
Hari ini setelah menghabiskan waktu kurang lebih dua minggu untuk Imel dan Bima berbulan madu akhirnya mereka berdua pulang ke tanah air. Bima dan Imel memutuskan untuk pulang ke rumah Ibu Maryam terlebih dahulu sebelum kembali ke kota Y.
Anya dan kedua putra putrinya telah menunggu kedatangan Imel dan Bima. Stella langsung berlonjak begitu melihat kedatangan Tante kesayangnnya. Stella melambai-lambai kan tangannya memberitahukan Imel tentang keberadaannya.
Imel membalas lambaian tangan Stella dengan menampilkan senyumannya. Bima dam Imel pun berjalan mendekati Anya dan kedua putra putrinya. Stella dan Bian menghambur kedalam pelukkan Imel begitu keduanya berdekatan dengan Imel.
Bima mengulurkan tangan kepada Anya dan menyalaminya hormat. Anya yang sudah terbiasa membalas uluran tangan Bima dan memeluknya. Di susul Imel melakukan hal yang sama dengan Anya.
"Apa kabar Kak?" Bima.
"Alhamdulillah baik. Kalian bagaimana? Sukses?" Anya.
"Alhamdulillah lancar Kak. Ibu tidak ikut?" Bima.
"Ibu menunggu kalian di rumah." Anya.
"Tapi Ibu sehat kan Kak?" Tanya Imel cemas.
"Tentu saja. Ibu hanya ingin memasakkan makanan kesukaan kalian sebelum kalian kembali ke kota Y." Anya.
"Astaga! Kami tidak langsung pulang hari ini Kak." Bima.
"Ya begitulah Ibu kita. Ayo. Mas Juna pasti sudah menunggu." Anya.
"Abang lepas dinas?" Bima.
"Ya baru saja satu jam yang lalu." Anya.
"Wah, senangnya bisa bersamaan pulang." Imel.
"Tante, apa Tante bawa oleh-oleh untuk kita?" Tanya Bian polos.
"Tentu saja. Setelah sampai rumah kita bongkar oleh-oleh untuk mu." Imel.
"Yeeaaa..." Sorak Stella dan Bian.
Sampai di rumah Imel dan Bara di sambut hangat oleh Ibu Maryam. Ciuman hangat mendarat di kening Imel dari sang Ibu tercinta. Mereka pun saling berpelukkan melepas rasa rindunya. Dan begitu juga yang di lakukan Ibu Maryam pada Juna putra pertamanya.
Pada Bima juga tentunya walaupun Bima menantu yang belum lama dia kenal namun tak menyurutkan Ibu Maryam untuk memberikan kasih sayang padanya. Semua mendapatkan kasih sayang yang sama darinya.
"Ibu sehat?" Imel.
"Seperti yang kamu lihat sayang.". Ibu Maryam.
"Alhamdulillah... Ibu harus selalu sehat dan bahagia ya." Imel.
__ADS_1
"Aamiin.." Ibu Maryam.
"Kalian bertiga istirahat saja dulu nanti makan siang bersama Ibu siapkan makanan kesukaan kalian." Titah Ibu Maryam.
"Baiklah. Juna ke kamar dulu ya Bu." Juna.
"Iya Sayang. Bima, Imel kalian juga istirahat ya." Ibu Maryam.
"Oke Bu." Imel.
"Tante,,, oleh-olehnya?" Tanya Bian mengingatkan.
"Nanti Tante ambilkan ya." Imel.
"Siap Tante..." Bian.
"Kalian ini malah ributin oleh-oleh. Om sama Tantenya masih capek itu loh." Ibu Maryam.
"Sejak Imel dan Bima sampai tadi mereka sudah bertanya tentang oleh-oleh Bu. Pantes saja mereka antusias banget Anya ajakin jemput Imel sama Bima." Anya.
"Woalah... Dasar anak-anak." Ibu Maryam.
"Dulu Teteh kecil juga gitu Teh. Kalo Bapak pulang dari hajatan yang di buru itu bungkusannya bukan bapaknya. Entah Bapak capek atau nggak setelah pulang perjalanan dari hajatan yang terpenting adalah bungkusan yang di dapat bapak." Teh Leli.
"Hahaa... Bener ya Teh. Aku juga dulu gitu pas almarhum masih ada. Yang pertama di tanya ya oleh-olehnya. Mau dari mana pun itu." Anya.
"Hahaha... Kayanya itu tradisi anak-anak ya Bu." Teh Leli.
