
Siang hari Imel tengah bersantai bersama Mama Yuni selepas membereskan perlengkapan bayinya. Imel dan Mama Yuni membereskan beberapa pakaian bayi ke dalam tas di takutkan jika Imel tiba-tiba merasakan gejala mules. Papa Bambang yang telah menyelesaikan pekerjaannya bersama Juna rencananya akan kembali besok lusa setelah mampir ke kota Y terlebih dahulu.
Papa Bambang akan menjenguk dua anaknya yang berada di kota Y yakni Saras dan Melati. Dan rencananya Saras akan ikut serta ke negara dimana Imel dan Bima tinggal. Saras akan menemani Mama Yuni mengurus bayi Bima dan Imel karena mengingat hanya ada Mama Yuni dan Bi Imah saja.
Hari ini Papa Bambang baru saja tiba di kota Y. Saras dan Melati menemani Papa mereka di rumah utama bersama suami-suami mereka juga tentunya. Para cucu yang tak lain sahabat Imel segera menghambur ke rumah utama untuk menangakan kabar Imel pada Papa Bambang.
"Opa, bagaimana Imel apa dia sedih sendiri di sana?" Wulan.
"Tentu tidak nak. Dia bahkan sangat bahagia." Papa Bambang.
"Opa, jangan becanda deh." Wulan.
"Hahaha... Imel biasa saja sayang. Dan mungkin sangat bahagia karena disana pun dia bersama suami tercintanya." Papa Bambang.
"Apa dia mengingat kami Opa?" Dini.
"Tentu nak. Imel selalu bercerita tentang kalian dan bagaimana kalian bisa bersama." Papa Bambang.
"Apa Imel semakin kurus Opa?" Nita.
"Tidak sayang. Hanya saja memang perut dia saja yang semakin membesar badan dia tetap seperti itu." Papa Bambang.
"Kangen Imel Huaa..."
Tangisan Wulan pun pecah mendengar cerita Papa Bambang. Kerinduan mereka yang tak pernah terpisah lama membuat mereka merasa tersiksa. Kurang lebih hampir lima bulan mereka berpisah. Waktu yang sangat begitu lama bagi mereka. Wulan, Dini dan Nita saling berpelukan dan menumpahkan kerinduan mereka pada Imel. Melati dan Saras ikut terharu pada kedekatan mereka.
Sementara di negara lain.
"Ma, apa melahirkan itu sakit?" Tanya Imel tiba-tiba saat tengah bersantai.
"Sesakit apapun itu adalah perjuangan seorang wanita sayang. Dan rasa sakit itu akan hilang begitu saja saat kita melihat anak kita." Mama Yuni.
__ADS_1
"Hm... Apa saja ciri-ciri akan melahirkan Ma. Karena Imel hanya tau mengenai teorinya saja." Imel.
"Perut akan terasa kencang dan mules dari arah belakang hingga depan dan terasa tertarik ke bawah. Keringat bercucuran dan pada kasus tertentu ketuban bisa pecah yang di rasakan seperti air pipis sayang." Jelas Mama Yuni.
"Apa rasa mules itu datang terus menerus Ma?" Imel.
"Ya, dalam waktu yang berdekatan sayang." Mama Yuni.
"Tunggu! Apa kamu merasakan apa yang Mama katakan?" Tanya Mama Yuni menyadari pertanyaan menantunya.
"Sepertinya begitu Ma." Jawab Imel santai.
"Astaga! Kenapa diam saja. Ayo kita ke rumah sakit." Ajak Mama Yuni.
"Bi Imah, tolong siapkan perlengkapan Imel. Bayinya akan segera lahir. Katakan juga pada Pak Dimin untuk menyiapkan mobil. Dan jangan lupa hubungi Bima." Teriak Mama Yuni panik.
Mama Yuni memapah Imel hingga ke mobil dengan beberapa kali berhenti karena Imel merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Mama Yuni berusaha menenangkan menantunya. Dirinya lupa jika dirinya pun tengah memegang ponsel. Bisa saja dirinya yang menghubungi Bima. Tapi, rasa panik melanda.
