
Pagi hari Ibu Maryam melihat Imel tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala. Nampaknya Imel ketiduran semalam setelah menemani Dini memasak mie untuk Wulan. Ibu Maryam segera membangunkan Imel dengan lembut dan memintanya untuk pindah ke kamar.
Bukannya pindah tidur Imel malah bangun dan pergi ke halaman samping rumahnya untuk menikmati udara pagi yang sejuk karena Ibu Maryam melarangnya masuk ke dapur. Imel menyibukkan dirinya dengan menyiram tanaman.
Dini yang bangun ingin membantu Ibu Maryam mengernyitkan dahinya melihat pintu samping sedikit terbuka. Dini pun terkejut dengan kedatangan Anya di sampingnya.
"Astagfirullah... Kakak. Ngagetin deh." Ucap Dini mengusap dadanya.
"Lagian kamu ngapain bengong di sini." Anya.
"Apa semalam aku lupa kunci pintu ya Kak?" Dini.
"Maksudnya?" Anya.
"Semalam kan Mas Dodit pulang larut terus apa aku lupa kunci pintu lagi?" Dini.
"Teh Leli kali keluar lupa tutup pintu lagi." Anya.
"Beneran?" Dini.
"Iya. Udah yuk ah." Ajak Anya menuju dapur.
Di dapur Anya dan Dini melihat Ibu Maryam dan Teh Leli sedang memasak keduanya pun saling pandang. Kemudian Anya menganggukkan kepalanya.
"Kalian ngapain bengong di situ? Ayo sini bantu kita." Ajak Ibu Maryam menyadari kedatangan Dini dan Anya.
"Aduh!" Dini.
"Kenapa?" Ibu Maryam.
"Dini minta maaf Bu. Sepertinya Dini semalam lupa mengunci pintu." Ucap Dini meminta maaf.
"Pintu mana?" Ibu Maryam.
"Pin..tu. Eh, tapi Mas Dodit lewat pintu depan Kak. Kok pintu samping yang terbuka ya?" Ucap Dini bingung.
"Ya jelas pintu samping yang kebuka Neng. Kan Neng Imel lagi nyiram bunga di samping." Teh Leli.
"Alhamdulillah..." Ucap Dini dan Anya bersamaan.
"Kalian kenapa?" Tanya Wulan yang baru saja turun dan ikut bergabung.
"Astagfirullah.." Ucap Dini dan Anya lagi bersamaan.
"Kenapa? Ada apa?" Wulan.
"Iih,,, Wulan. Lu jalan ga napak ya?" Dini.
"Ngawur... Lu fikir gw setan apa." Wulan.
"Sudah-sudah ayo siapa yang mau bantu sini." Ibu Maryam.
__ADS_1
"Ibu, Wulan mau bubur ayam buatan Ibu boleh?" Pinta Wulan merengek.
"Boleh. Tunggu dan duduklah di meja makan. Ibu akan membuatkan untuk kamu." Ibu Maryam.
"Terima kasih. Oma cantik." Ucap Wulan.
"Heh... Kenapa jadi Oma?" Dini.
"Kan Om kita mau nikahin Imel jadi otomatis Ibu jadi Oma kita." Wulan.
"Owh! Iya. Tapi, boleh Bu?" Dini.
"Apapun panggilannya sayang. Mau Ibu mau Oma senyamannya kalian saja." Ibu Maryam.
"Ibu Anya memang paling best." Puji Anya.
Kegiatan memasak pun terus berlanjut. Wulan dengan tenang menunggu bubur ayam yang tengah di buatkan oleh Ibu Maryam. Setelah selesai Ibu Maryam menghidangkannya di meja makan khusus untuk Wulan.
"Hmm... Wangi... Wulan makan ya Oma." Wulan.
"Sebentar tunggu sedikit dingin dulu." Ingat Ibu Maryam.
"Tapi, Wulan udah ngiler Oma." Rengek Wulan.
"Boleh tapi pelan-pelan ya." Ibu Maryam.
"Oke Oma." Wulan.
Saat Wulan hendak menyuapkan bubur ayamnya terlihat Imel baru saja memasuki rumah dengan segarnya karena telah bermain air. Wajah Wulan tampak berbinar melihat kedatangan Imel.
"Kenapa?" Imel.
"Mau di suapin." Pinta Wulan.
"Astaga... Manja sekali calon ponakan gw." Imel.
"Hus, ponakan apanya. Cucu dong." Sambar Dini.
