Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Rencana Dini Dan Nita


__ADS_3

Imel tak dapat menjawab pertanyaan Wulan dirinya hanya diam menunduk. Bima dengan santainya menjawab pertanyaan Wulan yang begitu penasaran.


"Bisa saja. Apa yang tidak bisa." Bima.


"Nah justru itu. Om kan pelit nih kok bisa kartu sakti itu berada di tangan Imel. Jangan-jangan kalian.." Wulan.


"Cocok.". Sambar Dodit.


"Hm... Bukan gitu. Itu karena aku lupa kasih pas kita pulang dari kota C." Imel.


"Maksud Lu?" Dini.


"Huh... Lu kan ketemu gw pas di mini market rest area. Nah, pas itu Om titip bawakan dulu kartunya tapi udah gitu gw lupa. Untung aja ga ilang. Kalo ilang ya ngga tau deh." Imel.


"Owh!!!"


Karena sudah larut. Dini, Imel dan Wulan pun berpamitan begitu juga dengan Heru, Juan dan Dodit. Dodit berpamitan untuk mengantarkan Dini terlebih dahulu kepada keluarganya.


Awalnya Dini menolak dan akan pulang bersama Nita, Imel dan Heru akan tetapi Dodit tetap ingin mengantarkannya. Karena sebelumnya Dodit yang menjemputnya maka Dodit jugalah yang harus mengantarkannya. Di perjalanan Nita dan Imel terus berbicara.


"Mel, lu beneran ga suka saka Om Bima?" Nita.


"Nggak." Jawab Imel tegas.


"Kenapa? Dia kan cakep Mel?" Heru.


"Iiih... Mas Heru, Nita. Dia kan Om-om masa gw sama Om-om sih.." Kesal Imel.


"Astaga! Mel, sama Abang Lu aja masih lebih tua Abang Lu kan?" Nita.


"Iya sih. Tapi, ngga ah.... Masa ntar Wulan panggil gw tante. Aaa... Ngga...." Ucap Imel geli sendiri.


"Hahahaa... Terus Lu mau balikan sama Raka?" Nita.


"Dih, kenapa lu bawa-bawa dia?" Imel.


"Yang ge denger dari si Ilham Raka udah bubar sama si Anggi." Nita.


"Terus apa hubungannya sama gw?" Imel.


"Karen dia mau balikan sama Lu Mel." Nita.


"No! Big No! Enak aja emang gw apaan." Imel.


"Ya terus lu mau nya gimana? Sama Om Bima ga mau balikan sama Raka juga ga mau." Nita.


"Ya Ampun Nit. Ga ada rekomendasi cowok lain gitu?" Imel.


"Ngga. Soalnya gw ga suka berandai-andai. Yang ada di depan mata aja." Nita.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di kost. Nita dan Imel turun dari mobil Heru. Heru pun kembali melanjutkan perjalanannya. Dari mobil Dodit Dini pun keluar. Dan mobil Dodit pun pergi juga.

__ADS_1


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah kost dan masuk kedalam kamar masing-masing. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian Imel pun segera membaringkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya.


"Huh... Emang iya ya Om Bima suka sama gw?! Aaarrgggghhh.... Terserah." Teriak Imel.


Imel pun berguling-guling di atas tempat tidurnya dan tak terasa hingga tertidur dengan posisi yang tak beraturan. Pagi hari Dini dan Nita mengajak Imel untuk olah raga pagi tapi Imel menolaknya karena dirinya baru saja bangun.


"Loh, tumben? Begadang?" Tanya Dini dan hanya di jawab anggukan oleh Imel.


"Ngerjain apaan sih ampe begadang Mel. Bukannya hari ini kamu masih libur?" Nita.


"Ga ada. Udah ah.... Sana kalian pergi aku mau rebahan lagi. Eh, titip bubur ayam ya." Imel.


"Bubur ayam apa penjualnya?" Nita.


"Pabriknya." Imel.


Dini dan Nita pun meninggalkan Imel di kost. Sementara Imel tak dapat memejamkan matanya kembali. Akhirnya Imel memilih mencuci pakaiannya yang kemarin dia pakai dan menggosok pakaiannya yang sudah kering.


