
Papa Bambang dan Saras baru saja tiba di bandara mereka berdua di sambut oleh supir Bima yang bertugas menjemput Papa Bambang dan Saras. Mereka berdua segera bergegas menuju rumah sakit dimana Imel melahirkan. Saat tiba di rumah sakit Imel telah di pindahkan ke ruang perawatan dan tengah menyusui putra pertamanya.
Saras begitu takjub pada Imel yang sudah dengan luwes memberikan ASI pada putranya. Tanpa di sadari Papa Bambang meneteskan air mata bahagianya. Papa Bambang seperti menemukan putri kandungnya sendiri ketika bertemu dengan Imel di tambah Imel telah kehilangan Ayahnya membuat Papa Bambang seperti memiliki tanggung jawab yang sangat berat pada Imel. Walaupun Imel menikah dengan putra semata wayangnya Papa Bambang tetap memiliki kekhawatiran tersendiri pada Imel. Mama Yuni memeluk lengan Papa Bambang ketika menyadari suaminya tengah menangis haru.
"Apa Imel kesakitan saat melahirkan cucu kita?" Papa Bambang.
"Tidak Mas. Imel begitu tegar dan kuat." Mama Yuni.
"Apa anak nakal itu berada di samping menantu kita?" Papa Bambang.
"Tentu. Tak sedetik pun putra kita meninggalkan istrinya." Mama Yuni.
Setelah selesai mengasihi putranya Imel memberikan putranya pada Saras. Dengan rasa suka cita Saras menggendong keponakannya. Keponakan yang telah lama di nanti karena Bima tak kunjung menikah. Maklumlah Saras dan Melati menikah muda membuat mereka mendapatkan putra dan putri lebih dulu.
"Wah,,, senengnya Tante gendong keponakan tante yang ganteng ini. Akhirnya Dodit punya saingan." Ucap Saras.
"Anak kalian menyebut Dini dan Dodit nanti bukan tante melainkan kakak begitu juga pada Juan dan Wulan." Papa Bambang.
"Jadi ribet ya Pah. Masa nanti baby panggil Nita tante panggil yang lain Kakak. Sementara mereka sahabat Imel semua hahaha..." Ucap Imel.
"Hahaha... Kamu sih mau nikah sama om-om." Canda Saras.
"Abis om-om nya maksa sih kak." Imel.
"Hus... Kesannya iya gitu sayang padahalkan emang dikit..." Bima.
"Alhamdulillah nya menantu Mama Imel jadi cucu Mama jadi cakep." Mama Yuni.
"Lah, emang ada kandidat lain Mah?" Papa Bambang.
"Ngga ada. Tapi, mama serem aja ngebayangin klo Bima nikah sama cewek yang kedoknya tebel gitu." Mama Yuni.
"Ish... Mama do'anya bagus banget. Lagian mana mau Bima sama yang begituan. Nah, terbukti sendiri kan tipe Bima tak ada tandingannya begini." Tunjuk Bima pada Imel.
"Gomballll...." Imel.
Suasana ruangan Imel pun terasa begitu hangat terasa walau yang hadir di sana hanya Papa Bambang, Mama Yuni, Saras dan Bima saja. Steve tidak bisa ikut hadir begitu pula sang istri yang berhalangan. Steve harus mengheandle perusahaan tanpa Bima untuk beberapa waktu kedepan karena Imel baru saja melahirkan sedangkan Istrinya harus mengurus anak-anak mereka.
"Bim, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk jagoan mu ini?" Papa Bambang.
__ADS_1
"Sudah Pah." Bima.
"Siapa?" Tanya Saras antusias dan di angguki oleh Mama Yuni.
"Namanya Athar Rizki Kusuma." Bima.
"Halo Baby Athar..." Saras.
"Apa panggilannya? Jangan sampai seperti Dodit Baby A." Papa Bambang.
"Tentu ngga dong Pah. Panggilannya tetap Athar." Bima.
"Pah, putrinya Nita siapa namanya?" Imel.
"Loh, kamu belum tau Mel?" Saras.
"Belum Kak. Setiap kali Imel mau tanya selalu teralihkan jadi malah lupa deh. Semua manggil baby girl lagi." Jelas Imel.
"Namanya Jelita." Saras.
"Wah, namanya secantik anaknya pasti." Imel.
