
Hari ini Wulan dan Juan akan mengadakan acara akikah putra pertama mereka. Usia G sekarang sudah menginjak satu bulan. Mereka sengaja mengadakan acara setelah G berusia satu bulan. Usia kehamilan Dini pun semakin besar. Keluarga Juan pun sudah berkumpul di rumah Wulan dan Juan.
Para sahabat Wulan trio bumil pun sudah terlihat kehadirannya. Heru yang masih belum terlihat kehadirannya. Heru harus bertemu kliennya terlebih dahulu di salah satu restoran yang tak jauh dari perusahaan yang di pimpin oleh dirinya. Ketika pertemuan usai. Heru segera menuju parkiran karena sudah di tunggu di rumah Wulan dan Juan. Namun langkahnya terhenti ketika ada seseorang yang memanggil namanya.
"Pak Heru."
Heru menoleh ke arah sumber suara dan keningnya sedikit berkerut ketika mengetahui siapa yang memanggilnya. Kemudian Heru memasang tampang biasa saja.
"Pak Raka. Apa kabar?" Tanya Heru berbasa-basi.
"Baik. Pak Heru sendiri apa kabar?" Raka.
"Alhamdulillah seperti yang Pak Raka lihat saya baik." Heru.
"Owh! Ya. Apa bapak mengganti nomer ponsel bapak?" Tanya Raka.
"Tidak. Ada apa ya?" Heru.
"Saya beberapa kali menghubungi anda tapi tak ada jawaban dan terakhir bukan anda yang menjawabnya." Raka.
"Mungkin bapak salah memasukkan satu digit angkanya." Heru.
"To the poin saja Pak. Saya bisa meminta nomer ponsel Imel?" Raka.
"Imel?" Tanya Heru berpura-pura berfikir.
"Iya. Imel sahabat dari istri anda." Raka.
"Owh! Maaf Pak Raka saya tidak memiliki nomer ponsel Imel. Tapi, jika ada hal yang penting saya punya nomer ponsel suaminya." Heru.
"Suami? Maksud anda suami Imel?" Raka.
"Ya. Saya tidak memiliki nomer ponsel Imel akan tetapi saya memiliki nomer ponsel suaminya. Jika ada hal penting anda bisa menghubungi suaminya." Jelas Heru santai.
"Imel sudah menikah?" Tanya Raka lagi.
"Iya. Maaf Pak Raka saya sedang di tunggu istri saya. Saya permisi duluan." Pamit Heru memutus obrolan mereka.
"Hah! Oh, iya silahkan Pak." Raka.
Tanpa banyak bicara lagi Heru pun segera memasuki mobilnya dan melajukannya keluar dari area parkir restoran meninggalkan Raka yang masih dengan fikirannya tentang suami Imel.
"Siapa suaminya? Apa Heru berbohong supaya gw ga deketin Imel lagi." Batin Raka.
Heru sampai di rumahnya memarkirkan mobilnya kemudian berjalan kaki menuju rumah Wulan dan Juan. Saat Heru tiba acara sudah berlangsung dan hampir selesai. Heru pun segera masuk dan mendekati sang istri.
__ADS_1
"Mas, kok lama?" Nita.
"Iya. Tadi ada sedikit kendala tapi alhamdulilah udah clear. Di tambah lagi tadi mas ketemu Raka." Bisik Heru.
"Hah! Terus ngapain dia?" Nita.
"Basa basi nanyain nomer ponsel Mas terus ujung-ujungnya nanyain Imel. Minta nope Imel." Heru.
"Terus di kasih?" Nita.
"Ngga lah. Mau di semprot Om Bima. Mas jawab aja klo Mas ga punya no Imel Mas punyanya nope suami Imel." Heru.
"Terus... Terus..." Nita.
"Terus dia bengong gitu ya udah Mas tinggal aja." Heru.
"Ish.. Jahat." Nita..
Setelah berbisik-bisik keduanya pun kembali mengarahkan perhatian mereka pada acara akikah putra pertama Wulan dan Juan hingga acara pun usai. Semua tamu undangan telah berpamitan pulang menyisakan keluarga dekat dan para sahabat saja.
"Ngga sekalian di gunduli Wu?" Dini.
"Besok saja tunggu agak gedean biar gede juga emasnya." Wulan.
"Ceh, ngga gitu juga kali Wu." Nita.
