
Rombongan Wulan sampai di kota C sudah larut malam. Namun, karena Wulan mencemaskan Imel Wulan meminta Bima menggunakan kekuasaannya untuk bisa masuk kedalam rumah sakit.
"Maaf permisi pasien atas nama Bapak Agus Mulyawan di ruang mana ya?" Tanya Wulan.
"Sebentar saya lihat dulu Mba." Jawab perawat yang bertugas di IGD.
"Di ruang VIP Mba. Tapi jam besuk baru besok pagi." Ujar si perawat.
"Tidak masalah. Terima kasih." Wulan.
"Sama-sama." Perawat.
Wulan dan rombongan pun tetap berjalan menuju ruang VIP. Saat langkah Wulan hampir dekat dengan ruang VIP Wulan melihat sosok Imel berjalan di depannya.
"Itu Imel." Tunjuk Wulan.
"Hus... Jangan asal Lu. Ini tengah malem loh Lan." Nita.
"Astaga! Beneran itu Imel iya kan Om?" Tanya Wulan pada Bima.
"Mana Om tau." Bima.
"Iisshh... Om Ini." Wulan.
"Imel." Panggil Wulan.
Merasa ada yang memanggil Imel pun menoleh dan matanya membulat ketika menemukan rombongan Sahabatnya.
"Wulan, Dini, Nita." Ucapnya tak menyangka jika mereka ada di hadapannya sekarang.
Wulan berlari dan menghambur memeluk Imel di ikuti oleh Dini dan Nita. Mereka berempat pun saling berpelukkan bersama.
"Selamat buat kalian ya. Maaf gw ga bisa nemenin kalian pas sidang." Imel.
"Ga apa-apa Mel. Kita juga minta maaf ga ada di saat lu butuh kita." Dini.
"Kalian kenapa bisa ke sini? Tau dari mana?" Tanya Imel setelah pelukan mereka terurai.
"Dari Om Bima." Jawab mereka serentak.
"Hah!" Imel.
"Kenapa kamu ga bilang atau chat kita sih Mel. Jahat! Kenapa kamu cuma bilang sama Om Bima?" Nita.
"Hah! Maaf Nit. Gw ga sempet. Gw panik. Soalnya Ayah langsung masuk ICU. Tapi, Alhamdulillah keadaan Ayah membaik makanya Ayah sudah di pindahkan. Jadi, gw ga bilang sama siapapun." Jelas Imel.
"Kok Om Bima tau Mel?" Tanya Nita keukeuh.
Imel hanya menggelengkan kepalanya tanda tak tau. Karena Anya kakak iparnya pun lupa belum mengatakan pada Imel jika Bima menghubunginya tadi sore. Imel hanya melihat beberapa panggilan tak terjawab tali belum membukanya.
"Gw juga belum buka ponsel lagi. Tadi pas gw jalan ke sini hp gw low terus mati. Pas udah nyala gw belum buka-buka." Imel.
"Kebiasaan banget sih Lu Mel. Kalo ada apa-apa sama lu gimana coba?" Wulan.
"Iya sorry. Namanya juga panik Lan." Imel.
"Ya udah. Kita temenin Lu ya." Dini.
"Ga usah Din. Ada Abang gw juga kok. Ini gw abis nyari kopi." Imel.
__ADS_1
"Eh, tapi. Kalian tidur dimana?" Tanya Imel.
"Tenang Mel. Kan rumah ortu gw deket sini." Nita.
"Astaga! Kenapa gw bisa lupa. Ya udah. Kalian istirahat aja dulu. Pasti capek kan abis perjalanan jauh." Imel.
"Ya udah. Kita ke rumah Nita dulu ya Mel. Besok kita balik lagi." Pamit Wulan.
"Oke. Hati-hati. Makasih ya." Imel.
Mereka pun berpamitan kemudian saat akan melangkah dan Wulan melihat Bima ikut melangkahkan kakinya Wulan pun menghentikannya.
"Loh, Om mau kemana?" Tanya Wulan.
"Pulang." Bima.
"Ngga. Om disini aja. Besok kita jemput Om lagi ke sini." Wulan.
"Wulan jangan ngaco ya kamu." Bima.
"Ini hukuman buat Om karena udah nyembunyiin Imel." Wulan.
"Om ga nyembunyiin temen kamu Wulan." Bima.
"Tapi Om diem aja padahal Om tau dimana Imel." Wulan.
"Astaga Wulan. Bukannya kamu tadi yang minta tolong Om buat cari temen kamu." Bima.
