Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Tak Pernah Terfikir


__ADS_3

Karena Ibu Maryam ikut dengan orang tua Nita maka pagi ini Ibu Maryam sudah bersiap pulang juga bersama orang tua Nita. Orang tua Nita beserta Nita mendatangi rumah Imel untuk menjemput Ibu Maryam dan sekalian berkunjung karena sejak kedatangan mereka kemarin belum sempat berkunjung ke rumah Imel.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikum salam..."


"Eh, Mama Papa masuk. Masya Allah sampe jemput ke sini segala jadi ngerepotin." Imel.


"Ngga apa-apa sekian mampir, masa udah depan mata begini ga mampir sih." Mama Nita.


"Makasih Ma." Imel.


"Kalo gitu Ibu pamit dulu ya Nak Bima, Mel." Pamit Ibu Maryam.


"Iya Bu. Jaga kesehatan Ibu. Kalo ada apa-apa jangan sungkan menghubungi Imel atau Mas Bima." Imel.


"Iya sayang." Ibu Maryam.


"Nanti Bima kirim foto orangnya ya Bu." Bima.


"Iya Nak. Terima kasih banyak. Nanti Bang Juan akan menghubungi kamu." Ibu Maryam.


"Iya Bu. Om, Tante. Titip Ibu." Bima.


"Masya Allah. Iya. Ga usah di titipin juga in shaa Allah di jaga." Mama Nita.


"Iya Tante. Terima kasih." Bima.


Kalo begitu kita pamit dulu Nak." Papa Nita.


"Iya Om. Hati-hati di jalan." Bima.


Mereka pun mengantarkan hingga ke depan. Setelah mobil yang di kendarai Papa Nita menghilang dari pandangan barulah Heru dan Bima berpamitan pada istri-istri mereka. Nita dan Imel pun berpisah masuk ke rumah masing-masing setelah para suami mereka pergi kerja.


Imel seperti biasa menghabiskan waktu di taman milik mertuanya. Apapun Imel lakukan di sana untuk mengusir kejenuhannya. Biasanya akan di temani Bi Imah ketika pekerjaannya sudah selesai atau pekerjaannya akan di limpahkan pada yang lain ketika Imel memintanya untuk menemani dirinya.


"Ta,," Panggil Dini ketika memasuki rumah Nita.


"Kenapa Din?" Nita.


"Mama sama Papa udah jalan?" Dini.


"Udah. Ada apa? Mas Dodit ga nyariin lu?" Nita.


"Sekarang udah lumayan bisa di tinggal Ta. Berkat obat yang di berikan Imel." Dini.

__ADS_1


"Weh, tu bu dokter masih bisa kasih obat?" Nita.


"Masih banget. Dasar aja ga di pake sama dia." Dini.


"Terus gimana? Ada apa nih?" Nita.


"Ga kenapa-kenapa. Mami yang nyuruh gw ke luar rumah. Tadinya mau ke rumah Imel tapi ga jadi gw belok ke sini pas liat pintu lu ke buka." Dini.


"Ceh, dasar lu. Seperti uji coba gitu?" Nita.


"Iya. Mami kasian katanya sama gw jadi ga bisa full ngurus A." Dini.


"Kok bisa Mas Dodit ya yang baby blues?" Nita.


"Iya gw juga ga ngerti." Dini.


"Terus nanti gimana Mami nyariin lu?" Nita.


"Gampang. Kan gw bawa ponsel kadi Mami bisa menghubungi gw." Dini.


"Ya udah ke rumah Imel yuk. Si Wulan masih di rumah mertua." Nita.


"Ya ampun ampe kapan tuh ibu-ibu di sana?" Dini.


"Yah, lu tau sendiri kalo dia udah di sana mah." Nita.


Dari kejauhan Dini dan Nita melihat Imel yang sedang duduk sambil membaca buku. Hal yang sangat biasa mereka lihat ketika Imel sendiri. Bukulah yang selalu menjadi temannya. Buku apapun itu yang penting membuatnya happy. Lebih seringnya novel sebagai teman gabutnya.


