Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Tante


__ADS_3

Dini sudah siap untuk pulang kampung. Terjadi drama di antara Imel dan Nita di kost. Wulan yang baru saja tiba di kost mereka bersama Dodit pun ikut berdrama bersama mereka. Jadilah mereka berempat berdrama.


Padahal dua hari kedepan mereka pun akan bertemu lagi. Dodit yang hanya menunggu di depan kost pun merasa penasaran apa yang di lakukan mereka di dalam yang membuatnya menunggu begitu lama.


"Ayo Yang." Ucap Dini pada Dodit.


"Astaga! Mas fikir kalian tidur sampai Mas nunggu lama. Ga taunya kalian menangis." Dodit.


"Hehehe... Maaf." Dini.


"Ya udah ayo nanti keburu telat." Wulan.


Mereka berlima pun ikut mengantarkan Dini ke stasiun karena Dini akan pulang menggunakan kereta. Sementara Imel tak sampai stasiun karena harus menjalankan tugas ke PKU.


Selepas Dini pergi Wulan dan Nita pergi menggunakan taksi ke kafe sementara Dodit harus ke kantor karena ada pekerjaan yang tidak bisa di tunda. Karena arah kafe dan kantor Dodit berlawanan membuat mereka berpisah di stasiun.


"Nit, menurut lu gimana Om gw sama Imel?" Tanya Wulan di dalam taksi.


"Hahaha..." Nita malah menjawab dengan tertawa.


"Kenapa lu malah ketawa?" Wulan.


"Jadi kita bertiga satu fikiran." Nita.


"Maksud Lu?" Wulan.


"Gw, Dini sama Lu. Kita sama-sama kefikiran Om Lu sama Imel." Nita.


"Masa sih. Kita emang beestie." Wulan.


"Terus gimana menurut Lu sama Dini?" Tanya Wulan lagi.


"Kalo menurut gw sama Dini sih kayanya Om lu suka sama Imel dan Imel juga mau mempertimbangkan tapi cuma satu kendalanya." Nita.


"Apaan?" Wulan.


"Imel geli kalo lu nantinya manggil dia Tante hahahaa..." Jawab Nita.


"Serius Lu?" Wulan.


"Iya. Buktinya pas gw udah bahas Om Lu Imel ga bisa tidur." Nita.


Perbincangan mereka pun begitu asik hingga tak terasa mereka sudah sampai di tujuan. Nita dan Wulan pun turun dan masuk ke dalam kafe. Nita menemani Wulan bekerja untuk mengisi kekosonganya karena Nita yidak berencana pulang kampung terlebih dahulu.


Saat Wulan turun mengontrol pelanggan Wulan menemukan Raka yang tengah makan bersama dengan seorang perempuan. Wulan memberi tahu Nita lewat pesan singkat. Nita pun segera turun dan menggunakan apron seperti pelayan cafe yang lainnya.


Nita pun melayani pelanggan seperti yang lainnya. Hanya saja Nita tidak menggunakan seragam seperti pelayan yang lainnya. Saat ada yang bertanya apakah dirinya pelayan juga Nita pun mengiyakan.


"Jelas Nit?" Tanya Wulan.


"Jelas dong." Nita.


"Siapa?" Wulan.


"Indri. Adik kelas gw." Nita.

__ADS_1


"Astaga! Daun muda dong." Wulan.


"Bisa aja ya dia dapetnya." Nita.


"Lu bilang dia mau balikan sama Imel. Nah ini malah gebet adik angkatan lu." Wulan.


"Darko yang bilang gw mana ngerti. Raka deket gw aja dia jiper." Nita.


Malam hari Nita dan Wulan pulang menggunakan taksi yang berbeda. Wulan pulang ke rumah dan Nita ke kost. Sesampainya di kost Nita mendapatkan notifikasi pesan dari Imel jika dirinya tak pulang.


Imel memilih long sip agar bisa pergi ke acara lamaran Dini setelah selesai ujian. Nita pun memakluminya. Imel memang selalu punya cara untuk berkumpul dengan mereka atau sekedar pulang sehari, dua hari untuk bertemu orang tuanya.


"Dokter ada pasien." Panggil salah satu perawat jaga malam.


"Iya Sus." Jawab Imel.


