
Sejak semalam rumah sakit di hebohkan dengan kedatangan trio bumil yang akan segera melahirkan karena usia kehamilan mereka telah sampai pada perkiraan lahir. Pertama Nita yang datang lebih dulu di temani Heru. Setelah di lakukan pemeriksaan ternyata pembukaan masih 4. Saat Nita tengah berperang melawan rasa mulas datang Wulan dengan keluhan yang sama.
Wulan pembukaan 6, dua langkah lebih maju dari Nita. Tak lama Dini datang bersama Dodit dengan keluhan yang sama juga. Sama halnya dengan Nita Dini mengalami pembukaan 4. Ruang bersalin telah di siapkan untuk mereka bertiga dengan kemungkinan melahirkan bersama.
Setelah berjuang semalaman tiga bayi telah berhasil dilahirkan oleh tiga wanita tersebut. Imel belum mendapatkan kabar persalinan ketiga sahabatnya karena memang mereka tak ingin mengganggu istirahat Imel yang cukup lelah mengurus Gendis yang tengah aktif-aktifnya ditambah Athar yang tiba-tiba demam tinggi.
Walaupun ada Bibi yang membantu tetapi Imel tetap turun tangan mengurus kedua buah hatinya. Itu yang selalu membuat Bima bangga terhadap istri tercintanya. Dalam keadaan apapun Imel akan dengan senang hati melayani keinginan dua buah hati dan suaminya.
"Nyonya, saya dapat kabar dari baby sitter anak-anak jika Nyonya mereka telah melahirkan semalam." Bibi.
"Wow! Kompak juga mereka ya. Ya sudah terima kasih infonya Bi." Imel.
"Sama-sama Nyonya." Bibi.
Siang hari Imel pergi ke rumah sakit bersama Mama Yuni dan Bima. Meninggalkan dua buah hatinya yang Imel selalu menolak membawa keduanya ke rumah sakit.
Pertama Imel, Mama Yuni dan Bima mengunjungi Nita dan Heru bersama buah hati mereka yang kedua. Imel, Mama Yuni dan Bima di sambut hangat oleh Mama Heru yang ternyata telah berada di sana sejak pagi tadi. Tak lupa juga Imel dan Mama Yuni membawa buah tangan untuk Nita dan bayinya yang berjenis kelamin perempuan lagi.
"Selamat ya Nit. Semangat berjuang lagi mendapatkan cowok." Imel.
"Astaga! Makasih Mel. Tapi, sepertinya cukup dua putri saja. Akan ada menantu laki-laki nanti." Nita.
"Siapa namanya Nit? Lucu sekali dia." Mama Yuni.
"Namanya Alika Oma." Heru.
"Halo Alika." Mama Yuni.
Setelah bercengkrama cukup Imel, Mama Yuni dan Bima pun berpamitan dan pindah ke kamar Dini yang baru saja selesai melahirkan dan baru di pindahkan. Sama halnya dengan Nita, Dini pun melahirkan bayi perempuan yang gemas.
"Siapa namanya Din?" Imel.
"Dinda." Dodit.
"Mentang-mentang adik jadi namanya Dinda." Bima.
"Biar gemes Om." Dodit.
__ADS_1
"Kamu yang jangan menggemaskan setelah istri melahirkan. Bikin semua orang kerepotan. Jagain istri kasih dia suport." Bima.
"Iya Om, semoga yang kali ini baik-baik saja." Ucap Dodit.
"Aamiin.."
Terakhir mereka bertiga memasuki kamar Wulan dan sudah ada Saras dan Mama Juan di sana. Wulan melahirkan bayi laki-laki lagi. Imel menggendong bayi laki-laki yang berstatus cucu itu.
"Sudah ada nama Wu?" Imel.
"Sudah dong Tan." Juan.
"Siapa namanya?" Imel.
"Gama Putra Mahendra." Juan.
"Om tau kenapa Gama?" Bima.
"Kenapa?" Imel.
"Hahahaa..."
Setelah semua bayi di jenguk Imel, Mama Yuni dan Bima pun berpamitan mengingat Athar masih demam. Bima tak kembali ke kantor dirinya memutuskan untuk langsung pulang saja. Sampai di rumah Athar tengah berbaring lemas di sofa sedangkan Gendis bermain di atas karpet.
Bi Imah menemani Gendis dan sesekali mengompres kepala Athar dengan air hangat campur irisan jeruk nipis. Athar hanya pasrah dengan yang di lakukan Bi Imah padanya. Saat melihat kedatangan Imel, Mama Yuni dan Bima Athar hanya diam saja terbaring sementara Gendis meronta bangun dan melangkahkan kakinya dengan terburu-buru dengan di bantu Bi Imah karena Gendis belum bisa berjalan dengan lancar.
