Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Gendis Putri Kusuma


__ADS_3

Mama Yuni memperhatikan mobil di samping mobil yang di tumpanginya. Kemudian melihat sekitar dan Mama Yuni pun menghentikan langkahnya membuat Ibu Maryam pun menghentikan langkahnya memperhatikan Mama Yuni.


"Ada apa Mba?" Ibu Maryam.


"Tunggu! Kenapa mobil suamiku ada di sini Mba?" Mama Yuni.


"Maksudnya?" Tanya Ibu Maryam tak mengerti.


Kemudian Mama Yuni menunjuk mobil Papa Bambang yang berada di sampingnya sebagai jawaban kenapa dirinya berhenti.


"Ada apa Ma?" Saras.


"Mel, kau menutupi sesuatu dari Mama?" Tebak Mama Yuni.


"Hahaha... Baiklah... Baiklah... Ayo semua masuk. Cucu kalian sudah launching." Melati.


"Melati...." Mama Yuni.


"Aaawww... Sakit Ma." Aduh melati karena capitan tangan Mama Yuni mendarat di lengannya.


"Kalian memang anak dan Papa yang kurang garam." Umpat Mama Yuni.


"Sudah, sudah Mba. Saya sudah penasaran dengan cucu baru saya." Lerai Ibu Maryam.


"Hah! Benar. Ayo." Mama Yuni.


Sementara Saras hanya menggelengkan kepalanya melihat aksi tutup mulut Melati dan ternyata Papa Bambang dengan mudahnya menebak isi fikirannya. Saras benar-benar sangat mengakui dan memuji kontak antara Melati dan Papa mereka.


Sampai di depan ruangan Imel terdengar suara tangisan putri kedua Imel dan Bima yang begitu kuat dan kencang. Mama Yuni dan Ibu Maryam saling menatap haru suara tangisan cucu mereka. Saras memeluk Athar yang berada dalam gendongannya.


"Sayang, itu suara adik mu." Bisik Saras pada Athar.


"Adek." Athar.


"Iya sayang." Saras.


"Apa kalian akan terus berdiri di sini?" Melati.


Tanpa aba-aba lagi mereka langsung masuk kedalam ruangan Imel. Papa Bambang tersenyum menyambut kedatangan istri dan besannya, kedua putrinya dan cucunya. Mama Yuni dan Ibu Maryam langsung menghampiri Imel yang tengah menggendong putri kecilnya dengan air mata yang membasahi pipi mereka.


"Masya Allah cantiknya.." Mama Yuni.


"Mel.." Ibu Maryam.


"Hai Oma, Hai Enin..." Ucap Imel menunjukan putri kecilnya.

__ADS_1


"Hai sayang..."


Mama Yuni sama Ibu Maryam begitu terkagum melihat cucu barunya. Produk hasil karya Imel dan Bima memang bibit unggulan. Terbukti Athar dan bayi perempuan yang baru di lahirkan Imel sukses menyedot perhatian banyak orang. Athar yang cool dan menggemaskan tak pernah luput dari perhatian siapapun jika Imel atau siapapun membawanya ke luar rumah.


"Siapa namanya Bim? Apa kalian sudah menyiapkannya?" Papa Bambang.


"Namanya Gendis putri kusuma." Ucap Bima.


"Namanya cantik secantik orangnya." Ibu Maryam.


"Pas manisnya." Saras.


"Kalian produk terakhir kami tapi mampu membuat kami terpukau dengan produk-produk kalian Nak." Mama Yuni.


"Astaga! Mama. Memangnya mereka pabrik produk." Melati.


"Isshh... Sama saja." Mama Yuni.


"Hahaha...."


"Papa peringatkan ya Bim. Jangan seenaknya produksi lagi. Ingat kesehatan istrimu lebih penting. Biarkan Imel bernafas dan menikmati perannya sebagai seorang ibu dengan dua anak. Jangan lupa juga perusahaan mu di tanah air. Papa ingin pensiun malah kau beri tugas penting." Protes Papa Bambang.


"Hehehe... Siap Pah!" Ucap Bima cengengesan.


"Awas saja kamu ya. Kemarin sudah Kakak jaga masih juga kecolongan. Pulang dari rumah sakit. Kamu tidur sama Athar biar Imel sama Kami juga bayi barunya." Saras.


"Eleh, alasan kamu." Melati.