Imel pun keluar dari ruangannya menuju IGD. Imel membaca laporan pasien dan Imel mengenalnya. Imel pun segera menuju ke bilik dimana pasien berada.


"Opa," Panggil Imel.


"Mel, tolong Opa. Opa tadi jatuh di kamar mandi." Ucap Oma Wulan panik.


"Baik Oma. Imel periksa dulu ya. Oma tenang dulu." Imel.


Imel pun memeriksa Opa Wulan dengan seksama. Setelah memeriksa semuanya Imel mencatat hasil pemeriksaannya dan memberikannya pada suster.


"Pasang infus jaga ya sus. Observasi jika keadaan membaik bisa di pulangkan." Imel.


"Baik Dokter." Suster.


"Bagaimana Opa Mel?" Tanya Wulan yang baru saja datang bersama kedua orang tuanya.


"Apa tidak perlu di rawat Mel?" Saras.


"Tidak Tante. Opa hanya kelelahan dan kekurangan cairan. Jadi bisa istirahat di rumah." Imel.


"Terima kasih Mel. Untung Lu jaga malam ini." Wulan.


"Sama-sama. Karena gw ga mau ketinggalan momen Dini." Imel.


"Makasih." Wulan.


"Apa kita bisa masuk Mel?" Papi Wulan.


"Bisa Om. Sebentar lagi juga Opa sadar." Imel.


Wulan masuk ke dalam bilik dimana Opanya terbaring terlebih dahulu. Bima hanya memperhatikan Imel tanpa bertanya apapun. Imel melangkah menuju meja perawat menulis beberapa catatan kemudian bangkit kembali untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Mel," Panggil Bima.


"Hah! Iya." Jawab Imel.


"Bisa bicara sebentar?" Bima.


"Bisa. Silahkan." Tunjuk Imel pada bangku di depan mejanya.

__ADS_1


"Bisa di luar sebentar?" Bima.


"Imel sedang jaga Om. Tidak enak jika nanti ada pasien bagaimana." Imel.


"Kalo begitu besok saja." Bima.


"Hmm .. Besok Imel ujian Om." Bima.


"Selesaikan saja dulu ujiannya masih ada waktu kok." Bima.


"Hmm.. Oke." Imel.


Imel pun bangkit kembali dan melangkah menuju ruangannya.


"Astaga jantuuung... Tolong dong kondisikan." Batin Imel.


"Mel," Panggil Wulan.


"Astagfirullah! Wulan. Ngagetin deh." Imel.


"Lu kenapa?" Wulan.


"Ga kenapa-kenapa." Imel.


"Ngelamunin Om gw ya?" Goda Wulan.


"Diih... Ga ada kerjaan banget gw." Imel.


"Iya juga gapapa kok Mel. Gw seneng dengernya." Wulan.


"Denger apaan Lu? Jangan ngadi-ngadi yah." Imel.


"Cepetam terima Om gw ya Tante." Wulan.


"Wulan! Iiih... Sana keluar. Gw mau istirahat." Usir Imel.


"Ga mau. Wulan mau sama Tante di sini." Goda Wulan lagi.


"Wulaaan! Geli ih. Apaan sih lu." Imel.


"Gw kan sopan Mel. Masa iya panggil Lu Gw sama istri Om gw." Wulan terus menggoda Imel yang wajahnya sudah semakin memerah.


"Terserah Lum Gw mau tidur siapin tenaga kalo-kalo ada pasien lagi." Ucap Imel merebahkan diri di bed miliknya.


"Tante,, jangan bobo dulu. Ayo Wulan bilang Om nih Tante cuekin Wulan." Rengek Wulan berpura-pura merajuk.


"Bilang aja sana. Gw ga peduli." Imel.


"Yakin? Nanti Om kesini loh marahin tante kalo tante nakal sama Wulan." Wulan.


Imel bergeming dirinya memasang aksi menutup kuping. Wulan terus mengguncangkan badan Imel agar merespon panggilannya tapi nihil Imel tetap diam.


"Wulan telfon Om ni ya." Ancam Wulan. Namun Imel tetap tak bergeming.


Akhirnya ancaman Wulan tak hanya sebatas ancaman. Dirinya benar-benar mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Bima. Mendengar panggilan suara Imel menajamkan telinganya takut-takut Wulan benar-benar menghubungi Bima.

__ADS_1


"Halo.."


🌹🌹🌹


__ADS_2