Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Imel Sakit


__ADS_3

"Hoek.... Hoek..."


Sejak subuh tadi Imel terus mengeluarkan isi perutnya. Wajahnya terlihat pucat. Bima yang mendengar Imel mengeluarkan isi perutnya di dalam kamar mandi pun dengan sigap membantu Imel. Bima menggendong Imel kembali menuju tempat tidur.


"Kita kerumah sakit ya." Pinta Bima lembut.


"Ngga mau Mas. Ini hanya masuk angin. Imel mau air jahe saja." Imel.


"Mas minta bibi buatkan ya." Bima.


Imel pun hanya mengangguk sebagai jawaban. Bima segera turun menuju dapur. Di lihatnya Mama Yuni sudah berada di dapur. Bima pun meminta pada bibi untuk membuatkan air jahe untuk Imel.


"Imel kenapa?" Mama Yuni.


"Sepertinya masuk angin Ma karena kemarin tertidur di pinggir kolam." Bima.


"Astaga! Anak itu ada-ada saja." Mama Yuni.


"Ini Mas jahenya." Bibi.


"Terima kasih Bi." Bima.


"Bima ke atas dulu Ma." Bima.


"Iya. Nanti mama menyusul. Mama buatkan bubur dulu untuk Imel." Mama Yuni.


Saat Bima Kembali ke dalam kamar terlihat Imel sudah tertidur pulas sambil meringkuk. Bima tak tega membangunkannya. Karena saat Bima membenarkan posisi tidurnya pun Imel tak terusik sama sekali.


Bima pun menyimpan air jahenya di atas nakas. Melihat Imel yang tertidur dengan pulas Bima pun memutuskan untuk mandi dan bersiap ke kantor. Saat Bima mandi Imel membuka pintu kamar mandi begitu saja membuat Bima kaget. Imel mengeluarkan kembali isi perutnya di wastafel.


"Hoek...Hoek..."


Bima segera menggunakan handuk dan menghampiri Imel yang terlihat lemas menyangga pada pinggiran wastafel. Bima segera menggendong Imel kembali ke tempat tidur. Kemudian Bima memberikan air jahe yang di minta Imel.


"Sayang, Mas khawatir. Kita ke rumah sakit ya." Ajak Bima.


"Ngga usah Mas. Masa masuk angin aja ampe ke rumah sakit. Sebentar minum obat pasti sembuh kok." Imel.

__ADS_1


"Kalo gitu Mas hubungi Johan dulu ya Mas tidak akan ke kantor. Mas mau nemenin kamu aja. Kamu mau Mas pijit?" Bima.


"Ngga Mas mau peluk aja." Imel.


"Sebentar Mas pake baju dulu ya." Bima.


"Hm.." Imel.


Bima pun segera memakai kaos dan celana pendek dan segera naik ke atas tempat tidur menemani Imel. Tak lupa Bima pun menghibungi Johan sekretarisnya jika dirinya tak masuk kantor. Karena kebetulan Arman sedang di tugaskan ke luar kota hari ini.


Tak berselang lama Mama Yuni datang membawakan bubur hangat untuk Imel agar Imel bisa minum obat dan beristirahat. Bima membukakan pintu kamar untuk Mama Yuni.


"Sayang, bagaimana masih mual?" Tanya Mama Yuni cemas.


"Sedikit Ma." Imel.


"Makanlah setelah itu obatnya diminum jangan buat kami khawatir ya sayang." Mama Yuni.


"Iya Ma. Maafin Imel ya Ma. Jadi buat kalian khawatir." Imel.


Tak ada penolakan dari Imel. Imel menerima suap demi suap bubur yang di berikan oleh Mama Yuni. Sementara Bima pun memakan sarapan yang juga di bawakan oleh Mama Yuni untuknya. Bima memakan sarapannya di sofa yang terdapat di dalam kamar sementara Imel di suapi oleh Mama Yuni.


"Udah Ma. Kenyang." Imel.


"Baiklah. Minum dan minum obatnya abis itu istirahat ya sayang." Mama Yuni.


"Iya Ma. Terima kasih Ma." Imel.