"Pokoknya Om tinggal di sini. Jagain Imel. Awas kalau sampe Imel hilang lagi." Wulan.
"Wulan. Gw ga apa-apa kok. Di dalem ada Abang gw juga jadi kalian ga usah khawatir. Om Lu juga pasti capek. Sebaiknya kalian pulang dam istirahat saja." Imel.
Yang lain hanya diam bahkan Dodit pun tak mampu berkata apapun karena walaupun usia wulan lebih muda darinya tapi tetap saja kasta tertinggi di keluarganya sebagai cucu di tempati oleh Wulan. Karena Wulan anak dari putri pertama Yuni.
Menyanggah Wulan berarti melawan yang lebih tua. Itu menurut Dodit walau dari usia Wulan lebih muda dua tahun darinya. Karena Ibunya Melati lebih dulu menikah dari pada Tantenya Saras.
Setelah kepergian Wulan dan yang lainnya Bima pun menjadi kikuk begitu juga dengan Imel yang tak tau harus berkata apa. Imel begitu canggung dengan Bima.
"Hm... Mari Om. Ke ruangan Ayah saya saja. Om bisa beristirahat di sana." Ajak Imel tak enak.
"Saya cari hotel terdekat saja. Takut mengganggu kalian." Bima.
"Tidak apa-apa Om Ayo. Ini sudah larut Om juga tidak mengenal tempat di sini." Imel.
"Hm... Baiklah. Maaf saya jadi merepotkan." Bima.
"Tidak masalah Om." Imel.
Mereka berdua pun berjalan menuju ruang perawatan Ayah Imel. Di sana sudah ada Juna kakak pertama Imel suami dari Anya. Bagas Kakak ke dua Imel tinggal di luar kota dan pulang ke rumah. bagian menjaga Mama Imel di rumah yang juga syok Ayah Imel masuk ICU.
"Kak, kenalkan ini Om Bima. Om nya Wulan." Ucap Imel memperkenalkan Bima.
"Bimantara."
"Arjuna."
"Om maaf ya. Tidur seadanya." Imel.
"Hah! Eh, iya Mel tidak apa-apa. Maaf saya malah merepotkan." Bima.
__ADS_1
"Santai aja Om. Tapi maaf karena ini di rumah sakit." Imel.
"Mas Bima asal koya Y berarti?" Juna.
"Iya Bang." Bima
"Kerja dimana?" Juna.
"Masih di kota Y." Bima.
"Kesehatan juga?" Juna.
"Bukan Bang. Kebetulan saya bekerja di bidang properti." Bima.
"Owh! Bagian apa?" Juna.
"Saya bekerja bersama teman-teman saya Bang." Bima.
"Owh! Usaha sendiri. Bagus." Juna.
"Abang kerja di kesehatan juga?" Bima.
"Tidak. Hanya Imel yang masuk kesehatan. Kebetulan saya kerja sebagai supir." Juna.
"Hah! Supir apa?" Bima.
"Supir pesawat." Imel.
"Owh! Abang pilot?" Bima.
"Kebetulan begitu." Juna.
"Imel berapa bersaudara?" Bima.
"Tiga. Saya, terus ada satu lagi Abang Imel dan terakhir Imel. Imel perempuan sendiri di keluarga." Juna.
"Kalo Kakak Imel yang satu lagi kerja dimana?" Bima.
"Di hotel A. Kebetulan dia jadi orang kepercayaan di sana. Katanya pemilik hotel masih teman kuliahnya dulu." Juna.
"Bagaskara?" Bima.
"Loh, Mas Bima tau adik saya?" Juna.
"Kebetulan dia kakak tingkat saya waktu kuliah dan kebetulan juga hotel A milik keluarga saya Bang." Bima.
"Masya Allah ternyata dunia begitu sempit ya." Juna.
"Iya Bang. Istrinya Lena teman satu kelas saya. Makanya saya kenal Bang Bagas." Bima.
"Mantan nya Mas Bima atau incaran Mas Bima dulu?" Goda Juna.
"Kebetulan bukan Mas. Kita hanya teman saja." Ucap Bima jujur.
"Eh, malah di ajak ngobrol. Ayo tidur Mas. Maaf ya seadanya begini." Juna.
"Iya. Saya yang minta maaf malah mengganggu kalian." Bima.
Terlihat Imel sudah tertidur sambil duduk di samoing tempat tidur Ayahnya. Bima dan Juna pun tidur dengan posisi duduk di sofa yang tersedia di kamar perawatan Ayah Imel.
__ADS_1
🌹🌹🌹