
Perjalanan dari rumah ke mesjid dan sebaliknya Bima manfaatkan untuk berbincang pada Papa nya mengenai Imel semalam. Bima meminta Papa nya untuk tidak membahas mengenai kehamilan ketika berkumpul dan Bima pun meminta Papa nya untuk membicarakannya pada Mama Yuni.
Papa Bambang pun menyetujuinya dan meganggap itu hal wajar yang di alami seorang wanita ketika sudah memasuki pernikahan walaupun hal ini terlalu cepat untuk Imel namun Papa Bambang tak mempermasalahkan hal tersebut mengingat Imel pun baru saja kehilangan cinta pertamanya.
"Terima kasih Pah." Bima.
"Tidak perlu berterima kasih Nak. Kita satu keluarga dan wajib bagi kita saling tolong menolong. Jika pun kalian memilih untuk tidak memiliki anak kami pun tak mempermasalahkan karena semua keputusan ada pada kalian. Kalian yang akan menjalaninya maka kami tidak berhak ikut campur. Kami hanya sekedar meningkatkan." Papa Bambang.
"Iya Pah." Bima.
Sesampainya di rumah Bima menemukan Imel yang tengah berkutat di dapur bersama bibi. Sementara Mama Yuni sudah kembali ke kamarnya untuk membersihkan dirinya. Bima pun menghampiri Imel dan memintanya duduk menemaninya di belakang untuk bersantai dan membiarkan Bibi melanjutkan pekerjaannya.
Imel pun menuruti Bima namun, sebelumnya Imel membuatkan secangkir kopi untuk Bima dan segelas susu untuk dirinya sendiri. Imel mendudukan dirinya di samping Bima. Karena dua hari kedepan Bima masih cuti dan bersantai di rumah bersama istri tercintanya.
Sementara Papa Bambang menceritakan apa yang di ceritakan Bima pada Mama Yuni dan Mama Yuni pun merasa prihatin pada Imel. Mama Yuni khawatir pada Imel. Takut jika semuanya menjadi beban bagi Imel.
"Mama sedih dengernya Pah." Mama Yuni.
"Ya begitu juga Papa. Walaupun ini terlalu dini mengingat pernikahan mereka baru saja dua minggu tapi ini benar-benar membuat Imel stres." Papa Bambang.
"Pantas saja wajahnya terlihat murung." Mama Yuni.
"Dua hari ini mungkin Bima bisa menghiburnya tapi untuk beberapa hari kedepannya Bima akan bekerja dan hanya ada kita menemaninya. Apa Mama ada solusi untuk membuat Imel melupakan hal itu?" Papa Bambang.
"Biar Mama fikirkan Pah. Atau bagaimana nanti Mama ajak Imel ke salon saja. Eh, tapi masa iya tiap hari ke salon ya Pah." Mama Yuni.
Mereka berdua pun sejenak berdiam sibuk dengan fikiran masing-masing. Namun, Mama Yuni segera menemukan solusinya.
"Mama tau Pah. Kita bawa saja ke butik Melati atau ke restoran Wulan." Mama Yuni.
__ADS_1
"Sepertinya ke butik Melati lebih baik Mah. Ke resto malah nanti sering ketemu Wulan. Lihat perut Wulan malah tambah ke fikiran lagi." Papa Bambang.
"Iya juga. Ya udah nanti mama aja ke butik Mel saja. Sama nanti Mama ajak ke toko bunganya Saras Pah. Yang penting jalan dan sejenak melupakan hal-hal yang menjurus ek situ walaupun pasti akan banyak hal yang membuat Imel berfikir ke situ tapi setidaknya Imel bisa lebih tegar." Mama Yuni.
"Sip deh. Mama memang ibu yang hebat." Puji Papa Bambang.
"Cuma Mama hebat aja ya Pah. Ngga istri hebat?" Sindir Mama Yuni.
"Tentu saja Istri hebat dong Mah. Pokoknya Mama itu the best dalam hal apapun. Apalgai di situ." Tunjuk Papa Bambang pada tempat tidur.
"Hus... Masih pagi juga otaknya langsung saja ke situ." Mama Yuni.