"Athar jangan ya sayang. Masa lebih tua. Athar nanti cari yang lebih muda kaya Papi dapetin Mami ya." Ucap Bima pada putranya yang sedang tertidur dalam gendongan Saras.
"Hus... Kamu kok ngatur-ngatur jodoh. Do'akan saja yang terbaik." Mama Yuni.
"Siap komandan!" Jawab Bima ala-ala militer.
Karena waktu sudah larut Papa Bambang, Mama Yuni dan Saras pamit pulang terlebih dahulu dan akan kembali besok pagi. Imel dan Bima di tinggal berdua untuk mengurus baby Athar. Bima dengan suka rela bangun saat Athar terbangun. Imel begitu terharu ketika melihat Bima menggendong Athar untuk di tidurkan.
"Terima kasih Tuhan kau telah hadirkan pria seperti Mas Bima untuk hadir di hidupku." Batin Imel dengan air mata yang meleleh di pipinya. Imel segera mengusapnya karena tak ingin Bima melihatnya dan membuatnya cemas.
Bima menyimpan kembali Athar dalam boksnya kemudian mendekati tempat tidur Imel megusap lembut puncak kepalanya. Bima pun tak henti bersyukur mendapatkan istri seperti Imel. Seorang sarjana kedokteran yang di raihnya sebagai cita-citanya sejak kecil rela dia tinggalkan demi mengabdi padanya.
"Terima kasih sayang. Kamu telah rela mengahabiskan sisa hidupmu bersamaku. Tetap berada di samping Mas apapun keadaannya. Menjadi istri dan Ibu yang terbaik bagi kami. Terima kasih sayang." Bisik Bima pada Imel yang tengah tertidur.
Berita kelahiran Putra pertama Imel pun telah sampai pada ketiga sahabatnya di negeri tercinta. Mulanya Dini mendapatkan kabar dari Melati yang mangatakan jika Saras tengah mengantar Papa Bambang ke negara dimana Imel dan Bima tinggal. Beberapa waktu kemudian Melati pun mengatakan jika Imel telah melahirkan putra pertamanya.
"Din,bener Imel udah melahirkan?" Tanya Nita yang baru saja tiba di rumah Dini dengan menggendong Jelita.
__ADS_1
"Bener Mami yang bilang." Dini.
"Kok lu ga bilang Wu?" Nita.
"Gw ga tau klo Imel lahiran. Yang gw tau Mami pergi anter Opa itu aja.." Wulan.
"Kata Mami pas Opa sama Tante Saras dalam perjalanan Imel di larikan ke rumah sakit. Jadi, pas Opa sama Tante datang Imel udah lahiran." Dini.
"Kok Imel belum gabung di grup?" Nita.
"Iya dia belum jawab." Wulan.
"Imel ga bawa ponsel. Baru mau di bawain sama Tante Saras. Jadi, harap sabar." Dini.
"Mami udah kirim foto baby nya?" Wulan.
"Saking heboh dan senengnya Tante Saras sampe lupa mau foto baby nya. Tapi, Mami bilang namanya Athar." Dini.
"Tante Mel mau terbang ya?" Nita.
"Tadinya sih mau gitu tapi ga jadi karena Papi ga bisa terbang dalam waktu dekat." Dini.
"Terus kita gimana?" Nita.
"Kita bilang deh sama suami-suami kita. Kita mau terbang ke sana." Wulan.
"Yakin di ijinin ngga ya?" Dini.
"Kita coba aja dulu." Wulan.
"Hm... Jeli baru dua bulan. Mas Heru kasih ijin ga ya? Tiket ke sana kan ga sedikit." Nita.
Dini dan Wulan saling pandang. Kemudian Wulan mendekati Nita.
"Lu jangan khawatirin masalah tiket Ta. Lu jangan lupa klo Opa punya pesawat pribadi jadi nanti kita ijin Opa buat pake klo suami kita ijinin." Wulan.
"Iya Ta. Terus disana lu ga perlu mikir apa-apa sahabat kita kan tajir masa iya ga bisa kasih kita makan makanan yang layak." Dini.
Nita pun terharu mendengar Dini dan Wulan berbicara hingga tanpa di sadari air matanya meluncur bebas di pipinya. Wulan dan Dini pun memeluk Nuta dari samping kanan dan kirinya.
__ADS_1
🌹🌹🌹