
Wulan dan Imel saling berbincang hingga tanpa mereka sadari G sudah tertidur dengan pulas tanpa mengasihi sebelumnya. Imel pun keluar dari kamar menuju ruang keluarga dimana suami dan keponakan iparnya berbincang.
"Sayang, G sudah tidur?" Bima.
"Iya Mas. Kita tidur juga yuk." Ajak Imel.
"Ya sudah. Juan, sana susul anak sama istri kamu tidur juga." Bima.
"Iya Om." Juan.
Imel pun bergelayut manja pada Bima sepanjang menuju kamar mereka. Bima menyukai sifat manja Imel yang selalu di tunjukan hanya padanya. Imel akan bersikap dewasa ketika berhadapan dengan siapapun. Imel tak pernah menunjukan sisi manja ataupun cengengnya pada siapapun kecuali Bima.
"Mas, minggu besok Ibu ikut ke sini juga sama Mama Papa Nita." Imel.
"Iya. Ibu udah kasih kabar sama Mas. Tapi, sayang sepertinya Mama sama Papa belum datang minggu besok.
"Loh, kok Mas ga kasih tau Imel sih klo ibu mau ke sini?" Imel.
"Ibu baru kasih tau Mas tadi siang sayang." Bima.
"Owh! Iya. Imel juga tau dari Nita malah. Terus Mama sama Papa kapan pulang?" Imel.
"Tadinya lusa udah bisa pulang tapi katanya ada hal lagi yang masih harus di selesaikan jadi tanggung mau selesaikan dulu." Bima.
Setelah saling membersihkan diri dan berganti pakaian menggunakan piyama mereka pun bersiap untuk tidur. Karena perut Imel yang sudah semakin membuncit membuatnya kesulitan untuk memeluk Bima oleh karena itu Bima lah yang akan memeluk Imel saat mereka tertidur.
Pagi hari rumah terasa ramai karena G. Bangun tidur G menangis kencang mencari Imel. Imel yang sedang berada di dapur pun segera menghampiri Wulan yang tengah menggendong G dan menenangkannya.
"Eh, sayangnya Uti kenapa nangis." Tanya Imel.
Ya Imel tidak ingin cucu-cucu Bima menyebutnya dengan sebutan Oma. Imel menemukan panggilan tersendiri yakni UTI yang berarti enyang putri. Dan panggilan untuk Bima AKUNG yang berarti Mbah Kakung.
"Eh, itu Uti." Ucap Wulan.
Dan seketika tangisan G terhenti dan matanya mencari keberadaan Imel. Begitu terlihat dimana Imel G menyunggingkan senyumannya. Imel pun mengmbil alih gendongan G dari Wulan. Wulan melanjutkan pekerjaan Imel menyiapkan sarapan sementara Imel menjaga G.
G terlihat lebih anteng bersama Imel bahkan hingga Imel pun menjadikan G. Bima, Wulan dan juan merasa was-was jika G selalu ingin bersama Imel. Pasalnya Imel pun tengah berbadan dua. Mereka semua takut terjadi apa-apa dengan kehamilan Imel. Sementara Imel begitu mendambakannya.
"G sayangnya Mami. Gendong Mami yuk mimik susu." Ajak Wulan.
"Wah,, mimik. Mau Mih mau." Jawab Imel menirukan suara anak kecil.
Awalnya G menolak karena ingin selalu bersama Imel. Namun, setelah di bujuk akhirnya G mau lepas dari Imel. Wulan pun meminta Imel untuk beristirahat karena khawatir dengan keadaannya. Imel pun merebahkan badannya di tempat tidur dimana Wulan tengah menyusui G.
__ADS_1
"Dini gimana? Mama sama Maminya masih ada di rumahnya kan?" Imel.
"Mamanya Dini sama keluargany udah pulang kemarin sore. Klo Tante Mel sih bolak balik terus. Tapi rencananya Tante Mel mau tinggal di rumah Dit dulu beberapa hari." Wulan.
"Waah,,, seneng dong tuh Dini." Imel.
"Dit nya yang uring-uringan terus nih. Soalnya Dini kaya ga punya waktu gitu buat dia. Jadi Dit nyari perhatian gitu." Wulan.
"Ish.. Terus Dini gimana? Kesel banget pasti suaminya kelewat manja." Imel.
