Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Bertiga


__ADS_3

Dua hari Teh Leli berada di gudang dan tak sekali pun Imel menengoknya di sana. Hari ini adalah hari ke tiganya dan selama Teh Leli di gudang Gendis di rawat oleh Imel sendiri di bantu Bi Emi yang menjaga Athar. Mama Yuni pun ikut membantu merawat kedua cucunya.


"Sayang, apa kamu jadi ikut ke rumah sakit sama Dini dan Wulan?" Tanya Bima.


"Jadi Mas. Sekalian imun Gendis." Imel.


"Athar gimana?" Bima.


"Athar nanti di bawa Bi Emi sama baby sitter yang lain main di playground." Imel.


"Ada siapa nanti?" Bima.


"Husen dan Rudi ikut serta." Imel.


"Baiklah. Kalian hati-hati. Maaf Mas tidak bisa mengantar ya sayang. Mas harus menghadiri rapat penting." Sesal Bima.


"Tidak masalah sayang. Nanti Dodit ikut serta kok." Imel.


"Baiklah. Mas berangkat dulu ya." Pamit Bima.


"Hati-hati sayang." Imel.


Sepeninggalan Bima Imel segera bersiap untuk pergi bersama ke tiga sahabatnya ke rumah sakit tempat dimana dulu Imel bekerja. Mama Yuni ikut mempersiapkan perlengkapan Gendis sementara Imel juga bersiap untuk pergi. Athar pun telah di siapkan oleh Bi Emi. Bi Emi pun sudah bersiap untuk pergi.


Imel pergi bersama ke empat sahabatnya menggunakan satu mobil. Athar dan Bi Emi pun dalam satu mobil bersama para baby sitter dan balita mereka masing-masing. Dengan kawalan Husen dan Rudi.


"Mel, Gimana Teh Leli?" Nita.


"Besok gue balikin ke kota C." Imel.


"Kata Ibu banyak yang nyari si Teh Leli di kampung." Nita.


"Wah, ada apa tuh?" Nita.


"Paling bank keliling." Wulan.


"Tepat sekali anda. Teh Leli pinjem sana sini. Kalo ga di kasih terus bilang masa ga percaya saya kerja di rumah itu sambil nunjukin rumah Ibu." Jelas Nita.


"Pantes pas gue minta dia ke sini semangat banget." Imel.


"Ada yang kita ga tau dari diemnya dia Mel." Nita.


"Kayanya gitu deh Nit." Dini.


"Mending ambil di yayasan aja deh Mel. Klo ada apa-apa tinggal pecat aja beres. Kalo kaya gini jadi ribet." Wulan.


"Ya. Tadinya gue fikir kalo orang deket kan biar enak gitu eh, nyatanya zong." Imel.

__ADS_1


"Biar jadi pelajaran aja." Dini.


Tanpa terasa mereka pun telah sampai di rumah sakit. Imel melenggang sendiri ke tempat dokter anak sementara ketiga sahabatnya pergi ke dokter kandungan. Imel berjalan sendiri sambil menggendong Gendis. Imel menyapa perawat yang bertugas di ruang dokter anak.


"Selamat pagi sus. Saya sudah reservasi sebelumnya atas nama Gendis." Imel.


"Owh! Baiklah Bu. Di tunggu sebentar ya." Perawat.


Imel menunggu sejenak duduk di ruang tunggu bersama yang lainnya. Menunggu beberapa saat akhirnya Gendis pun mendapatkan panggilan. Imel pun beranjak menuju ruang pemeriksaan.


"Selemat pagi Dokter." Sapa Imel pada dokter Ridwan.


"Selamat pagi. Loh, dokter Imelda apakabar?" Sapa dokter Ridwan.


"Alhamdulillah baik Dokter. Lama tidak bertemu makin ganteng aja nih. Apa kabar Nyonya?" Imel.


"Bisa aja. Alhamdulillah nyonya baik. Pasti dia seneng banget denger Dokter ada di sini." Dokter Ridwan.


"Salam aja buat nyonya ya Dok." Imel.


"Baiklah. By the way bary satu Dok?" Dokter Ridwan.


"Alhamdulillah dua Dok. Ini yang ke dua dan semoga terakhir." Imel.


"Hahaha... Bisa saja. Ini lagi singgah atau pindah?" Dokter Ridwan.


"Pindah ke sini lagi Dok. Suami kan emang udah di sini sih. Kemarin karena ada pekerjaan aja." Imel.


