
Satu bulan sudah Imel menjalankan hari-harinya di negeri orang. Hanya berdua bersama suami tercinta. Walaupun ada Bi Imah dan Pak Dimin yang menemaninya setiap hari Imel terkadang merindukan keluarga dan sahabat-sahabatnya di tanah air. Anya sudah menjalankan pengobatan di negara tetangga dan sudah mulai proses pemulihan. Imel selalu berkomunikasi bersama Ibu tercintanya mengenai perkembangan Anya.
Imel juga tak pernah melewati untuk berkomunikasi dengan para sahabatnya. Kehamilan Nita dan juga dirinya yang semakin membesar. Wulan sudah merengek ingin mengunjungi Imel pada Juna. Hanya saja G masih terlalu kecil untuk terbang dan Wulan pun harus mengalah. Jika baby G rewel Wulan selalu menangisi Imel yang nun jauh disana. Karena biasanya Imel yang akan menenangkannya.
"Sayang," Panggil Bima.
"Iya Mas. Imel di dapur." Teriak Imel.
"Loh kamu ngapain di dapur?" Tanya Bima menghampiri Imel.
"Imel lagi ngambil kue Mas sama sirup." Imel.
"Owh! Mas fikir kamu lagi ngapain. Bi Imah kemana?" Tanya Bima yang tidak melihat keberadaan Bi Imah.
"Bibi ke supermarket Mas sama Pak Dimin. Mas mau sesuatu?" Tanya Imel.
"Mas mau kopi sayang." Bima.
"Sebentar ya. Mas udah selesai meeting nya?" Imel.
"Sudah sayang. Mas besok ke kantor ya sayang." Bima.
"Iya Mas. Imel ga apa-apa kok Mas tinggal." Ucap Imel sambil berjalan membawa kopi pesanan Bima.
"Mas suka ga tenang kalo ke kantor. Mas kefikiran kamu terus." Bima.
"Mas sayang. Kan ada Bi Imah sama Pak Dimin. Mas juga suruh anak-anak jagain rumah ini." Imel.
"Iya sih. Tapi tetep Mas khawatir sayang." Bima.
"Bulan depan Mama sama Papa ke sini Mas bisa lebih fokus ke kantor." Imel.
"Kerja dari rumah juga fokus kok sayang." Bima.
"Iya sayang. Terima kasih ya Mas. Mas selalu ada untuk Imel." Imel.
Bima memang jarang ke kantor. Bima lebih sering menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerjanya di rumah. Steve yang selalu bolak balik ke rumah. Istri Steve juga tak bisa setiap saat menemani Imel karena harus mengantarkan anaknya sekolah. Steve dan Mira memiliki dua orang putra dan putri. Steve dan Mira pun menggunakan jasa art yang di bawanya dari tanah air dan masih ada kerabat dengan Mira.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam.."
"Nyonya, Tuan." Bi Imah.
__ADS_1
"Ada semua Bi belanjaannya?" Imel.
"Ada Nyonya. Saya bereskan dulu." Bi Imah.
"Istirahat saja dulu Bi." Imel.
"Iya Nyonya setelah beres-beres saja lebih enak istirahat nya." Bi Imah.
"Jangan terlalu cape Bi." Imel.
"Siap Nyonya." Bi Imah.
Bi Imah pun membereskan belanjaannya di dapur sementara Pak Dimin membersihkan mobil setelah di gunakan berbelanja tadi. Karena Bima sangat menyukai kebersihan. Sementara mereka berdua sibuk dengan pekerjaan masing-masing Imel dan Bima bercengkerama di ruang keluarga sambil menikmati minuman mereka.
"Sayang, besok jadwal periksa apa sudah reservasi?" Bima.
"Sudah Mas. Jadi nanti kita ketemuan di rumah sakit atau bagaimana?" Imel.
"Nanti Mas pulang saja dulu sayang jemput kamu." Bima.
"Apa tidak merepotkan sayang? Ngga Pak Dimin saja yang antar Imel ke rumah sakit atau ke kantor Mas?" Imel.
"Tidak sayang, Mas tidak pernah mereka di repotkan." Bima.
"Iya sayang." Bima.
Setelah berbincang Bima pamit kembali ke ruang kerjanya dan Imel memilih istirahat di kamar sambil membaca buku. Saat Imel membaca Ibu Maryam menghubunginya bertanya kabar.