"Masih ke inget yang semalam Mah. Legit." Papa Bambang.
"Iih,, udah ah ayo ke luar. Sarapan. Bahaya nanti terus di sini." Mama Yuni.
"Sekali-kali apanya. Sering kali iya." Mama Yuni.
Mereka berdua pun keluar dan ikut bergabung bersama dengan Imel dan Bima. Berbincang ringan mengenai banyak hal. Tak sedikit pun Papa dan Mama Bima membahas mengenai anak di hadapan Imel. Sampai Bibi mengatakan jika sarapan untuk mereka telah terhidang. Mereka pun segera pergi ke meja makan untuk menikmati sarapan mereka.
Seusai sarapan Mama Yuni mengajak Imel ke kebun bunganya di samping rumah keberulan Mama Yuni senang berkebun. Lumayan banyak koleksi tanaman hias yang dia miliki. Sejenak Imel melupakan kecemasannya karena begitu menikmati suasana kebun bungan milik Mama Yuni yang selalu terawat. Karena Mama Yuni menempatkan tukang kebun khusus untuk merawat tanaman-tanaman hiasnya.
"Cantik-cantik ya Ma.." Imel.
"Seperti menantu Mama kan?" Goda Mama Yuni.
Saking asiknya merawat tanaman-tanaman milik Mama Yuni. Mama Yuni dan Imel pun hampir melupakan jam makan siang. Jika saja Bima tidak menyusul sudah bisa di pastikan keduanya akan melewati makan siangnya.
Mereka bertiga pun masuk. Imel dan Mama Yuni pergi ke kamat untuk menbersihkan diri mereka karena terasa lengket setelah berkebun. Sementara Bima menunggu di meja makan bersama Papa Bambang. Walaupun mereka pengantin baru tapi Bima tidak mengekang Imel untuk selalu berada di dekatnya.
__ADS_1
Hari ini Wulan dan Dini tak sempat datang ke rumah Oma mereka. Karena Wulan mulai di sibukkan dengan aktivitasnya kembali di kafe sedangkan Dini tengah merasakan rewelnya kehamilannya yang membuat dirinya tidak bisa kemana-mana.
Sedangkan Nita tengah di sibukkan dengan membereskan rumah barunya karena Nita dan Heru lebih memilih pisah rumah dari rumah orang tua Heru. Nita dan Heru memilih rumah yang dekat dengan Wulan, Dini dan Imel. Heru Dodit, Juan dan Bima memang yang merencanakan semuanya agar istri-istri mereka tak kesepian.
Akan tetapi walaupun rumah mereka berdekatan dan bisa di bilang berdempetan namun mereka masih asik dengan rumah masing-masing. Seperti hari ini Nita yang asik dengan bebenah rumah, Dini yang masih teler dengan kehamilannya, Wulan yang sudha mulai bisa beraktivitas kembali dan Imel sedang asik berkebun dengan ibu mertuanya.
"Sayang, ayo makan." Ajak Bima begitu melihat Imel jalan ke arahnya.
"Iya Mas. Maaf ya Imel sama Mama tadi terlalu asik main di kebun." Imel.
"Tidak apa-apa sayang. Apapun yang bisa kamu lakukan untuk mengisi hari-hari kamu lakukanlah selama itu positif ya.' Bima.
"Terima kasih Mas." Imel.
"Sudah. Ayo Makan." Papa Bambang.
Mereka berempat pun makan dengan khidmat. Setelah menyelesaikan makan siang mereka pun berkumpul di ruang utama untuk berbincang sejenak sebelum mereka beristirahat siang.
"Pa, Imel tadi kefikiran bikin kolam ikan di kebun gimana menurut Papa sama kamu Bim?" Mama Yuni.
"Bagus. Nanti kita biat konsep yang bagus biar bisa enak dan tambah nyaman." Papa Bambang.
"Nanti Bima hubungi design pertanamanan." Bima.
"Yeeee.... Makasih Mas, Mah, Pah." Sorak Imel senang.
"Gimana bisa kamu ke fikiran bikin kolam ikan Mel?" Papa Bambang.
🌹🌹🌹
__ADS_1