
Bulan ini Papa Bambang benar-benar menepati ucapannya untuk pulang terlebih dahulu demi menyerahkan kerajaan bisnisnya pada Kakak tertua Imel. Dirinya benar-benar yakin jika Juna bisa menjalankan kerajaan bisnisnya karena background pendidikan Juna. Karena Juna bukan hanya seorang pilot dirinya juga memiliki pendidikan yang tidaka bisa di pandang sebelah mata.
Kakak kedua Imel juga memimpin perusahaan cabang yang di pimpin oleh Bima. Akan tetapi itu hanya kebetulan saja tanpa tau jika adik bungsunya akan menikah dengan ceo dari perusahaan yang di pimpinnya. Papa Bambang mengetahui latar belakang Juna dari Bagas saat Papa Bambang melakukan tinjauan. Bagas pun begitu terkejut saat Papa Bambang menawarkan jabatannya untuk Juna.
Bukan iri karena dirinya pun memang sudah bekerja sama dengan anak perusahaan Bima yang dalam satu nauangan dengan perusahaan beliau. Hanya saja Bagas tidak yakin jika Juna mau menerimanya karena Juna memang selalu menolak jika di tawari untuk berhenti menjadi pilot untuk terjun sebagai pembisnis. Namun, perkiraannya kali ini meleset. Juna mau menanggalkan segala sesuatu mengenai pilot demi melanjutkan kerajaan bisnis dari Papa Bambang.
Bagas pun bangga kepada Kakak pertamanya itu. Salut karena Juna mau meninggalkan apa yang selalu menjadi impiannya. Hari ini Mama Yuni dan Imel pergi mengantarkan Papa Bambang hingga ke bandara. Tanpa Bima karena proyeknya mulai sibuk karena Bima ingin lebih cepat selesai walaupun itu rasanya tak mungkin.
"Sayang, kita mampir belanja dulu saja ya sekalian." Ajak Mama Yuni.
"Iya Mah. Sebentar Imel kabarin Mas dulu." Imel.
"Iya. Bilang kita ga lama. Makan siang di rumah." Mama Yuni.
"Iya Mah." Imel.
Saat mereka berbelanja Imel melihat orang yang tak asing baginya berjalan berdua bersama seorang perempuan yang juga tak asing.
Deg
Imel menghentikan langkahnya seketika.
"Ada apa?" Mama Yuni.
"Hah! Tidak ada. Hanya sedikit pegal Mah." Asal Imel.
"Aduh sayang. Cucu Mama sudah berat ya. Sabar ya sayang." Ucap Mama Yuni mengusap perut Imel.
"Iya Mah. Ayo kita jalan lagi Ma." Ajak Imel.
Mereka pun pergi ke toko yang mereka tuju membeli beberapa perlengkapan bayi yang mereka butuhkan kemudian mereka segera pulang. Dan saat perjalanan keluar dari mall Imel kembali menangkap dua orang yang tak asing baginya tengah berbincang di kafe tak jauh dari toko yang dia datangi.
__ADS_1
Deg...
"Kenapa? Sakit kakinya? Mau Mama bawain kursi roda?" Mama Yuni.
"Tidak usah Mah. Imel masih bisa kok." Elak Imel.
Tanpa terasa kini air matanya meluncur tanpa permisi. Mama Yuni pun panik melihat Imel menangis.
"Sayang, sakit banget ya?" Tanya Mama Yuni.
"Iya Mah. Sebentar Imel gerakan nanti biasa lagi kok." Imel.
"Ya sudah ayo. Hati-hati jalannya." Ucap Mama Yuni memapah Imel.
Namun entah mengapa air matanya tak kunjung berhenti mengalir. Hingga sampai di rumah Imel terus menangis yang Mama Yuni fikir itu karena kakinya. Mama Yuni pun meminta Bi Imah memijat kaki Imel saat setelah sampai di rumah akan tetapi Imel menolaknya karena memang kakinya baik-baik saja walau rasa pegal itu sebenarnya ada.
"Imel mau istirahat saja dulu Mah. Nanti saat makan siang Imel mau di kamar saja ya Mah. Boleh?" Imel.
"Terima kasih Mah. Imel ke kamar dulu." Pamit Imel.
