Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Bertemu Teman Lama


__ADS_3

Pagi hari Juna dan Bima pergi ke musola sementara Imel solat di ruangan perawatan. Sepulang Bima dan Juna dari musola Imel sudah terlihat lebih segar dan tengah membantu Ayah Imel duduk bersandar.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikum salam."


"Ayah, sudah segar. Sudah di lap rupanya." Juna.


"Alhamdulillah sudah." Agus.


"Perkenalkan Yah. Ini teman Imel Bima namanya." Juna.


Imel membulatkan matanya saat Juna memperkenalkan Bima sebagai temannya.


"Bima Om."


"Agus."


"Bagaimana Om sudah lebih baik?" Bima.


"Alhamdulillah sudah. Kemarin mungkin Om hanya kelelahan saja." Agus


"Sebentar lagi sarapan untuk Ayah datang. Apa Ayah ingin memakan buah terlebih dahulu?" Imel.


"Boleh Nak. Ayah mau makan apel." Agus.


"Sebentar Imel kupas ya Yah." Imel.


"Nak Bima kuliah di kesehatan juga?" Agus.


"Tidak Om. Saya kuliah bisnis." Bima.


"Owh! Satu kampus dengan Imel. Atau kenal dimana?" Agus.


"Om Bima Om nya Wulan Yah." Imel.


"Om Wulan? Om beneran?" Agus.


"Iya Om. Saya adik bungsu Mamanya Wulan." Bima.


"Owh! Begitu." Agus.


"Mel, beli sarapan sana sekalian buat Mas Bima." Juna.


"Iya Bang. Ayah, ini buahnya ya." Imel.


"Terima kasih Nak." Agus.


Imel pun pergi membeli sarapan di kantin rumah sakit. Imel bingung membeli apa untuk Bima. Pasalnya Imel belum pernah tau makanan apa yang di sukai Bima. Salah-salah takut Bima kenapa-kenapa.


Imel pun menghubungi Wulan dan menanyakan makanan apa saja yang bisa di makan oleh Om nya itu. Setelah mendapat jawaban dari Wulan Imel pun segera membelikan makanan untuk Bima, Juna dan dirinya.


Imel membeli nasi campur untuk Bima dan Kakaknya Juna. Sementara dirinya memilih menu bubur yang akan menghangatkan perutnya. Setelah mendapatkan semuanya Imel pun kembali ke kamar perawatan sang Ayah.


"Maaf Om, Imel lupa ga tanya Om mau makan apa. Jadi Imel belikan seadanya." Imel.


"Tidak masalah. Saya makan apa saja kok." Bima.

__ADS_1


"Semoga Om suka." Imel.


Saat membuka nasi campur pemberian Imel. Bima tertegun melihat isinya. Imel membelikan lauk kesukaannya. Hati Bima menghangat padahal Imel tak sengaja memilihkan menu. Karena Imel sedikit bingung.


Bima makan dengan lahap begitupun dengan Juna dan Imel. Pak Agus makan di suapi oleh Imel dengan telaten. Setelah makan Pak Agus minum obat dan kembali tidur setelah dokter memeriksa keadaan Pak Agus.


"Alhamdulillah keadaan Pak Agus berangsur pulih. Saya harap kejadian yang sama jangan sampai terulang. Karena akan berakibat fatal." Jelas Dokter.


"Terima kasih Dok." Imel.


"Sama-sama. Jika keadaan Pak Agus semakin membaik besok Pak Agus bisa pulang." Dokter.


Dokter pun berpamitan. Setelah itu barulah Pak Agus tertidur karena pengaruh obat yang di konsumsinya. Tak lama rombongan Wulan datang. Wulan dan yang lainnya harus berbisik.


"Kak Juna. Wulan pinjam Imel dulu ya. Ga jauh kita ke cafe depan sini." Ijin Wulan.


"Boleh silahkan." Juna.


"Terima kasih Kak." Wulan.


Mereka pun pergi meninggalkan ruangan Ayah Imel. Bima di tinggalkan oleh mereka karena Wulan meminta Bima menemani Juna kakak Imel. Ada rasa tak enak hati dari Imel tapi mau bagaimana lagi Bima pun menyanggupinya.


Wulan dan yang lainnya menikmati berbincang bersama di cafe. Semua berpasangan hanya Imel sendiri di kepung oleh tiga pasang sahabatnya. Tak ada rasa canggung di antara mereka.