"Lagian tipis gitu tetep aja paling cuma nol koma sekian gram." Dini.
"Kan tambahin rambut emanya." Wulan.
"Dih, mamak sekejam itu kah."
"Hahahaa..."
Mama dan Papa Juan pun berpamitan begitu juga dengan keluarga yang lainnya menyisakan ketiga sahabat Wulan dan pasangannya. Mama Yuni dan Papa Bambang telah pulang lebih dulu. Wulan menidurkan Baby G di boks yang berada di bawah. Wulan sengaja menyediakannya agar tidak perlu bolak-balik ke atas.
"Om Bima, setelah menikah Imel belum pernah pergi ke luar sendiri?" Nita.
"Hm... Belum. Paling sama Mama atau ngga Kak Saras dan Kak Melati. Kenapa?" Bima.
"Ngga apa-apa. Raka masih nyariin Imel." Bisik Nita.
"Kamu kata siapa?" Bima.
"Barusan Mas Heru ketemu dia dan dia minta nomer ponselnya Imel." Nita.
__ADS_1
"Terus Heru kasih?" Bima.
"Iya kali. Ngga lah. Malah Mas Heru nawarin nomernya Om Bima." Nita.
"Eh,,," Bima.
"Tenang. Dianya ga mau kalo nomer Om Bima." Nita.
Bisik-bisik antara Nita dan Bima pun terhenti ketika yang lainnya sudah berkumpul kembali. Heru mendekati Bima dan Bima seakan tau apa yang akan di bicarakan oleh Heru. Bima pun segera mengkonfirmasi dengan kode.
"Nita sudah cerita." Bisik Bima.
"Om harus berhati-hati. Dia nekat orangnya. Walaupun istri-istri kita bukan wanita biasa kita patut waspada Om. Apalagi mereka tengah hamil." Heru.
"Terima kasih Her." Bima.
"Sama-sama Om." Heru.
Sore hari semua pun kembali ke rumah masing-masing. Wulan dan Juan saling bekerja sama kembali mengurus Baby G. Walaupun ada bibi di rumah mereka tapi Wulan selalu berusaha mengurus G sendiri.
Imel meringkuk di atas tempat tidur setelah mandi dan menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Bima harus mengecek pekerjaannya sebentar karena tadi dirinya absen ke kantor. Melihat sang istri meringkuk Bima pun menyelesaikan pekerjaannya dan menghampiri Imel.
"Sayang, ada yang kamu inginkan?" Tanya Bima duduk di sisi ranjang sambil mengusap lembut pipi Imel.
"Mas, kok perasaan aku ga enak ya Mas. Kita pulang ke rumah Ibu yuk." Ajak Imel.
"Kamu sudah menghubungi Ibu?" Bima.
Imel pun menggelengkan kepalanya.
"Coba di hubungi dulu saja sayang. Bukannya Mas tidak ingin mengantar. Mas sedang ada pekerjaan yang tidak bisa Mas tinggal." Bima.
Imel pun menurutinya. Imel mengambil ponselnya di atas nakas dan melakukan panggilan vidio pada Ibu Maryam. Dan ternyata Ibu Maryam baik-baik saja. Bahkan Ibu Maryam baru saja pulang selepas di ajak berjalan-jalan oleh keluarga Bagas.
"Gimana udah enakan?" Tanya Bima setelah panggilan terputus.
"Belum Mas. Ada apa ya? Imel takut Mas." Imel.
"Tenang sayang. Jangan berfikiran yang macam-macam kasian dd utunnya. Mas janji Mas akan berusaha menjaga kamu. Jika Mas kerja sebaiknya kamu di rumah saja dulu ya. Atau jika keluar rumah minta antar Mama sekalipun itu hanya ke rumah Wulan, Dini atau Nita." Bima.
"Iya Mas. Tapi, Mas hati-hati ya. Mas jangan tinggalin Imel." Imel.
"Iya sayang. Kita turun makan malam dulu ya." Bima.
Mereka berdua pun turun untuk makan malam bersama. Tidak hanya Bima. Juan, Dodit dan Heru pun melakukan hal yang sama pada istri-istri mereka. Untuk selalu waspada karena Raka pasti akan mengincar mereka untuk mendapatkan informasi mengenai Imel.
__ADS_1
🌹🌹🌹