Imel memeluk Mama Yuni kemudian kembali merebahkan badannya kembali. Bima yang sudah menyelesaikan sarapannya pun kembali ke tempat tidur dan menemani Imel. Imel tertidur di pangkuan Bima sementara Mama Yuni kembali ke luar.


"Bagaimana Ma?" Tanya Papa Bambang.


"Alhamdulillah Pah masuk setengahnya. Sudah minum obat juga sekarang istirahat lagi di temani Bima." Mama Yuni.


"Ada-ada saja dia. Bagaimana bisa dia tertidur di pinggir kolam dengan air menjuntai ke kolam." Papa Bambang.


"Iya makanya jadi kedinginan terus masuk angin deh." Mama Yuni.

__ADS_1


Sudah tiga hari keadaan Imel tak kunjung membaik. Imel terlihat semakin melemas tak banyak makanan yang masuk. Sedikit saja makanan masuk maka akan kembali Imel keluarkan. Bima semakin khawatir dan memutuskan memanggil dokter walaupun Imel selalu menolaknya. Belum sempat dokter datang Imel terkulai lemas setelah kembali mengeluarkan isi perutnya hingga tak sadarkan diri. Bima pun segera memutuskan membawa Imel ke rumah sakit dan menghubungi dokternya kembali jika Imel sudah di bawa ke rumah sakit.


Papa Bambang dan Mama Yuni pun ikut serta karena merasa khawatir kepada menantunya. Bima duduk memangku Imel sementara supir di balik kemudi. Papa Bambang duduk di samping supir dan Mama Yuni di samping Bima.


"Kenapa bisa begini sih Bim? Mama bilang juga dari kemarin bawa kamu tetep saja ngeyel." Omel Mama Yuni.


"Sudahlah Ma. Mama berdo'a saja semoga menantu kita baik-baik saja." Papa Bambang.


Sampai di rumah sakit Bima segera membawa Imel ke IGD. Imel pun segera di tangani. Bima, Papa Bambang dan Mama Yuni menunggu dengan tak tenang di luar sementara Imel di periksa oleh dokter jaga. Tak lama dokter pun keluar dan Bima segera menghampirinya.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Bima.


"Dokter Imelda baik-baik saja hanya kekurangan cairan. Sudah berapa lama muntah-muntahnya Tuan?" Dokter jaga.


"Sebentar, Anda mengenal istri saya?" Bima.


"Tentu. Dia rekan saya Tuan. Beliau juga termasuk dokter yang ping disiplin." Dokter jaga.


"Ah, syukurlah. Maaf, Istri saya mengalami muntah-muntah sejak tiga hari kebelakang." Bima.


"Baiklah. Dokter Imel akan di pindahkan ke ruang perawatan silahkan Anda selesaikan administrasinya Tuan." Dokter Jaga.


"Baiklah. Terima kasih Dok." Bima.


Bima pun segera mengurus administrasinya. Papa Bambang dan Mama Yuni mengantarkan Imel beserta suster ke ruang perawatan VVIP sesuai permintaan Bima. Dua orang suster tersebut mengenali Imel saat Imel masih menjadi dokter magang. Keduanya mengagumi Imel yang begitu sabar dalam menghadapi pasien. Semangatnya tak pernah luntur walaupun dirinya dalam keadaan lelah. Kini Dokter yang selalu tampil sempurna dan bagaikan tak memiliki rasa lelah terbaring tak berdaya di atas brankar yang mereka dorong.


Bahkan Imel tak merespon apapun keadaan di sekitarnya. Setelah sampai di ruangannya dua orang suster tadi berpamitan pada orang tua Bima. Mama Yuni duduk di samping ranjang dan menggenggam tangan Imel yang tidak terdapat jarum infusnya.


"Sayang, jangan terlalu lama sakitnya ya. Jangan buat Mama khawatir sayang." Ucap Mama Yuni.


"Sudahlah Ma. Kita do'akan saja ya. Jangan menangis nanti Imel sedih." Ucap Papa Bambang menenangkan Mama Yuni.


"Mama nyesel pulang malam kemarin itu Pah. Coba saja kita pulang lebih sore mungkin Imel tak akan ketiduran di kolam sampai jaid begini." Mama Yuni.


"Semua sudah kehendak Allah Ma." Papa Bambang.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2