"Ibu apa kabar?" Imel.
"Alhamdulillah Ibu sehat nak. Bagaimana cucu Ibu ngga rewel kan?" Ibu Maryam.
"Alhamdulillah ngga Bu. Kak Anya gimana Bu? Dimana Kakak?" Imel.
"Alhamdulillah. Anya alhamdulilah semakin banyak kemajuan. Hari ini Abang turun jadi Abang ajak Kakak jalan-jalan." Ibu Maryam.
"Loh, ibu kok ngga ikut? Abang ga ajak Ibu?" Imel.
"Ngga sayang. Tadi Abang sama Kakak juga paksa Ibu untuk ikut. Tapi, Ibu yang ga mau sayang. Kasian Anya butuh waktu berdua dengan Abang." Ibu Maryam.
"Hmm... Iya sih. Yang penting ibu sehat ya bu." Imel.
"Iya sayang. Mama sama Papa kamu bulan depan ke sana ya?" Ibu Maryam.
__ADS_1
"Iya Bu. Kok Ibu tau?" Imel.
"Dua hari yang lalu ada mampir ke sini terus kita banyak cerita. Mama mu juga bilang mau ke sana bulan depan." Ibu Maryam.
"Iya Bu. Soalnya kasian juga Mas klo ke kantor bolak-balik ke rumah terus katanya kefikiran Imel yang sendiri di rumah." Imel.
"Loh, Bi Imah kemana?" Ibu Maryam.
"Ada Bu. Emang dasar Mas aja." Imel.
"Wealah... Ya sudah. Jaga kesehatan ya sayang. Sehat Mama dan dede utunnya." Ibu Maryam.
"Aamiin Bu. Ibu juga jaga kesehatan ya Bu." Imel.
"Iya sayang. Assalamu'alaikum..." Ibu Maryam.
"Wa'alaikum salam."
Setelah panggilan terputus Imel pun memilih untuk memejamkan matanya sejenak.
Keesokan harinya pagi hari Bima menyempatkan dirinya ke kantor terlebih dahulu sebelum mengantar istri tercintanya memeriksakan kehamilan. Imel bisa saja pergi sendiri atau di antar Bi Imah hanya saja Bima lebih senang mengantarkannya.
Setelah mendapat telfon dari Bima Imel pun bersiap-siap menunggu Bima untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Begitu mobil Bima sampai Imel langsung segera menghampirinya dan mereka berdua pun langsung pergi menuju rumah sakit.
Sampai di rumah sakit karena Imel telah membuat janji sebelumnya mereka berdua pun tak perlu lama menunggu segera di sambut oleh perawatnya dan di persilahkan memasuki ruangan pemeriksaan. Serangkaian pemeriksaan pun di lakukan oleh dokter.
"Alhamdulillah kandungan nyonya sehat. Apa kalian ingin mengetahui jenis kelaminnya?" Dokter Sarah.
"Tidak Dok. Biarkan menjadi kejutan saja nanti." Imel.
"Wah, baiklah. Ini kali pertama saya bertugas di sini mendapatkan pasien yang tidak menanyakan jenis kelamin bayinya." Dokter Sarah.
"Dalam hati kecil kami memang ingin mengetahuinya Dok. Hanya saja kami lebih senang itu menjadi kejutan saja. Apapun bayi kami nanti, laki-laki atau perempuan yang terpenting bagi kami adalah sehat tanpa ke kurangan satu apapun Dok." Imel.
"Aamiin." Dokter Sarah.
"Baiklah, ini resep vitamin yang harus kalian ambil di apotik. Semoga sehat selalu dan lancar hingga hari persalinan nanti." Dokter Sarah.
"Aamiin.. Terima kasih Dokter kami permisi." Pamit Imel.
Bima memang tak banyak bicara saat pemeriksaan karena lebih menghargai istrinya. Jika pun ada hal yang ingin di tanyakannya Bima akan menyampaikannya pada Imel dan Imel yang akan bertanya pada Dokter. Imel sempat protes karena Bima hanya diam akan tetapi Bima bisa meyakinkan Imel membuat Imel mengerti. Apalagi Dokter yang di hadapinya Dokter perempuan.
🌹🌹🌹
__ADS_1