
Pagi yang cerah dimana saat Imel membuka matanya pemandangan pertama yang terlihat adalah Bima yang masih terlelap. Bukan karena Bima ada di sampingnya karena hampir setiap pagi Bima selalu ada di sampingnya saat dirinya membuka mata melainkan suasana rumah yang begitu dia rindukan.
Imel merentangkan tangannya kemudian duduk kakinya di turunkan dan di langkahkan kakinya menuju balkon kamarnya. Imel membuka sedikit tirai yang menutupi pintu kaca kamarnya dan melihat begitu indah pemandangan yang selalu dia rindukan. Imel pun membuka pintu dan aroma sejuk pagi hari menyeruak di indra penciumannya.
Imel memejamkan matanya menikmati udara pagi yang begitu khas. Imel berdiri melihat sekeliling kebun yang di buat oleh Papa Bambang. Matanya tertuju pada kolam ikan yang di buatnya dengan suara gemericik air yang memanjakan gendang telinganya. Tiba-tiba saja ada tangan kekar melingkar di pinggang rampingnya. Siapa lagi pelakunya jika bukan Bima sang suami yang terbangun ketika menyadari tak ada istri tercinta di sampingnya.
"Ngapain hm? Ini masih pagi." Bima.
"Menikmati suasana pagi yang berbeda Mas." Imel.
"Kamu begitu merindukan rumah ini?" Bima.
"Hm.." Imel.
"Apa kamu ingin kita ke kota kelahiran mu?" Bima.
"Ingin. Tapi, biarkan Athar dan Gendis beristirahat dulu saja. Bukankah kita bisa pergi ke sana kapan saja?" Imel.
"Kapanpun kamu mau sayang." Bima.
"Ada yang kamu inginkan sayang?" Tanya Bima kemudian.
"Tidak. Imel hanya ingin Mas selalu berada di samping Imel. Karena anak-anak akan memiliki dunianya sendiri. Imel mau kita selalu bersama dalam keadaan apapun." Imel.
"Semua untukmu sayang." Ucap Bima di akhiri dengan mendaratkan kecupan di pipi Imel.
"Terima kasih Mas." Imel.
Bima tak menjawab tangannya menelusup di balik piyama tidur yang Imel kenakan membuat Imel menggelinjang.
"Mas, masih dua hari lagi loh." Ucap Imel mengingatkan.
"Itu kan waktu LN sayang. Sekarang saja Mas ga kuat." Bima.
Dalam hitungan detik Imel pun tak kuasa menahan serangan pagi yang Bima berikan. Mulut berkata tidak tapi tubuhnya merespon iya. Dan mereka pun terkapar di tempat tidur hingga sang fajar menampakkan sinarnya. Tangisan Gendis tak membuat Imel membuka matanya. Bima benar-benar membuatnya kelelahan. Entah berapa kali Imel di buat melayang ke nirwana oleh Bima.
__ADS_1
Bima yang baru berbuka puasa pun begitu kalap menikmati buka puasanya. Bagai tak ada waktu lagi Bima begitu rakus memangsa mangsanya. Hingga ketukan atau lebih tepatnya gedoran di pintu kamar mereka yang memaksa mereka untuk membuka mata. Bima turun dari tempat tidurnya dan berjalan dengan malas untuk membuka pintu dan melihat siapa pelaku yang membuat gaduh tidurnya.
"Tunggu... Sabar." Bima.
"Astaga! Bimantara! Pakai bajumu dulu sebelum membuka pintu." Teriak Mama Yuni yang melihat putra bungsunya yang hanya mengenakan boxer saja.
"Astaga! Kenapa sih Ma? Masih pagi juga udah teriak-teriak." Protes Bima.
"Pagi katamu. Lihat sudah jam berapa sekarang? Mana Imel. Gendis menangis sejak tadi mencarinya." Mama Yuni.
"Imel masih tidur Ma. Sebentar lagi kami turun." Bima.
"Cepat atau kalian akan melewatkan jam makan siang juga." Omel Mama Yuni sambil berlalu meninggalkan Bima.
"Jam makan siang. Mana mungkin sarapan saja belum." Batin Bima.
Namun saat dirinya membalikkan badan dan berniat kembali tertidur bersama istri tercintanya Bima membulatkan matanya ketika melihat jam yang menggantung di dinding menunjukkan waktu hampir makan siang.
