
Setiap hari Saras dan Mama Juan bergantian menemani Wulan di rumah membantu merawat baby G. Wulan pun banyak belajar dari Mama dan Maminya. Wulan sudah tak pernah ke kafe lagi. Semuanya di serahkan pada orang kepercayaannya. Wulan sedang menikmati perannya jadi seorang ibu baru.
Baby G tak pernah rewel sedikitpun karena banyaknya perhatian yang tertuju padanya. Mama Yuni pun tak pernah absen mengontrol cicit pertamanya. Sambil berjalan-jalan Mama Yuni selalu mampir ke rumah Wulan. Dini, Nita dan Imel pun bolak-balik ke rumah Wulan demi melihat baby G.
Mual muntah Imel semakin berkurang. Hanya saja manjanya pada Bima semakin bertambah. Oleh karena itu Nita dan Dini selalu mengajaknya bermain di rumah Wulan agar perhatian Imel teralihkan. Karena jika di rumah Imel akan terus mengingat Bima.
"Din, gimana persiapan buat lahiran nanti masih ada yang kurang?" Wulan.
"Alhamdulillah udah Wu. Tinggal nunggu waktunya aja." Dini.
"Udah deket mau brojol ya Din?" Imel.
"Belum. Perkiraan sih kurang lebih dua bulan kurang lagi deh." Dini.
"Udah liat jenis kelaminnya Din?" Nita.
"Ngga. Biar kejutan aja deh." Dini.
"Emang harus liat jenis kelaminnya?" Imel.
"Ngga. Tapi kebanyakan orang selalu ingin lihat jenis kelaminnya." Nita.
"Gw surprise aja deh." Imel.
"Iya. Gw juga surprise kok. Ga sengaja banget liat. Jadi, pas periksa itu gw bilang sama dokternya buat ga usah kasih tau jenis kelaminnya." Wulan.
"Hm... Gw juga mau bilang nanti sama dokternya. Soalnya kemarin-kemarin kan masih kecil jadi emang belum keliatan juga." Imel.
"Iya. Tapi, lu kok ga gendutan sih Mel?" Dini.
"Gw ga tau. Cuma perut gw aja nih yang rada menjendol dikit." Imel.
"Ya kan lu susah makan. Ntar juga klo makan lu udah enakan pasti perutnya gede pipi lu chubby juga." Nita.
"Iya. Kan lu masih trimester awal Mel." Wulan.
"Hm... Gitu ya. Kemarin dokter bilang sih besarnya utun normal sesuai usia kehamilan tapi gw nya yang kaya ga ada gizi begini." Imel.
"Masih belum masuk makanan?" Dini.
"Udah dikit." Imel.
__ADS_1
"Sabar ya. Pelan-pelan." Nita.
Obrolan mereka pun terus berlanjut hingga Baby G tertidur dalam pangkuan Wulan. Baby G yang selepas mengasihi sengaja tak di simpan oleh Wulan karena baby G tidak juga memejamkan matanya. Mungkin baby G ingin ikut mendengarkan kabar temannya yang masih dalam perut Bundanya masing-masing.
"Wu, sini Mami simpan G sepertinya dia udah pulas tidurnya." Mami Saras.
"Makasih Mam." Wulan.
Saras pun mengambil alih G dari pangkuan Wulan dan membawanya ke kamar G. Wulan dan juan telah menyiapkan kamar untuk G dan rencananya memang G akan di latih untuk terbiasa tidur sendiri sejak dini. Namun, karena usianya belum menginjak satu bulan G masih tidur di temani oleh Mami Wulan dan Papi Juan.
Setelah asik berbincang ketiga bumil dan busui pun merasa lapar. Mereka pun memesan makanan yang mereka mau pada bibi namun saat makanan dan minuman mereka tersaji tiba-tiba saja Imel terisak air matanya tak terbendung lagi mengalir begitu saja membuat yang lain merasa bingung.
"Kenapa?" Tanya Nita pada Dini dan Wulan tanpa suara.