"Maunya gitu tapi ga mungkin Dok. Anak-anak aku ga bisa lepas." Imel.


"Apalagi Ayah nya ya Dok." Canda Dokter Ridwan.


Suster yang berjaga disana pun hanya diam memperhatikan interaksi keduanya. Dua suster yang berjaga memang baru jadi tidak mengetahui Imel. Selepas Gendis di imunisasi Imel pun berpamitan pada Dokter Ridwan dan tak lupa memberikan cendera mata untuk Dokter Ridwan dan istrinya yang kebetulan suster dimana Imel dulu bekerja.


"Terima kasih banyak Dokter. Jadi, terharu anda masih mengingat kami." Dokter Ridwan.


"Mana mungkin lupa Dokter. Mari saya pamit ya Dokter." Imel.


Kemudian Imel menyusul ke tiga sahabatnya yang masih berada di ruang obgyn. Sepanjang perjalanan menuju klinik dokter kandungan banyak suster yang menyapanya juga ada beberapa dokter yang berpapasan dengannya yang juga menyapanya.


Imel memang dokter yang banyak di sukai oleh rekan sejawatnya ataupun oleh pasien-pasiennya. Karena keamanannya yang tak memandang status. Imel melihat ke tiga sahabatnya tidak berada di ruang tunggu. Oleh karena itu Imel berinisiatif bertanya pada suster yang berjaga.


"Permisi, maaf suster apa Nyonya Juan, Nyonya Heru dan Nyonya Dodit sudah selesai di periksa?" Tanya Imel.


"Masya Allah Dokter Imelda... Apa kabar?" Sapa perawat jaganya.


"Hai,,, Alhamdulillah baik Suster." Imel.

__ADS_1


"Orang yang Dokter cari ada di dalam. Mereka masih pemeriksaan." Suster.


"Maksudnya mereka masuk bertiga?" Imel.


"Iya Dok." Suster.


"Astaga! Baiklah. Saya tunggu di sini saja. Terima kasih Suster." Imel.


"Sama-sama Dokter." Suster.


Imel pun membawa Gendis duduk di kursi tunggu. Semua mata ibu hamil tertuju pada baby Gendis yang menggemaskan karena pipi nya yang chuby. Gendis juga ramah pada siapapun selalu memberikan senyumnya berbeda dengan Athar kecil yang memang irit senyum pada orang lain.


Tak lama Imel duduk Dodit datang menghampirinya setelah membeli minuman di kantin. Imel mengernyitkan dahinya melihat kedatangan Dodit.


"Loh, kamu ga ikut masuk Dit?" Imel.


"Astaga! Nggaklah Tan. Disana Ada Nita juga mana mungkin Dit masuk." Dodit.


"Hah! oh iya. Mereka selalu begitu setiap periksa?" Imel.


"Jika para suami tak bisa mengantar maka mereka akan masuk bertiga." Dodit.


"Astaga! Udah hamil barengan, periksa barengan juga." Imel.


"Bahkan Dodit, Juan dan Heru sudah memesan kamar tiga sekaligus jika saja mereka melahirkan bersama." Dodit.


"Mereka memang seperti kembar tiga sejak dulu. Tanpa di sengaja mereka sering menggunakan pakaian yang sama. Bahkan orang-orang fikir aku yang ga kompak sendiri karen seringnya seperti itu." Kenang Imel.


"Sedih banget dong Tan jadi beda sendiri." Dodit.


"Awalnya iya. Lama-lama masa bodo juga toh itu semua juga tanpa mereka sadari." Imel.


"Ga salah Om Bima pilih Tante." Puji Dodit.


"Kamu kenapa sih di rumah atau di luar tetep panggil aku Tante?" Imel.


"Supaya lidahnya terbiasa Tan. Nanti takutnya keceplosan jadi ribet urusan." Dodit.


"Iya juga sih hehehe.. " Jawab Imel tertawa.


"Dini juga Dit minta panggil Tante aja biar terbiasa lidahnya." Dodit.


"Pantes. Terkadang dia malah lebih sering panggil Tante daripada lu gue." Imel.


"Iya. Ga enak aja kali aja ga sengaja ketemu sodara di luar tiba-tiba denger kita panggil lu gue sama Tante kesannya kita ga sopan." Dodit.


"Makasih ya Dit." Imel.

__ADS_1


"Sama-sama."


🌼🌼🌼


__ADS_2