"Selamat siang Oma cantik." Dini.


Imel tak menoleh sedikit pun karena Dini menyebutnya Oma. Imel paling ga suka jika di sebut Oma. Dirinya merasa setua Mama Yuni jika putra-putra Wulan dan Dini menyebutnya Oma.


"Caelah, Uti ngambek. Jangan ngambek Uti nanti cepet tua loh." Dini.


"Dih, ngapain kalian ke sini?" Imel.


"Si alan lu. Main lah ngapain lagi coba." Nita.


"Mana gantengnya gw?" Imel.


"Sama Mami sama Ayahnya." Dini.


"Yakin Lu?" Imel.


"Mami yang suruh. Katanya udah konsul sama lu." Dini.

__ADS_1


"Hm.." Jawab Imel singkat.


"Makasih ya Mel. Gw beruntung banget kenal lu dari awal sampe sekarang ga pernah nyangka lu jadi tante ge meskipun lewat jalur Mas Dodit." Dini.


"Gw dong paling beruntung bisa dekat dengan kalian. Dan gw juga makasih banyak sama lu Din berkat laki lu laki gw dapet kerjaan yang ga main-main." Nita.


"Gw juga beruntung kenal kalian. Danngw ga pernah berhenti bersyukur walaupun laki gw om-om." Imel.


"Hahaha..."


"Tapi om-om juga bikin lu ketagihan kan Mel." Goda Dini.


"Ish... Kalo itu sih tak ada duanya." Imel.


Cerita mereka pun harus terhenti karena Dini mendapat panggilan dari Mami mertuanya jika A kehausan. Dini pun segera pergi meninggalkan Nita dan imel. Imel dan Nita bercerita berdua mengenang masa sekolah dahulu. Tak pernah terfikirkan sedikitpun hidup mereka seperti sekarang ini. Akan tetapi walaupun segalanya seperti mudah mereka tak pernah berbuat semaunya dan menghamburkan apa yang mereka miliki.


"Gw fikir seteleh lulus kedokteran gw bakal bejibaku dengan berbagai pasien dengan berbagai karakter tapi nyatanya baru aja gw terjun udah ada yang ngelamar gw. Dan ga pernah terfikir kalo gw bisa dapet suami pengusaha." Imel.


"Bener banget. Gw juga begitu. Gw fikir setelah lulus gw sama Mas Heru sama-sama mencari pekerjaan untuk menopang hidup kami berdua. Nyatanya Mas Heru mendapatkan tawaran menjadi kepala cabang secara cuma-cuma dan kesempatan itu tak akan datang dua kali." Nita.


"Tuhan begitu baik sama Kita. Oleh karena itu, kita pun harus selalu bersyukur kepadaNya." Imel.


"Owh iya Mel. Kemarin gw liat di story orang ada yang ngadain kaya semacam jum'at berkah bagi-bagi makanan atau apa gitu. Kita bikin juga yuk." Nita.


"Wuih,, oke tuh. Kapan ya?" Imel.


"Nanti kita obrolin juga sama yang lain. Ya walaupun gw tau lu mah pasti mampu ngerjain sendiri." Nita.


"Eh, lain lagi dong itu mah." Imel.


"Ya udah. Sekalian juga lu tanya siapa tau mertua lu mau ikut juga." Nita.


"Iya. Besok Mama pulang jadi besok gw obrolin sama Mama. Kak Saras sama Kak Mel juga biar rame." Imel.


"Iya. Nanti gw ajakin Mama mertua juga." Nita.


"Nah, boleh tuh. Siapa aja pokoknya yang penting smeua kegiatannya positif." Imel.


"Betul bu dokter." Nita.


"Ish... jangan bawa-bawa dokter." Imel.


"Kenapa sih.." Nita.


"Ga enak aja sama yang lain Ta. Walaupun gw masih layak jual sih." Imel.

__ADS_1


"Astaga! Baju kali masih layak jual." Nita.


🌹🌹🌹


__ADS_2