"Astaga! Sayang, bangunlah. Kita sudah sangat kesiangan." Ucap Bima menbangunkan Imel perlahan.
"Hm... Sebentar lagi Mas." Jawab Imel dengan suara seraknya.
Imel pun segera bangun dan terduduk membuat bagian atas tubuhnya terekspos begitu saja. Dirinya melupakan jika pakaiannya masih tergeletak di lantai karena perbuatan Bima pagi tadi.
"Sayang, kenapa kamu menggoda ku lagi hm?" Ucap Bima mengerlingkan matanya.
"Menggoda? Bukannya Mas yang goda aku tadi sampai aku kesiangan begini." Oceh Imel.
Namun saat dirinya menyingkirkan selimut yang menutupi bagian kakinya barulah Imel tersadar jika dirinya belum mengenakan apapun. Imel pun menjerit dan menarik kembali selimut yang baru saja di campakkan olehnya.
"Mas Bima..." Teriak Imel.
Bima pun tergelak kemudian membantu Imel masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Tapi, bukannya Imel bisa dengan cepat mandi Bima malah membuatnya mandi dengan lama. Karena bantuannya untuk membawa Imel ke kamar mandi tidak cuma-cuma di lakukannya tapi dengan satu tujuan.
Keluar dari kamar mandi Imel menekuk wajahnya karena kesal Bima terus membuatnya kelelahan. Belum lagi Mama Yuni yang bolak balik mengetuk pintu untuk memanggil dirinya karena Gendis yang begitu rewel. Selesai mengenakan pakaiannya Imel segera keluar menemui putra dan putrinya.
__ADS_1
"Huaa...." Tangis Athar pecah saat melihat Imel menghampirinya.
Dan bersamaan tangis Gendis pun pecah karena mendengar sang Kakak menangis.
"Cup... cup .... Kesayang Mami kenapa menangis." Sambut Imel pada putra dan putrinya.
Imel pun membawa Gendis kedalam pangkuannya begitu pun dengan Athar. Awalnya Imel berniat ingin mengisi perutnya terlebih dahulu karena rasa laparnya setelah memanjakan suaminya namun, melihat tangis kedua putra putri nya membuat Imel melupakan rasa laparnya.
Imel langsung memberikan Gendis ASI sedang Athar terus berada di sampingnya.
"Athar mungkin kaget dengan suasana rumah. Gendis kelelahan. Kalian ngapain aja sih sampe bangun siang begini?" Berondong Mama Yuni.
"Ceh, Mama kaya ga muda aja." Bima.
"Dasar anaj kurang garam. Awas ya kamu bikin menantu Mama mlendung lagi. Bukannya ga boleh tunggu anak kalian besar dulu." Omel Mama Yuni.
"Owh! Tenang Mah, Aman.. Iya kan sayang." Ucap Bima meminta persetujuan Imel.
"Kamu udah pake kontrasepsi?" Tanya Mama Yuni.
"Sudah Mah. Pas masih di sana. Takut kelupaan lagi kalo mau pake di sini." Imel.
"Nah, itu baru menantu Mama. Mengerti kalo suaminya kucing garong." Mama Yuni.
"Astaga! Mama mamanya kucing garong dong." Bima.
"Issh!!! Anak ini." Greget Mama Yuni.
"Ada apa?" Tanya Papa Bambang yang baru saja ikut bergabung setelah membersihkan diri pulang dari kebun.
"Anak mu ini kurang ajar sama Mama. Masa mama di katain mamanya kucing garong." Adu Mama Yuni.
"Lah, orang Mama yang bilang aku kucing garong. Kan berarti Mama mamanya kucing garong dong ya Pah." Jelas Bima meminta persetujuan Papa Bambang.
"Lah, Papa papanya kucing garong dong?!" Jawab Papa Bambang nyeleneh.
__ADS_1
Hahahaha .... Gelak tawa pun pecah di antara mereka membuat Gendis yang tengah mengasihi terkejut dan menangis. Imel pun segera menenangkannya dan memberikan ASI nya kembali. Namun tidak dengan Athar yang sudah terbiasa mendengar para orang dewasa berkelakar.
🌹🌹🌹