Di ruangan Ayah Imel. Bima berbincang bersama Juna. Perbincangan yang ringan tentang pekerjaan dan hobi mereka. Ayah Imel masih terlelap karena obat yang di minumnya.


"Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikum salam."


"Pak Bima? Anda ada di sini?" Tanya Bagas Kakak kedua Imel yang kaget melihat atasannya berada di kamar perawatan Ayahnya.


"Loh, Bim. Kok bisa?" Tanya Lena istri Bagas.


Bagas datang bersama Lena istrinya, Anya dan Maryam Ibu dari Imel.


"Owh! Ini Bima teman Imel yang kemarin telfon ya?" Tanya Anya.


"Eh, Iya. Kakak Anya?" Bima.


"Iya saya Anya. Istri dari Kakaknya Imel yang sedang bersama Bima." Ucap Anya menunjuk Juna.


"Teman Imel? Pak Bima kenal adik kami Imel?" Bagas.


"Kebetulan begitu Pak." Bima.


"Owh! Ya. Kenalkan Mas Bima. Ini Ibu kami." Juna.


"Bima."


"Maryam."


"Loh, Imel mana?" Tanya Maryam yang tak melihat putri bungsunya.


"Imel sedang ke luar bersama teman-temannya Bu." Juna.


"Loh, disini ada Nak Bima kok di tinggal." Maryam.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Tante. Hanya ke depan bersama Wulan dan yang lainnya." Bima.


"Bima ini Omnya Wulan Bu." Juna.


"Loh, Wulan anaknya Kak Mel?" Lena.


"Bukan. Anaknya Kak Saras." Bima.


"Woalah.. Pantes kalo liat Wulan kaya kenal gitu. Ternyata anaknya Kak Saras." Lena.


Maryam mendekati suaminya yang masih tertidur. Maryam mengusap lembut pipi Agus mencium punggung tangannya kemudian mendaratkan kecupan hangat di kening Agus.


"Bu.." Panggil Agus.


"Iya Yah. Ini Ibu." Maryam.


"Ayah sudah boleh pulang Bu besok." Agus.


"Alhamdulillah syukurlah." Maryam.


"Ibu sudah berkenalan dengan teman Imel?" Agus.


"Sudah Yah. Ganteng ya Yah?" Maryam.


"Ternyata Imel pintar memilih pasangan ya Bu." Agus.


Tak lama Imel dan yang lainnya datang ke dalam ruangan Agus.


"Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikum salam."


Imel memeluk Maryam, mencium punggung tangannya kemudian mencium pipi kanan dan kiri Maryam. Imel sangat dekat dengan keluarganya dan cenderung manja.


"Ayah, ngga apa-apa Imel tinggal tugas lagi?" Imel.


"Tidak apa-apa sayang. Pergilah. Banyak pasien menunggu kamu." Agus.


"Makasih Yah." Imel.


"Iya Mel. Kasian juga yang udah jauh-jauh jemput. Lain kali kalo mau pergi itu kasih kabar biar ga khawatir sampai menghubungi berkali-kali." Sindir Anya.


"Iya Kak. Imel ga sempet kasih kabar Wulan, Dini dan Nita. Karena mereka kan sedang sidang jadi Imel ga enak. Maksudnya Imel mau kasih kabar pas udah di sini aja taunya lupa." Imel.


"Bukan mereka maksud Kakak." Anya.


"Siapa?" Imel.


Anya memberi tanda dengan matanya melirik Bima. Imel mengikuti pandangan mata Anya.


"Hah! Jangan macem-macem ya Kak." Imel.


"Hahaha.... Ga macem-macem Mel cuma satu macem." Anya.


Wulan yang mengerti maksud Anya pun tertawa. Pastilah semua mengira Om nya itu kekasih dari Imel. Jika pun iya Wulan akan dengan senang hati menyetujui Imel menjadi tantenya.


Karena di rumah sakit tak boleh berlama-lama. Wulan dan yang lainnya pun berpamitan pulang kembali ke kota Y. Begitu juga dengan Imel yang akan ikut terboyong pulang.

__ADS_1


Karena mobil Dodit sudah terisi Heru, Dini dan Nita maka mau tak mau Imel masuk kedalam mobil Bima yang berisikan Bima, Juan dan Wulan. Bima bisa melihat sisi manja Imel di balik sisi dewasa dan mandirinya Imel.


🌹🌹🌹


__ADS_2