Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Horor


__ADS_3

Pagi-pagi Imel dan Wulan sudah heboh entah memperebutkan apa keduanya. Stela pun ikut heboh bersama kedua tantenya. Ibu Maryam dan Anya hanya menggelengkan kepala saja melihat tingkah mereka. Juan yang baru saja datang setelah lari pagi bersama Juna pun membiarkan saja mereka.


Juan dan Juna masuk ke dalam kamar masing-masing untuk membersihkan diri karena badan mereka terasa lengket oleh keringat. Anya yang melihat kedatangan suaminya segera menyusul ke dalam kamar untuk menyiapkan keperluan Juna.


Sementara Juan harus menyiapkan sendiri karena Wulan sedang asik bersama Imel dan Stella. Bian dan Teh Leli yang baru selesai mandi bingung melihat tiga perempuan di hadapannya. Ketiganya tertawa lepas melihat ekspresi wajah Bian yang bingung.


"Kok semuanya ketawa." Ucap Bian.


"Kamu kok lucu banget sih dek. Tante jadi gemes deh." Ucap Wulan menangkup kedua pipi Bian yang chubby.


"Iih,,, Tante Bian baru mandi ya." Protes Bian.


"Eh, masa? Mana sini Tante cium." Wulan.


"No Tante. Bian sudah gede ga mau di cium-cium." Tolak Bian.


Wulan dan Imel pun tertawa melihat tingkah lucu Bian. Semakin besar Bian semakin sulit jika kita ingin menciumnya. Bahkan Imel selalu mencuri ciuman Bian jika terlalu gemas dan Bian akan protes bahkan bisa sampai menangis.


"Sayang," Panggil Juan.


"Eh, udah mandi. Kapan masuknya?" Tanya Wulan yang gak melihat Juan dan Juna masuk.


"Sudah dari tadi kamu saja yang terlu asik bermain." Juan.


"Eh, maaf ya Yang." Wulan.


"Tidak apa-apa. Jam berapa kita ke tempat Nita?" Juan.


"Siang Yang. Kita sarapan saja dulu yuk." Ajak Wulan.


"Iya. Ibu sudah menyiapkannya." Imel.


"Lu ga makan Mel?" Juan.


"Makan juga dong. Sebentar Gw mau ke kamar dulu." Pamit Imel.


Setelah semua berkumpul di meja makan semua pun menikmati hidangan sarapan ala kadarnya yang di siapkan Ibu Maryam dan Teh Leli. Ibu Maryam melarang Imel masuk ke dapur untuk beberapa waktu kedepan sampai hari pernikahannya.


Karena katanya nanti bau bumbu dapur pas nikahan. Entahlah ada aturan dari mana. Ibu Maryam begitu mewanti-wanti putri semata wayangnya.


"Dini sama Dodit nanti langsung ke tempat Nita?" Anya.

__ADS_1


"Iya Kak. Mereka baru datang ke kota C. Jadi nanti langsung saja." Imel.


"Waah,, buka oleh-oleh nih." Wulan.


"Hus kamu ini." Juan.


"Kalo begitu Kakak sama Kak Juna mau ke rumah sebentar sama anak-anak." Pamit Anya.


"Kamu belum dinas lagi Bang?" Ibu Maryam.


"Besok Juna terbang lagi Bu. Biar nanti pas acara Imel Juna sudah turun." Juna.


"Ya sudah. Hati-hati. Jangan lupa berdoa." Ibu Maryam.


"Iya Bu." Juna.


Mereka semua pun berpisah. Ibu Maryam beserta Imel, Wulan dan Dodit menuju rumah Nita untuk persiapan acara siraman dan pengajian. Tak butuh waktu lama mobil Juan sudah tiba di halaman rumah Nita.


Terlihat mobil Dodit pun baru saj memasuki halaman rumah Nita yang sudah di sulap sedemikian rupa sehingga menjadi tampak megah tak kalah dari gedung mewah. Keluarga Nita sepakat mengadakan acara di rumah saja mengingat halaman rumah mereka begitu luas. Dan kebetulan juga terdapat kebun milik Ayah Nita di samping rumah mereka.


