
Waktu bergulir begitu saja. Kini usia G sudah menginjak satu bulan lebih. Dan dengan itu juga perkiraan persalinan Dini semakin dekat. Semakin hari membuat Dini semakin deg-degan. Karena usia kehamilan Wulan dan Dini hanya terpaut dua bulan kurang. Dini pun sudah merasakan kram di perut dan beberapa kali kontraksi palsu. Dodit selalu siaga menemani Dini.
Sementara Nita tengah mempersiapkan untuk acara tujuh bulanan kehamilannya bulan depan. Nita berharap semua prosesnya lancar dan tidak bersamaan dengan proses persalinan Dini. Sementara Imel masih bisa bernafas karena kehamilannya baru menginjak empat bulan. Mual muntah pun sudah berhasil di lalui Imel. Dan manjanya pun sudah mulai berkurang. Bima bisa dengan tenang pergi ke kantor.
Tapi, karena Raka begitu gencar mencari informasi tentang Imel keempat sahabat itu di larang keluar dari komplek tanpa pengawalan meskipun keempatnya memiliki ilmu beladiri yang tak bisa di ragukan. Karena kehamilan mereka dan Wulan pun masih memiliki bayi membuat pasangan mereka menjaga mereka begitu ketat.
Siang ini semua berkumpul di rumah Dodit dan Dini karena mereka khawatir Dini akan melahirkan ketika Dodit tengah ke kekantor. Melati pun selalu siaga menemani menantu tercintanya. Saras pun datang karena cucunya ada di sana sedangkan Mama Yuni ikut bersama Papa Bambang menemui kerabatnya.
"Din, muka lu kenapa? Kok pucet." Imel.
"Eh, iya. Kenapa Din?" Nita
"Jangan bilang lu mau lahiran?" Wulan.
"Perut gw sakit dari tadi ga ilang-ilang. Dan ini rasanya makin sakit." Jawab Dini lirih.
"Astaga Dini. Kenapa ga bilang dari tadi." Wulan.
"Tante Mel,, Sepertinya Dini akan melahirkan." Teriak Wulan.
Nita dan Imel berusaha membuat Dini lebih rileks dengan mencoba mengatur nafas Dini.
"Astaga! Sayang, apa mulesnya udah sering?" Tanya Melati dan Dini hanya menganggukkan kepalanya.
"Masih bisa jalan sayang?" Melati. Dan lagi-lagi hanya di jawab dengan anggukan.
Melati pun membantu Dini berjalan menuju mobil. Nita meminta bibi untuk membawakan perlengkapan persalinan ke dalam mobil. Imel menghubungi Dodit dan menintanya untuk segera pergi ke rumah sakit. Wulan menemani Dini dan Melati ke rumah sakit sementara G bersama Saras.
Setelah mendapatkan kabar dari Imel Dodit segera meluncur ke rumah sakit. Dodit segera menemui Dini di ruang persalinan. Saat tiba di rumah sakit pembukaan Dini sudah hampir lengkap. Beruntung Imel menyadari perubahan Dini dengan cepat jika tidak bisa jadi Dini melahirkan di tengah jalan atau bahkan di rumah.
"Sayang kamu pasti bisa." Ucap Dodit saat Dokter mengatakan pembukaannya sudah lengkap dan Dini segera di pimpin untuk mengedan. Dini pun hanya mengangguk sebegai jawaban.
"Oooeek..... oek....."
Suara tangisan bayi pun menggema di ruang persalinan dengan kuat dan kencang. Pram Papi Dodit yang baru saja datang ke rumah sakit terharu mendengar tangisan pertama cucu pertamanya.
"Itu suara cucu kita Mi?" Tanya Pram pada Melati.
"Iya Pi. Itu cucu kita." Melati.
"Selamat ya Om, Tante kalian sekarang sudah menjadi Opa dan Oma." Wulan.
__ADS_1
"Terima kasih Wu. Terima kasih." Ucap Melati penuh haru.
Mereka bertiga pun saling berpelukkan mengungkap rasa bahagia mereka. Tak lama Juan, Bima, Heru, Papa Bambang dan Mama Yuni datang ke rumah sakit.
"Sayang." Juan.
"Mas." Wulan segera menghambur kedalam pelukan Juan.
"Imel dan Nita tidak ikut kenari?" Juan.