"Eh, gimana ceritanya cucu." Protes Imel.
"Lah, masa nanti bayi Wulan manggil Om Bima Opa manggil Lu tante." Dini.
"Iii,,, jadi tua deh gw nikah sama Om-om." Imel.
"Hus... Sudah, ayo turuti maunya ibu hamil. Nanti bayinya ileran." Lerai Ibu Maryam.
Imel pun menyuapi Wulan dengan telaten hingga bubur di dalam mangkok tandas dan Wulan berhasil tidak mengeluarkannya kembali hingga siang. Juan begitu berterima kasih pada Imel karena semua makanan yang di masukkan kedalam mulut Wulan dari tangan Imel berhasil tidak keluar lagi.
Sayangnya siang itu mereka semua harus berpamitan untuk kembali ke kota Y dan menyisakan Imel saja. Dengan penuh drama perpisahan akhirnya mereka pun berpisah. Mata Imel bengkak karena menangisi sahabatnya yang harus kembali ke kota Y.
"Sabar sayang. Besok kamu juga ikut mereka ke sana." Ucap Ibu Maryam seraya mengusap rambut Imel yang tengah berbaring di pangkuannya.
__ADS_1
"Bu, besok ikut Imel aja ya." Pinta Imel.
"Ibu di sini saja. Kamu saja nanti yang sering-sering datang ke sini ya." Ibu Maryam.
"Pasti Bu. Imel akan minta Mas Bima antar Imel buat datang ke sini ketemu Ibu." Imel.
"Terus apa rencana kamu nanti? Apa akan bekerja setelah menikah?" Anya.
"Imel maunya kerja Kak. Tapi, nanti Imel bicarakan lagi dengan Mas Bima. Imel ga mau jadi istri durhaka." Canda Imel.
"Bagus seperti itu Sayang. Karena restu suami itu penting." Ibu Maryam.
"Iya Bu." Imel.
"Mel, besok fitting baju jangan lupa." Anya.
"Imel pergi sendiri?" Imel.
"Ngga dong. Nanti Kakak antar. Tapi, sebelumnya kita antar Ste sama Bi sekolah dulu." Anya.
"Oke. Berarti kita pergi pagi-pagi dong. Ibu ikut yah." Imel.
"Iya. Ibu ga bisa ikut sayang. Besok ibu ada acara sama ibu-ibu komplek." Ibu Maryam.
"Yaah... Ya udah. Tapi, ga apa-apa Imel pergi sama Kak Anya aja?" Imel.
"Ngga dong sayang. Weekend nanti Kak Lena juga datang bantu yang lainnya." Ibu Maryam.
"Pesenan Uwak udah Bu?" Anya.
"Besok sekalian kalian bawa antar ke rumah uwak ya." Ibu Maryam.
Sore hari Imel berenang bersama dua keponakannya untuk mengisi waktunya. Imel memang senang bermain bersama keponakan-keponakannya. Akan tambah ramai lagi jika ada dua anak dari Bagas dan Lena.
Bagas dan Lena memiliki dua anak laki-laki yang jarak usianya hanya berjarak dua tahun saja. Endru dan Aksel. mereka berdua sudah duduk di bangku sekolah dasar sama seperti Stela. Sedang Bian masih bersekolah di taman kanak-kanak.
"Tante,,, Bian mau pipis." Teriak Bian di samping kolam.
"Astaga Bian. Kebiasaan." Stela.
"Tunggu-tunggu Tante bantu ya." Imel.
Imel pun membantu Bian ke kamar mandi untuk membuang hajatnya. Setelah itu mereka kembali masuk ke dalam kolam. Lebih tepatnya mereka hanya bermain air daripada berenang.
"Neng Imel. Ponselnya bunyu." Teriak Teh Leli di samping kolam.
"Owh! Iya Teh. Makasih." Imel.
"Sama-sama Neng." Teh Leli.
Imel pun membuka panggilan yang masuk di ponselnya yang ternyata dari Bima. Bima memberitahukan jika dirinya akan kembali ke kota Y malam ini. Karena pekerjaannya telah usai. Walaupun mereka tak akan bertemu tapi berita kepulangan Bima sukses membuat Imel bahagia.
__ADS_1
Begitupun dengan Bima. Bima senang pekerjaannya segera terselesaikan dengan cepat bahkan lebih cepat dari perkiraannya. Bima pulang ke kota Y menggunakan pesawat pribadi keluarganya.
🌹🌹🌹