Wulan dan Dini pun mengangkat kedua bahunya tanda tak tau. Imel pun masih mencoba menahan air matanya dengan menghapus setiap air mata yang keluar namun hasilnya nihil air matanya terus mengalir.
Dan seolah tersalurkan semua perasaan Imel pada Bima. Tak lama Bima datang ke rumah Wulan bersama Arman. Bima merasa khawatir ketika jam makan siang datang dan dirinya masih berada di kantor, akhirnya Bima pun memutuskan untuk pulang dan benar saja Imel tengah terisak sambil menatap makanan di hadapannya.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikum salam.."
"Iya sayang. Laper ya. Sini Mas suapin. Ssstt... udah yah. Mas ada di sini kok." Ucap Bima menghapus sisa air mata di pipi Imel.
Seketika ketiga sahabat sekaligus keponakan Imel pun membulatkan mulutnya tanda mengerti dengan tangisan Imel yang tiba-tiba saat melihat makanan. Tak lama Mama Yuni dan Papa Bambang pun datang ke rumah Wulan karena merasa khawatir jika Imel ingin makan tanpa ada yang menyuapi. Terutama suapan Bima itu yang paling utama.
"Kamu masih ga bisa di tinggal Bima Mel?" Saras.
Imel hanya menjawab dengan gelengan kepala. Dan tiba-tiba saja air matanya malah sakin deras keluar. Bima yang mengerti pun langsung membawanya ke dalam pelukannya.
"Ssstt... Sudah Kak Saras hanya bertanya tidak ada maksud apapun." Bima.
Saras segera tersadar dan meminta maaf.
"Maafin Kakak Mel. Kakak ga ada maksud apapun. Biarkan saja biar Bima sama-sama merasakan mengurus bayi kalian sejak dini." Saras.
Imel hanya diam. Sejak dirinya hamil Imel memang sangat sensitif dan manja. Walaupun Imel sudah berusaha sebiasa mungkin tapi nyatanya begitu sulit.
"Mama fikir Bima masih di kantor Mama sama mau jemput kamu pulang sayang." Mama Yuni.
"Iya Ma." Imel.
__ADS_1
"Ga apa-apa kok Mel. Semuanya wajar bawaan bayi." Nita.
"Iya Tante. Tante ga usah nangis ya. Kita juga pernah sama-sama melewati masa itu." Dini.
Begitulah Dini dan Wulan ketika berkumpul bersama keluarga maka mereka akan merubah panggilan mereka pad Imel.
"Ayo Tan makan lagi." Wulan.
Imel tak menjawab apapun hanya menganggukan kepalanya saja.
Dan makan siang pun berakhir dengan drama tangisan Imel yang begitu menyayat hati siapapun yang melihatnya. Antara malu dan mau pun bercampur aduk di hati Imel. Bima pun berpamitan untuk kembali ke kantor dan drama pun kembali terjadi karena Imel tak mau di tinggal.
Papa Bambang dan Mama Yuni pun membantu membujuk Imel yang begitu manja pada Bima namun nihil. Akhirnya Bima memutuskan untuk tidak kembali ke kantor. Bima pun pulang ke rumah bersama Imel, Papa Bambang dan Mama Yuni. Sementara Arman kembali ke kantor sendiri.
"Kok bisa ya Imel sampai begitu?" Wulan.
"Hus... Setiap ibu hamil berbeda sayang." Saras.
"Awal hamil saja Imel ampe ga pernah keluar rumah dan terus nempel Om." Wulan.
"Dan kalian ga pernah tau kan klo Imel pernah ketiduran di sisi kolam kmsaat asik main air." Saras.
"Hah!"
"Yakin Mi?"
"Beneran Tante?"
"Bener. Tante Mel yang tau." Saras.
"Kok Mami ga pernah cerita ya Tan?" Dini.
"Bukan ga cerita tapi kayanya belum sempet cerita." Saras.
"Jadi kasian juga ya Imel sama Om Bima kalo gitu." Nita.
"Tapi, mereka menikmatinya kok Ta." Saras.
"Iya juga ya Tan." Nita.
🌹🌹🌹
__ADS_1