"Nyonya, apa Tuan sudah di hubungi?" Tanya Bi Imah.
"Astaga! Dia akan marah besar." Mama Yuni.
Mama Yuni pun segera mnghubungi Papa Bambang. Dengan panik Papa Bambang pun segera meminta orangnya untuk menyiapkan pesawat pribadi miliknya agar bisa langsung menuju negara dimana Bima dan Imel tinggal. Saras pun sama paniknya karena dirinya akan ikut serta Papa nya. Saras akan berpisah dalam beberapa waktu bersama suaminya.
"Mas,,, Sakiit.."Rintih Imel saat rasa mules melanda.
"Mas yakin kamu bisa melewatinya sayang. Berjuanglah demi anak kita ya." Ucap Bima memberi semangat. Dan Imel pun hanya mengangguk saja.
Detik demi detik berlalu rasa sakit di perutnya semakin kuat Imel terus mencengkram lengan Bima saat mules mendera. Cakaran demi cakaran mendarat di kulit putih bersih milik Bima. Dan semua itu tak di permasalahkan oleh Bima karena Bima tau rasa sakit yang Imel rasakan lebih dari apa yang dia rasakan saat ini.
"Mas rasanya ada yang keluar dari situ." Tunjuk Imel pada ***********.
__ADS_1
Bima pun mengatakannya pada perawat yang berada di sana dan benar saja kepala bayinya sudah akan keluar. Satu orang perawat segera menghampiri Imel untuk mengatasi kemungkinan bayi keluar dengan cepat dan satu lagi memanggil dokter. Dan benar saja beberapa detik berikutnya bayi laki-laki keluar dengan selamat tanpa bantuan dokter.
Saat dokter datang dirinya terkejut mendengar tangisan bayi yang begitu kuat. Dokter tersebut pun memberi selamat pada Imel dan Bima. Dokter pun salut pada Imel yang mampu mengeluarkan bayinya tanpa drama persalinan seperti biasanya. Proses persalinan pun lebih cepat dari waktu yang di perkirakan. Perawat pun melanjutkan proses pertolongannya pada Imel dengan pengawasan dokter tersebut.
"Imah, apa itu tangisan cucuku?" Tanya Mama Yuni saat mendengar tangisan bayi dari ruang bersalin.
"Sepertinya iya Nyonya." Bi Imah.
"Alhamdulillah..."
Air mata kebahagiaan pun meluncur begitu saja dari pipi Mama Yuni dan Bi Imah. Keduanya saling berpelukan mencurahkan rasa syukur dan bahagia mereka. Mama Yuni pun menghubungi Papa Bambang kembali namun sayang Papa Bambang sudah tidak bisa di hubungi lagi karena baru saja lepas landas bersama pesawat pribadinya.
Mama Yuni dan Bi Imah begitu bangga pada Imel yang begitu tegar menghadapi proses persalinan putra pertamanya. Tak sedikit pun bibirnya mengeluh pada Mama Yuni. Pada Bima pun Imel hanya mengatakan sakit itu saja. Tak ada robekan pada jalan lahirnya yang membuatnya segera bisa di pindahkan ke ruang perawatan untuk beberapa hari.
"Sayang, selamat Nak." Ucap Mama Yuni saat setelah Imel di pindahkan ke ruangan.
"Terima kasih Ma." Imel.
"Apa kamu sudah menghubungi Ibumu Bim?" Tanya Mama Yuni.
"Sudah Ma. Tadi saat di ruangan bersalin." Bima.
"Syukurlah. Apa Ibu akan datang?" Mama Yuni.
"Ibu belum bisa memastikan karena mereka masih belum pulang Ma. Abang masih sibuk dengan pekerjaan yang di berikan Papa." Bima.
"Ah, kau benar. Ya sudah tidak apa-apa ya sayang. Do'a dari beliau pun itu sudah lebih dari cukup. Ibu mu menemani Anya dan kamu pun Mama temani." Ucap Mama Yuni memberi ketegaran pada Imel.
"Iya Ma."
🌹🌹🌹
__ADS_1