"Dan Wu akan mendapat tatapan tajam dan ceramahan dari Mas Heru dan Om Bima." Wulan.
"Hahaha...."
"Awas saja sampe mereka ke sini." Bima.
"Ish... Pelit." Wulan.
"Mereka berdua tengah hamil Wu. Apalagi Nita yang usia kehamilannya menginjak tujuh bulan. Bagaimana jika mereka ikut-ikutan mengedan." Bima.
"Ya brojol dong om." Wulan.
Plak..
"Om.." Juan.
"Istri mu itu mulutnya ga bisa di kontrol." Bima.
Sementara Heru hanya bisa diam menanggapi ke absurb an om dan keponakan itu. Seperti yang di katakan Bima dirinya memang akan marah jika Nita datang ke rumah sakit. Karena mereka berdua takut istri-istri mereka ikut mengedan atau kelelahan karena berjalan cepat demi mengantarkan Dini ke ruang bersalin.
Setelah di bersihkan Dini dan bayinya pun segera di pindahkan ke ruang VVIP seperti yang sudah di pesan sebelumnya. Dan ruangan itu juga yang di gunakan Wulan ketika melahirkan dulu. Dan seperti halnya Dini saat dirinya melahirkan tak ada satupun sahabatnya menemaninya dikarenakan mereka semua tengah hamil. Beruntung kini Dini bisa di temani Wulan.
"Wah, gantengnya. Baby Boy kah?" Wulan.
"Iya Wu. Anak kita bisa bikin satu geng nih." Dini.
"Wah, G jadi ada teman nih. Tinggal Nita sama Imel nih apa ya." Wulan.
"Seru juga kalo mereka juga sama cowok." Dini.
"Iya. Bisa sahabatan kaya kita." Wulan.
__ADS_1
"Ga cuma sahabatan kali Yang." Juan.
"Terus.." Wulan.
"Ya mereka berempat emang saudara sudah sepatutnya mereka saling sayang satu sama lain." Juan.
"Eh, iya ya. Dan anak Imel nanti jadi Om buat mereka bertiga." Ucap Wulan dan membuat semua tertawa.
Setelah semua kondusif semua pun bubar jalan. Wulan pun harus kembali ke rumah karena G telah menunggunya. Menyisakan Dini, Dodit, Melati dan Pram. Sementara Orang tua Dini masih dalam perjalanan menuju kota Y dari kota C.
"Bagaimana? Keadaan Dini?" Tanya Imel saat melihat Wulan datang.
"Alhamdulillah sehat baby nya juga sehat. Baby Boy. Jadi G ada temennya deh." Wulan.
"Syukurlah. Mas Bima ada?" Wulan.
" Ada. Datang sebentar tadi terus balik ke kantor katanya ada meeting." Wulan.
"Ya udah. Kamu cepet susuin G kasian dari tadi dia nungguin." Imel.
"Loh, Mami ga kasih ASI pumping?" Wulan.
"Di kasih. Tapi kan rasanya berbeda Wu kalo yang langsung dari sumbernya." Nita.
"Iya juga. Ya udah gw pulang duluan. Kalian ga pulang?" Wulan.
"Pulang nunggu jemputan. Kan belum boleh keluar dari rumah." Imel.
"Astaga! Ayo sama-sama." Wulan.
Mereka bertiga pun keluar dari rumah Dini. Nita ke rumahnya dengan dua pengawalan di belakangnnya begitu juga dengan Imel. Walaupun penuh tanya di hati mengapa mereka harus di kawal dan di batasi pergi keluar rumah namun tak banyak pertanyaan yang di lontarkan mereka.
Imel mendudukan dirinya di sofa depan televisi menonton acara televisi yang menayangkan acara komedi. Mama Yuni pun ikut bergabung bersama Imel dengan menbawa beberapa camilan dan minuman.
"Gimana rasanya Ma udah jadi buyut dari dua jagoan?" Imel.
"Sekarang sih masih biasa aja Mel. Nanti setelah mereka besar barulah terasa.." Mama Yuni.
"Sudah punya cicit malah mau nambah cucu ya Ma." Imel.
"Jangan kasih Mama satu cucu ya seperti Kakak-kakak kalian. Ya, minimalnya dua lah." Mama Yuni.
__ADS_1
"Aamiin.. Semoga Imel sama Mas Bima di aksih kepercayaan lagi ya Ma." Imel.
🌹🌹🌹