"Dini.." Teriak Imel begitu keluar dari mobil Juan.


"Imell..." Teriak Dini.


Ibu Maryam sudah bergabung bersama Mama Nita dan ibu-ibu yang lainnya. Acara demi acara pun berlangsung khidmat. Derai air mata pun tak dapat terbendung lagi. Isak haru terus menggema di seluruh ruangan. Hingga sore hari di tutup oleh acara pengajian.


Karena rumah Imel dekat. Imel pun berpamitan terlebih dahulu pada Nita untuk kembali lagi setelah mandi nanti. Imel,. Wulan dan Dini berencana menginap di rumah Nita sebagai malam perpisahan sebelum Nita melepas masa lajangnya. Bima tak nampak di sana karena masih menyelesaikan tugasnya di LN.


Dan kali ini Imel tak mempermasalahkan kepergian Bima karena setiap hari Bima akan selalu mengabari Imel. Steve juga akan selalu memberikan kabar tentang kegiatan bos sekaligus sahabatnya.


"Ta, deg-degan ga?" Tanya Imel sambil merebahkan dirinya di samping Nita.


"Banget Mel." Nita.


"Gw juga dulu gitu." Wulan.


"Sama aja. Lu juga nanti pasti ngerasain gugup yang sangat melebihi saat Lu ngadepin pasien yang rese." Dini.


"Bahkan ngadepin dosen paling kiler aja gw masih bisa becanda. Tapi, ngadepin ijab kabul Mas Juan astaga... Rasanya gw berhenti bernafas." Wulan.


"Iiihh... Lu pada kenapa jadi nakutin sih." Imel.

__ADS_1


"Beneran Mel. Liat deh tangan gw tremor banget. Padahal acaranya baru besok pagi. Aduh rasanya ga bisa merem mata gw." Nita.


"Iih,, klongitu gw ga mau ah takut." Imel.


"Apalagi pas udah selesai acara Mel. Lebih serem lagi." Dini.


"Apaan?" Nita.


"Pas kita udah di kamar bareng makhluk yang namanya suami, beuh.... horor pokoknya." Wulan.


"Mundur kena maju apalagi." Dini.


"Aaa... Jangan di ceritain. Itu pasti serem banget. Aaa... Boleh ngga ya nolak." Ucap Nita menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Hahahaa...."


Dini dan Wulan tertawa bersama sementara Nita dan Imel menutup wajahnya. Nita yang akan menghadapi pernikahan esok hari semakin di buat ketakutan begitu juga dengan Imel.


Hampir larut ketika dua gadis dan dua mantan gadis itu tertidur. Dini hari Imel terbangun lebih dulu karena suara panggilan di ponselnya. Rupanya Bima yang menghubunginya pagi-pagi. Karena Bima berfikir pasti Imel tidur larut dan Bima takut Imel akan bangun kesiangan.


"Halo.." Imel.


"Halo sayang. Sudah bangun?" Bima.


"Hm... Imel baru bobo Mas. Nanti telfon lagi ya..." Imel.


"Eeh,, sayang jangan. Ini sudah pagi. Nanti kamu kesiangan loh." Bima.


"Hah! Memangnya ini jam berapa?" Tanya Imel.


"Di sana pasti sudah jam 4." Bima.


"Apa! Astaga! Ya udah. Imel tutup dulu telfonnya ya Mas. Imel mau bangunkan yang lainnya." Imel.


"Ya udah. Asal jangan bobo lagi ya. Love you." Bima.


"Iya ngga Mas. Love you too." Imel.


Imel bangkit dari tempat tidurnya dan langsung meluncur ke kamar mandi untuk mandi terlebih dahulu. Setelah dirinya selesai Imel membangunkan Nita si pengantin yang tentunya harus sudah siap. Setelah Nita barulah Imel membangunkan Dini dan Wulan.


Dodit dan Juan yang menginap di rumah Imel sudah bangun dan bersantai sejenak. Ibu Maryam dan Anya tengah menyiapkan sarapan. Karena di takutkan mereka akan kelaparan.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2