"Iya. Karena anak-anak itu taunya mainan sama hadiah sudah." Ibu Maryam.
"Setuju." Anya.
Sementara Wulan yang mengetahui jika Imel dan Bima sudah tiba dan malah memilih pulang ke kota M terus merengek pada Juan untuk menjemput Bima dan Imel saat ini juga karena Wulan sudah sangat ingin bertemu dengan Imel. Saras dan Mama Yuni pun membujuk Wulan agar bersabar karena besok Bima dan Imel akan segera pulang ke kota Y.
Apalagi saat ini Juan tengah menghadiri rapat penting di perusahaan yang di pimpinnya. Juan tak bisa mewakilkan pada Ibnu sebagai asisten pribadinya. Papa Bambang pun di buat pusing oleh cucu pertamanya itu. Papa Bambang menghubungi Bima dan sayangnya ponsel Bima dan Imel masih dalam mode pesawat karena lelah keduanya pun tertidur setelah memberikan oleh-oleh pada dua keponakan Imel.
Papa Bambang pun heran apa mungkin Bima dan Imel delay penerbangannya. Tapi, menurut informasi pesawat yang di tumpangi Imel dan Bima sudah mendarat dua jam yang lalu. Bahkan Papa Bambang sampai menghubungi pilotnya langsung dan benar dirinya masih beristirahat sebelum penerbangan berikutnya.
Papa Bambang pun menghubungi Juan dan Juan pun tengah tertidur hanya saja ponselnya sudah tidak dalam mode pesawat. Juna sudah menggantinya begitu dirinya keluar dari bandara. Juna yang terusik oleh bunyi ponselnya pun segera bangun dari tidurnya.
"Halo." Juna.
"Nak Juna ini Papa Bambang."
"Oh iya Pah gimana?" Juna.
__ADS_1
"Apa Bima dan Imel sudah tiba?" Papa Bambang.
"Sidah Pah. Mereka sedang tidur mungkin." Juna.
"Syukurlah." Papa Bambang.
"Ada apa Pah?" Juna.
"Papa hubungi keduanya tak ada yang nyaut. Wulan terus merengek ketika tau saat ini Imel pulang dan Imel ada di sana." Papa Bambang.
"Owh! Begitu. Nanti Juna tanyakan pada Bima dan Imel. Tapi, sepertinya tadi Anya tanyakan kapan mereka pulang ke sana terus mereka jawab besok pagi Pah." Juna.
"Tidak masalah jika pulang ke sini kapan pun. Yang Papa khawatirkan ponsel mereka tak ada yang bisa di hubungi." Papa Bambang.
"Iya. Sudah Pah. Papa tenang saja ya." Juna.
"Ya sudah. Terima kasih. Maaf Papa menggangu istirahat kamu." Papa Bambang.
Panggilan pun berakhir. Juna meletakkan ponselnya di atas nakas dan kembali memejamkan matanya. Namun rasanya baru saja Juna memejamkan matanya Juna kembali tidurnya terusik.
"Hm.." Jawab Juna tanpa membuka matanya.
"Turun makan siang yuk sayang." Anya.
"Mas baru saja menutup mata Mas sayang." Rengek Juma.
"Kau yakin Mas?" Anya.
"Iya sayang. Tadi Mas nemerima telfon dari Papa Bambang." Juna.
"Ada apa?" Tanya Anya.
"Hanya mengkhawatirkan mereka saja. Pasalnya Wulan merengek meminta Bima dan Imel di jemput pulang.." Juna.
"Astaga! Wulan masih mau nempel Imel ya?" Anya.
"Sepertinya begitu." Juna.
"Alamat Bima sama Wulan rebutan Imel ini sih." Anya.
"Jangan lupa Imel punya banyak akal lepas dari Wulan Yang." Juna.
"Iya juga ya hahaha... Ya udah yuk makan dulu Mas." Ajak Anya.
Setelah mencuci mukanya terlebih dahulu Juna pun menyusul Anya ke meja makan. Terlihat sudah ada Imel dan Bima juga di meja makan. Juna pun memberitahukan jika Papa Bambang menghubunginya menanyakan mereka berdua. Tapi, Bima dan Imel tetap memutuskan pulang besok siang karena mereka masih ingin sedikit bersantai terlebih Imel yang pasti akan kewalahan menghadapi Ibu hamil yang tak lain dan tak bukan Wulan. Sahabat sekaligus keponakan dari sang suami.
__ADS_1
🌹🌹🌹