"Mas Athar masih demam ya?" Tanya Imel menghampiri putra pertamanya.
Athar hanya menjawab dengan anggukan yang lemah.
"Obatnya sudah di minum?" Tanya Imel lagi.
"Sudah." Jawab Athar lemas.
"Apa tidak sebaiknya di rawat saja Mel?" Tanya Mama Yuni khawatir.
"Kata Dokter hanya demam biasa Ma. Mungkin lagi fase naik demamnya." Imel.
__ADS_1
"Kompresnya masih di kasih Bi?" Bima.
"Masih Tuan. Ini Bibi sudah ganti yang baru." Tunjuk Bi Imah pada air kompresnya.
"Ya sudah. Mas Athar istirahat di kamar ya Mami temani biar Adek main sama Papi." Ajak Imel.
Athar pun mengangguk. Karena kasian Imel pun menggendong Athar walau sedikit keberatan namun Imel selalu berusaha kuat untuk anak-anaknya. Bima ingin menolongnya tapi Imel memberi kode tangan.
Tiga hari berlalu tiga bayi dan ketiga ibunya sudah diperbolehkan untuk pulang. Imel tak ikut menyambut mereka karena kelemahan setelah mengurus Athar. Kini keadaan Athar sudah benar-benar sehat hanya saja Imel masih membatasi geraknya takut Athar kembali sakit karena kelelahan.
Ke tiga sahabatnya pun memaklumi karena mereka pun sudah memiliki putra dan putri yang memang lebih butuh perhatian mereka. Persahabatan mereka benar-benar sudah tak mempan ujian apapun. Persahabatannya begitu kokoh dan kuat tak tergoyahkan.
Bima pun tak egois dengan tetap pergi ke kantor dirinya memilih mengerjakan tugasnya dari rumah demi bisa mengontrol Gendis dan Athar juga Maminya mereka. Karena Bima takut Imel membutuhkan sesuatu. Bima pun tak mengurung diri di ruang kerjanya. Bima mengerjakan tugasnya di ruang keluarga sambil menemani Gendis.
Papa Bambang dan Mama Yuni begitu bangga pada putra bungsunya itu karena selalu memprioritaskan keluarga kecilnya dan pekerjaannya pun selalu berhasil dia selesaikan dengan baik.
Sempat ada kekhawatiran pada Mama Yuni jika Bima menyimpang karena tak kunjung menikah dan akhirnya semua kekhawatiran itu sirna ketika Bima meminta meminang gadis yang tak lain dan tak bukan adalah sahabat dari keponakannya sendiri. Mama Yuni sempat tak percaya jika Imel mau menerima Bima tapi nyatanya sekarang mereka hidup bahagia.
Gilang, Aidan dan Putri tengah bersuka cita menyambut kedatangan adik mereka. Putri ingin sekali menggendong Adiknya hanya saja Nita masih belum mengizinkan karena Alika masih terlalu kecil. Gilang sedikit protes karena adiknya laki-laki tidak seperti adik Aidan perempuan. Begitu juga dengan Aidan yang protes adiknya perempuan.
Karena Aidan menginginkan adik laki-laki dan Gilang menginginkan adik perempuan. Tapi, ini malah terbalik. Tapi, Wulan dan Dini dapat menanganinya dengan baik hingga akhirnya Gilang dan Aidan menerima adik barunya.
Bima mendapatkan kecupannya di kening Imel ketika Imel menghampirinya dengan membawakan secangkir kopi untuknya. Athar dan Gendis tengah bermain di atas karpet dengan pengawasan Bi Imah juga tentunya.
"Terima kasih sayang." Bima.
"Sama-sama Mas. Terima kasih juga telah memberikan Imel limpahan kebahagiaan yang tak tertinggal." Imel.
"Itu sudah menjadi kewajiban Mas sayang. Mas senang kamu mau menerima Mas yang sudah om-om ini." Bima.
"Bagaimana tidak jika Om-om ini begitu meresahkan." Imel.
Mereka pun saling berpelukan di susul Athar dan Gendis yang juga memeluk Imel dan Bima. Imel dan Bima pun mengurai pelukannya dan membawa Athar dan Gendis masuk kedalam pelukan mereka. Kebahagiaan yang tak ternilai yang Imel dapatkan dari keluarga kecilnya.
~END~
🌼🌼🌼
__ADS_1