Dua hari pasca persalinan Imel sudah di perbolehkan pulang. Imel pun pulang bersama dengan Mama Yuni dan Ibu Maryam. Papa Bambang dan Bima harus menghadiri rapat penting. Saras dan Melati mengurus Athar di rumah sambil mempersiapkan kedatangan Gendis. Athar tampak acuh saja dengan kehadiran adiknya. Dirinya asik bermain bersama mainannya.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikum salam..."


"Welcome home baby Gendis."


"Wah, terima kasih Bude..."


"Mas Athar, ga kangen Mami sama Adik?" Tanya Imel yang melihat putra sulungnya hanya asii dengan mainannya.


Athar pun hanya tersenyum menjawab pertanyaan Maminya. Membuat hati Imel menceos. Mama Yuni dan Ibu Maryam mengusap pundak Imel.


"Kemari biar Gendis Kakak bawa." Melati.


"Terima kasih Kak." Imel.

__ADS_1


Imel pun mendekati Athar yang tengah asik bermain. Bi Imah yang bertugas mengawasi pun segera pergi saat Imel mendekati Athar. Mereka semua membiarkan Athar dan Imel saling meluapkan rasa rindunya.


"Mas Athar sedang main apa sayang?" Tanya Imel lembut duduk di samping putra sulungnya.


Walaupun masih sedikit ngilu Imel berusaha menepisnya demi putra sulungnya. Sudah satu jam Imel dan Athar bermain melupakan Gendis. Athar pun tampak senang bermain bersama Mami nya. Hingga suara tangisan Gendis memecah keasikan mereka berdua.


Tanpa malu-malu Imel pun menyusui Gendis di hadapan Athar untuk memberitahukan jika adiknya memang haus. Imel pun meminta Athar untuk mendekatinya bersama Gendis. Athar pun mengikutinya dan mau berinteraksi dengan Gendis walaupun Gendis hanya asik menyusu.


Semua membiarkan Athar dan Gendis bersama dengan Imel. Saat Bima dan Papa Bambang datang mereka begitu terharu melihat pemandangan antara ibu dan kedua anaknya. Bima hingga meneteskan air matanya.


"Itulah mengapa jarak anak harus berjarak Bim. Selain kasian pada istrimu. Kasian juga pada anak-anak mu yang masih membutuhkan kasih sayang dari Maminya." Papa Bambang.


Bima hanya mengangguk tanpa menjawab apapun. Bima pun segera masuk kedalam kamarnya untuk berganti pakaian. Di dalam kamar air mata Bima tak terbendung lagi bercucuran begitu saja mengingat kejadian yang baru saja di lihatnya. Dirinya pun bertekad cukup memiliki dua anak saja.


"Halo kesayangannya Papi semua.." Sapa Bima setelah rapih kembali menggunakan pakaian rumahan dan tentunya tak lupa membasuh wajahnya setelah menangis.


Dikecupnya kening Imel, Athar dan juga Gendis. Kemudian Bima duduk di samping Imel dengan memangku Athar. Seolah mengerti kedatangan Papinya Gendis pun menengok ke arah Bima dan Athar.


"Sudah selesai Mas?" Imel.


"Sudah sayang. Dan Bulan depan kita sudah bisa pindah ke tanah air." Bima.


"Alhamdulillah..." Ucap syukur Imel.


"Lusa Mas urus-urus keperluan Gendis terlebih dahulu." Bima.


Mereka berempat pun bermain bersama dengan Gendis dalam pangkuan Bima. Setelah lama bermain Mama Yuni dan Ibu Maryam pun mendekati mereka di susul Papa Bambang. Kedua Bude Athar dan Gendis membantu Bi Imah menyiapkan makan siang.


"Mel, besok Abang mau ke sini." Ibu Maryam.


"Bener Bu? Sama siapa?" Imel.


"Sama Kakak mu berdua. Karena kebetulan Abang ada luang." Ibu Maryam.


"Loh, Bang Bagas ga kesini Bu?" Imel.


"Bang Bagas sedang di luar kota Nak. Mungkin setelah selesai proyeknya dia baru bisa ke sini." Ibu Maryam.


"Ngga usah repot sayang, toh kita juga pindah bulan depan." Bima.


"Eh, bener Pah?" Tanya Mama Yuni pada suaminya.


"Loh, kan Bima yang mengatakannya kenapa Mama tanya sama Papa." Papa Bambang.


"Papa sama anak sama aja."

__ADS_1


"Hahahaa...."


🌹🌹🌹


__ADS_2