ajak Bima.
"Ya udah. Klo gitu aku duluan ya Ra." Pamit Imel tanpa berniat mengenalkan Mama Yuni dan Bima.
"Apa kita bisa makan bersama? Kebetulan aku sendiri nih." Pinta Ira.
"Maaf. Kami sedang ada yang akan di bicarakan." Tolak Bima.
"Saya berjanji tidak akan ikut campur." Ucap Ira mengangkat dua jarinya.
"Maaf. Ini urusan keluarga." Mama Yuni.
"Maaf ya Ra. Kapan-kapan kita makan bersama." Imel.
"Baiklah." Jawab Ira lesu.
Maksud hati ingin makan bersama Bima namun apa daya Bima menolaknya dengan tegas. Bima tau itu hanya akal-akalan Ira untuk makan bersama mereka. Bima tak akan memberi celah wanita manapun untuk masuk kedalam hubungan mereka.
"Terima kasih.." Bisik Imel.
Cup...
Bima mengecup pelipis Imel dengan mesra. Mama Yuni bangga kepada putranya. Karena Bima mampu bersikap tegas di hadapan Imel. Mama Yuni sempat merasa khawatir ketika Bima belum juga menemukan pasangan. Mama Yuni takut jika Bima tidak akan mendapatkan yang baik. Namun, nyatanya semua hanya ketakutan semata. Terlambatnya Bima menikah karena menunggu pasangan yang tepat.
"Ma, besok Bima ada rapat di kantor. Mungkin akan sedikit terlambat pulang. Bima titip Imel ya Ma." Bima.
"Tenang saja. Selama Imel bersama Mama aman." Mama Yuni.
__ADS_1
"Besok Mas tinggal ya sayang. Ngga apa-apa kan?" Bima.
"Ngga Mas. Kan ada Mama sama Bi Imah di rumah. Besok sepertinya Imel mau beresin kamar buat baby kita sama Mama juga." Imel.
"Boleh sayang, tapi kamu jangan terlalu lelah yah." Bima.
"Iya Mas. Ga akan langsung sekaligus kok. Sedikit-sedikit saja di cicil." Imel.
"Baguslah." Bima.
"Nak, ada kabar dari Ibu?" Mama Yuni.
"Ada Mah. Kak Anya bisa pulang lebih cepat dari perkiraan. Karena kemajuan Kakak sangat pesat." Imel.
"Wah, hebat. Tapi, belum ada keputusan Ibu akan tinggal dimana?" Mama Yuni.
"Belum Ma. Rencananya nanti setelah Abang ketemu Papa." Imel.
"Titipan kamu buat Nita belum Papa berikan karena Ayah masih mengurus perusahaan." Mama Yuni.
"Iya Mah. Ngga apa-apa." Imel.
Obrolan mereka pun terhenti karena makanan yang mereka pesan datang. Bima dengan telaten menyuapi Imel. Begitu seperti biasa Bima lakukan jika dirinya makan bersama Imel. Setelah menyelesaikan makannya mereka pun segera pulang untuk mengistirahatkan diri setelah seharian penuh berbelanja.
Sampai di rumah Bima meminta Imel untuk beristirahat di kamar. Begitu juga dengan Mama Yuni. Bima menemani Imel sebentar sampai Imel tertidur barulah setelah itu Bima masuk ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang dikirim Steve melalui emailnya.
Tak lama Steve datang bersama seorang laki-laki yang berperawakan tinggi tegap. Bi Imah langsung meminta Steve untuk langsung ke ruangan Bima seperti permintaan Bima. Bi Imah pun langsung menyajikan minuman dan beberapa makanan untuk Bima dan dua orang tamunya.
"Hai, masuk Steve." Bima.
"Hai Bim, apa kabar?" Bram.
"Hai Bram. Kabar baik." Bima.
"Bram sudah menemukan datanya." Steve.
"Baiklah." Bima.
Bram pun segera menjelaskan apa yang di minta oleh Bima pada Steve. Bukan hanya Bima Steve pun tercengang mendengar penjelasan Bram. Steve memang meminta Bram untuk menjelaskannya langsung bersamaan di hadapan Bima.
"Apa Imel tau?" Bima.
"Tidak. Karena ketulusan Imel dan Nita membuat mereka tak menyadari hal itu." Bram.
"Keren juga ga kerjanya." Steve.
"Ga nyangka gw ada orang seperti dia." Bima.
"Ira pun tak menyangka jika calon suami yang di maksud Imel adalah Lu. Bos incarannya. Kinerja dia dalam bekerja memang patut di acungi jempol. Akademiknya pun tak main-main. Sama halnya dengan Imel dan Nita. Hanya saja Ira terlalu menatap ke atas." Bram.
"Lalu bagaimana selanjutnya?" Steve.
__ADS_1
"Kirim dia untuk pindah kantor yang minim berhubungan dengan kita." Bima.
"Astaga! Menyulitkan Bim." Steve.
"Bagaimana jika dia di simpan di proyek baru?" Bram.
"Ide bagus Bram." Steve.
"Tuker sama Lu aja Bram." Bima.
"Yakin Bro?" Bram.
"Yakin. Tapi, angkat Farel jadi pimpinan dan dia sekretarisnya saja." Bima.
"Waaah,,, gila Lu. Bisa kejang-kejang dia kerja sama si Farel." Bram.
"Bukan urusan gw." Bima.
"Perintah laksanakan Bos." Bram.
"Aman dong sekarang?" Steve.
"Sementara aman. Gw ga mungkin kerja sama orang yang tega sama istri gw sendiri." Bima.
"Gw ngerti Bro." Bram.
"Kalo gitu gw pamit Bro."
"Gw juga sekalian."
Keduanya pun berpamitan pulang. Bram senang bisa di tempatkan kembali di perusahaan awal yang telah mengangkat derajatnya dan juga keluarganya. Bima orang telah menolongnya dari keterpurukannya. Bahkan Bima selalu tegas dalam segala hal apalagi menyangkut keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Setelah pertemuannya dengan Steve dan Bram. Bima pun kembali ke kamar untuk membersihkan diri karena waktu sudah sore. Dan ternyata Imel sudah bangun bahkan sudah wangi dan tengah duduk di meja riasnya merapihkan rambutnya.
"Hai sayang! Sudah wangi aja nih.." Bima.
"Sudah dong Mas. Kata Bibi ada Steve sama temennya? Siapa?" Imel.
"Iya sama Bram anak cabang. Dia akan di mutasi ke kantor lama." Bima.
"Kenapa?" Imel.
"Karena sudah cukup dia di kantor cabang. Ada gilirannya lagi sayang." Bima.
"Hm.. Begitu. Ya sudah Mas mandi sana nanti kita turun. Imel buatkan kopi ya." Imel.
"Baiklah. Tapi, minta Bi Imah saja yang buatkan ya sayang. Mas khawatir kamu nanti pegang air panas." Bima.
"Mas,,, mulai deh."
🌹🌹🌹
__ADS_1