"Iya makanya tante Mel bolak balik terus dan mutusin buat tinggal sementara di rumah Dit." Wulan.
🎶🎶🎶
Hari ini Keluarga Nita akan datang ke kota Y untuk menghadiri acara tujuh bulanan kehamilan dan Ibu Maryam pun akan ikut serta untuk menghadirinya dan juga sekalian mengunjungi putri semata wayangnya. Nita sejak pagi sudah siap menyambut kedatangan orang tuanya begitu juga dengan Imel. Karena tak ingin mengganggu Imel dan Ibunya Wulan mengungsi di rumah orang tua Juan karena G lebih dekat dengan Mama Juan dari pada dengan Saras.
Mungkin karena sejak di dalam perut Wulan Mama Juan lebih sering menemaninya. Sementara Melati sibuk mengurus cucunya karena putra semata wayangnya terkena baby blues yang mengharuskan Dini fokus mengurus Dodit.
"Bi, kamar tamu sudah siap?" Imel.
"Sudah Mba. Nanti mau di masakin apa Mba?" Bibi.
"Masak seperti biasa aja Bi. Ibu tidak suka di ada-ada." Imel.
"Tante,,,"
"Wa'alaikum salam..."
"Eh, lupa. Assalamu'alaikum Tante.." Dini.
"Wa'alaikum salam... Ada apa?" Imel.
"Mau minta resep obat." Dini.
"Heh! Ga salah." Imel.
"Ayolah Tante sayang... Tolongin keponakan mu yang satu ini." Bujuk Dini.
"Ngga ya. Gw ga punya wewenang kasih resep obat." Imel.
"Plis... Gw tau lu masih punya ijinnya. Cuma lu nya aja yang ga praktek. Ayolah Mel." Dini.
"Iisssh... Lu ke tempat praktek dokter lain aja ah." Imel.
__ADS_1
"Mel, gw tau lu bisa obatin laki gw plis." Dini.
"Huh! Baiklah. Hanya kali ini aja ya." Imel.
Dini pun mengikuti langkah Imel menuju ruang kerja Bima. Imel menuliskan resep tanpa menanyakan apa keluahan Dodit. Dini menatap heran pada Imel. Imel dengan santainya menuliskan resep obat.
"Nih, lu beli sendiri obatnya." Ucap Imel memberikan selembar kertas resep.
"Lu ga nanya dulu apa keluahan gw?" Dini.
"Ga. Ntar aja kalo tuh obat ga mempan lu tanya jawab ama dokter lain." Imel.
"Imelda Anastasya terima kasih cantik, sayang, cinta. Love you full muach..." Dini.
"Jiah... Udah sana pergi keburu laki lu ngamuk." Usir Imel.
Dini pun segera berlari menuju rumahnya yang hanya bersebrangan dengan Imel. Dini segera meminta supirnya untuk membelikan resep obatnya. Setelah itu Dini segera menemui suaminya.
"Mas," Dini.
"Sayang... Kamu pergi ninggalin Mas ya?" Dodit.
"Ngga kok Mas. Maaf ya. Dini tadi sakit perut." Dini.
"Kamu sakit sayang? Kita ke rumah sakit." Dodit.
"Ngga perlu sayang. Dini cuma pengen buang air besar saja." Dini.
"Syukurlah. Sini sayang Mas peluk. Kamu capek ya ngurus bayi kecil itu." Dodit.
"Ngga Mas. Baby A ngga rewel kok. Sekarang A lagi bobo sama Mami." Dini.
"Kamu jangan capek-capek ya sayang. Nanti kamu kurus. Biar aja A Mami yang urus. Biar aja A Mami bawa." Dodit.
"Eh, ngga usah sayang. Biar aja A disini. Mami juga senang A disini. Apalagi Mami sama Papi cuma punya anak Mas seorang jadilah mereka senang bisa main-main sama A." Dini.
"Tapi nanti kamu sakit sayang, kamu capek. Gimana kalo pake suster saja sayang?" Dodit.
"Iya. Nanti kita bicarakan lagi ya. Mas istirahat saja dulu yuk." Dini.
"Tapi, kamu ga pergi kan sayang?" Dodit.
"Ngga Mas. Dini disini kok." Dini.
__ADS_1
🌹🌹🌹