"Iya sayangm Hati-hati."
"Tolong di antar Bi." Titah Mama Yuni pada Bi Imah.
Dengan di antarkan oleh Bi Imah Imel pun masuk ke dalam kamar. Setelah Bi Imah pergi Imel hanya diam menatap ke luar jendela sambil mengusap perutnya. Air matanya terus mengalir deras di pipinya. Entah apa yang di fikirkannya. Kemudian Imel merebahkan dirinya di sisi tempat tidur. Fikirannya berkelana entah kemana. Terdengar bunyi notifikasi di ponselnya tapi Imel mengacuhkannya.
Saat jam makan siang Bi Imah datang membawakan makanan dan susu. Imel hanya diam dan meminta Bi Imah menyimpan makanannya di atas meja kecil yang berada di kamarnya. Bi Imah pun menaruhnya dan kembali ke luar kamar Imel. Bi Imah sedikit aneh melihat Imel yang hanya diam tanpa menyambutnya saat datang.
"Ada apa Bi?" Tanya Mama Yuni ketika melihat Bi Imah melamun.
"Hah! Tidak Nyonya. Hanya saja saya tidak yakin jika Nyonya Imel hanya sakit di kakinya. Maaf Nyonya jika saya lancang." Bi Imah.
__ADS_1
"Maksud Bibi ada yang lain yang menbuatnya menangis?" Mama Yuni.
"Sepertinya begitu Nyonya. Karena tak biasanya Nyonya Imel diam membisu." Bi Imah.
"Mungkin hanya merindukan Bima saja Bi." Mama Yuni.
"Semoga begitu ya Nyonya. Karena perasaan ibu hamil sangat sensitif." Bi Imah.
"Iya Bi. Nanti biar saya hubungi Bima setelah makan." Mama Yuni.
"Baik Nyonya. Saya permisi kebelakang." Bi Imah.
Mama Yuni pun makan sendiri di meja makan. Saat makan tak dalat di pungkiri Mama Yuni pun memikirkan apa yang di katakan oleh Bi Imah. Mama Yuni pun mengetik pesan pada Steve menanyakan keberadaan Bima.
"Steve, apa hari ini Bima sibuk?" Tulis Mama Yuni pada layar ponselnya dan di kirimkan pada Steve.
Tak butuh waktu lama Steve pun membalas chat dari Mama Yuni.
"Hari ini Bos ada beberpaa pertemuan di luar kantor Nyonya." Balas Steve.
"Apa kau bersamanya?" Balas Mama Yuni lagi.
"Tidak Nyonya. Saya harus menghadiri beberpaa pertemuan juga. Bos di temani oleh Ira sekretaris Bos. Ada apa Nyonya?" Balas Chat Steve.
"Tidak. Biar saya hubungi Bima saja." Tutup Mama Yuni pada pesan yang di kirimnya.
Mama Yuni pun segera menghabiskan makan siangnya dan duduk di sofa ruang keluarga. Mama Yuni beberapa kali memencet tombol panggilan pada Bima namun sayang tak ada balasan satu pun. Mama Yuni pun mengetik pesan pada Bima dan nihil tak ada jawaban sama sekali. Mama Yuni semakin penasaran dan kesal karena cemas memikirkan perkataan Bi Imah tentang Imel.Sedang dirinya tak berani banyak bertanya pada menantunya itu.
Bima yang tengah berada di luar bertemu dengan beberapa kliennya sengaja tidak menyalakan notifikasi ponselnya karena takut mengganggu pertemuan mereka. Bima hanya menggetarkan dering ponselnya. Bima merasakan ponselnya terus bergetar hanya saja pertemuannya tidak memungkinkan Bima untuk membuka ponselnya.
Hingga malam Bima belum juga datang. Dan Imel pun tak kunjung keluar dari kamarnya. Saat Bi Imah mengetuk pintu kamarnya tak ada jawaban sama sekali dan Bi Imah pun memberanikan diri membuka pintu kamar Imel dan di lihatnya Imel tengah meringkuk di atas tenpat tidur Bi Imah pun kembali menutup pintunya tak ingin mengganggu Nyonya nya.
__ADS_1
🌹🌹🌹