Imel memang sangat menyukai kerapihan. Kamarnya tertata dengan baik walaupun dirinya begitu sibuk. Me time yang dia gunakan adalah membersihkan kamar kostnya.


"Din, gw semalam nanya sama Imel tentang perasaannya sama Om Bima." Nita.


"G*** lu. Terus reaksi dia gimana?" Dini.


"Dia jawab Ngga doang. Terus pas gw kasih tau kalo Raka udah bubar sama si Anggi dia juga biasa aja. Gw curiga dia ada gebetan lain tapi belum bilang ke kita." Nita.


"Kayanya ngga deh Nit. Kita tau banget gimana dia. Apapun pasti dia bilang ke kita." Dini.


"Serius Lu?" Dini.


"Serius gw. Dia bilang gitu semalem." Nita.


"Seru nih kalo Wulan tau. Udah bisa di pastikan Wulan terus godain Imel dengan panggilan Tante." Dini.


"Hahaha..."


Keduanya pun tertawa bersama. Selesai joging Dini dan Nita membeli sarapan untuk mereka dan juga Imel. Mereka pun memutuskan untuk sarapan bubur juga. Setelah mendapatkan apa yang mereka pesan mereka berdua pun pulang.


"Nih, Bubur lu." Nita.


"Makasih sayang akuh." Imel.


"Ceh, gw ngga sayang lu?" Dini.


"Iya Makasih sayang-sayangnya aku." Imel.


"Jangan lupa bayar ya." Dini.


"Astagfirullah! Punya cowok kaya masih minta tagihan bubur ayam semangkok." Imel.


"Cowok gw kaya tapi kan calon laki lu lebih kaya." Goda Dini.

__ADS_1


"Eh, siapa?" Imel.


"Mas Bima." Ucap Nita dan Dini bersamaan.


"Eeh... Sejak kapan kalian bilang Mas ke dia?" Imel.


"Aduuh... Maaf deh. Cemburu ya." Dini.


"Makan ah laper." Ucap Imel mengalihkan obrolannya.


Dini dan Nita saling pandang kemudian tertawa bersama. Imel tak memperdulikan keduanya. Dirinya sibuk dengan buburnya. Kemudian Nita dan Dini pun mengikutinya memakan bubur yang baru mereka beli.


"Mel, masih lama lu Insip?" Dini.


"Sebulan lagi lah." Imel.


"Terus rencana Lu mau gimana?" Nita.


"Belum tau." Imel.


"Kalo Lu Nit?" Dini.


"Kalo gw turut suami aja." Nita.


"Dih, nikah juga belum." Imel.


"Setelah wisuda nanti Mas Her mau lamar gw terus nikah." Nita.


"Lu Din?" Imel.


"Dodit mau lamar gw sebelum acara wisuda. Jadi, pas gw balik besok dia mau lamar gw." Dini.


"Yaah... Gw ga bisa dateng dong Din?" Imel.


"Dih, harus dong." Dini.


"Tapi, lu balik minggu depan. Gw ada ujian gimana dong?" Imel.


"Gampang. Lu ujian aja dulu terus siangnya kita pergi ke tempat Dini." Usul Nita.


"Lah, dari sini ke tempat Dini kan jauh Nita." Imel.


"Ga sejauh ke kampung halaman kita Mel. Santai aja. Kemarin aja kita sampe ke kampung halaman kita." Nita.


"Semoga semua lancar ya. Gw juga bisa ke sana." Imel.


"Aamiin."


Setelah menyelesaikan sarapan mereka. Ketiganya kembali ke aktivitas masing-masing. Dini yang berencana pulang pun mulai membenahi kamar kost nya karena beberapa barangnya akan di bawa pulang.


Nita pun melakukan hal yang sama jika Nita tak akan pulang karena kedua orang tuannya yang akan datang ke kota Y. Jadi sebagian barang Nita akan di bawa oleh keluarganya. Sedangkan Imel masih harus sedikit berjuang demi mendapatkan ijin prakteknya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2