
Dini hari Ibu Maryam membangunkan Mama Yuni yang kebetulan mereka tidur bertiga bersama Athar. Saat Ibu Maryam akan ke kamar mandi Ibu Maryam mendapati Athar yang tengah menggigil dan ternyata badannya panas. Ibu Maryam pun segera membangunkan Mama Yuni. Kemudian Mama Yuni pergi ke kamar Bima untuk memberitahukannya jika Athar demam.
"Nak, maaf Mama mengganggu.." Panggil Mama Yuni di balik pintu.
Bukan Bima yang terbangun melainkan Imel. Imel segera membukakan pintu kamarnya.
"Ada apa Ma?" Tanya Imel begitu pintu terbuka dan melihat ibu mertuanya tengah berdiri di depan pintu.
"Athar demam Nak." Ucap Mama Yuni.
"Masya Allah... Maaf Ma bangun kan Mas Bima. Imel mau bawa obat dulu." Imel.
"Iya sayang." Mama Yuni.
Mama Yuni bergegas masuk ke dalam kamar Bima dan imel untuk membangunkan Bima sementara Imel menuju tempat penyimpanan obat. Tak lupa juga Imel membawa perlengkapan pemeriksaan. Karena Imel seorang dokter Imel selalu memeriksakan kesehatan keluarganya sendiri terlebih dahulu sebelum membawanya ke rumah sakit.
"Sayang, anak Mami... Sini sayang biar Mami periksa sebentar ya Nak." Ucap Imel pada Athar.
Bima dan Mama Yuni segera datang saat Imel akan memeriksa Athar. Imel dengan seksama memeriksa putra pertamanya walau sedkit terhalang oleh perutnya yang membuncit. Suhu tubuh Athar tinggi Imel segera membuka plester kompres dan menempelkannya di dahi Athar. Setelah selesai pemeriksaan Imel pun memberikan obat peroral yang selalu di sediakan Imel dan masih baru tentunya.
"Athar anak pinter. Sekarang bobo ya Nak biar Athar cepat sembuh." Ucap Imel membelai rambut Athar.
Athar hanya menganggukkan kepalanya kemudian matanya kembali terpejam. Imel masih berada di sampingnya mengusap lembut kaki Athar. Bima berdiri di samping Athar dan Imel menatap sendu putranya yang tengah sakit. Ibu Maryam dan Mama Yuni saling berpelukan ikut bersedih melihat cucu mereka yang tiba-tiba sakit.
Setelah Athar tertidur Ibu Maryam pun meminta Imel untuk tidur kembali karena masih cukup pagi. Imel oun menurut kembali ke kamar bersama Bima. Mama Yuni dan Ibu Maryam bergantian menjaga Athar. Meskipun di dalam kamar Imel sulit memejamkan matanya karena mengingat putra sulungnya. Tapi, dirinya pun tak bisa egois ada anak lain di dalam perutnya.
Pagi hari tidak seperti biasanya Bi Imah mengerjakan pekerjaannya menyiapkan sarapan seorang diri. Ada sedikit pertanyaan dalam hatinya. Kenapa dua nyonya besarnya tak ikut merecokinya di dapur. Walaupun dirinya pun sering melarang dua nyonya besar itu tapi ada rasa kehilangan saat mereka tak ada. Setelah hampir siap makanan Mama Yuni keluar menemui Bi Imah.
"Pagi Im, maaf saya bangun kesiangan.." Mama Yuni.
"Pagi nyonya. Tidak apa-apa Bu. Imah jadi lebih cepat menyiapkan sarapan hehehe.." Bi Imah.
"Wealah. Kamu ini Im. O....ya buatkan bubur untuk Athar Im. Athar demam." Pinta Mama Yuni.
__ADS_1
"Wealah... Den Athar sakit toh Nya." Bi Imah.
"Iya Im. Jadi, saya dan Mba Maryam bergantian menjaga Athar." Mama Yuni.
"Tuan dan Nyonya Imel sudah tau Nyonya?" Bi Imah.
"Tentu saja. Siapa yang akan mengobati Athar. Kami berdua tak tau apa-apa. Sekarang saja Imel sedang memeriksa Athar kembali." Mama Yuni.
"Owh! Iya." Bi Imah.
Kemudian mereka berdua pun menyiapkan sarapan bersama walaupun lebih banyak Bi Imah yang melakukan pekerjaannya karena Mama Yuni hanya ikut menimbrung dan memantau bubur untuk Athar saja. Setelah buburnya siap Mama Yuni membawanya ke kamar Athar.
"Sayang, bagaimana sudah lebih baik?" Tanya Mama Yuni pada Imel.
"Alhamdulillah sudah Mah." Imel.
"Syukurlah... Sekarang Athar mam ya. Mau di suapi siapa?" Tanya Mama Yuni dengan lebut.
"Pi." Tunjuk Athar pada Bima.
Athar pun hanya mengangguk menjawab pertanyaan Bima. Dan benar saja Athar makan dengan lahap hingga bubur di dalam mangkok tandas. Semua pun tersenyum melihatnya. Rupanya Athar hanya ingin perhatian dari kedua orang tuanya saja. Karena beberapa waktu belakangan Bima lebih fokus pada kehamilan Imel yang cukup mengejutkan bagi mereka.
Di kehamilan keduanya pun Imel lebih sering merasa lelah di bandingkan saat hamil Athar. Membuat perhatian keduanya terpecah antara Athar dan baby di dalam perut Imel. Beruntung ada Mama Yuni dan kemudian di susul Ibu Maryam yang membantu keduanya mengurus Athar. Papa Bambang pun terpaksa turun ke perusahaan kembali membantu Bima yang kepulangannya tertunda.
"Anak pinter, sekarang minum obat sama Mami ya. Papi siap-siap kerja dulu ya sayang." Ucap Bima mengusap kepala Athar.
"Ya." Jawab Athar singkat.
Athar pun membuka mulutnya menerima sendok obat yang di sodorkan Imel padanya.
"Pinter. Mas Athar istirahat saja dulu ya. Nanti main lagi kalo udah mendingan oke?! Mami temenin Papi sarapan dulu ya sayang. Nanti Mami kembali ke sini." Imel.
Athar menganggukkan kepalanya dan kembali membaringkan badannya. Imel keluar dari kamarnya menuju dapur. Bima sudah berada di meja makan menunggunya bersama Ibu Maryam juga Mama Yuni. Jangan bilang Athar di tinggal sendiri ya karena ada Bi Imah yang menemaninya.
__ADS_1
"Pulanglah lebih cepat Bim." Pinta Mama Yuni.
"Iya Ma. Siang juga Bima pulang. Bima ada meeting sebentar terus pulang." Bima.
"Jangan terburu-buru hati-hati di jalan Nak." Ibu Maryam.
"Iya Bu."
"Bima, titip istri sama anak-anak ya Bu, Mah." Pamit Bima.
"Kok anak-anak Mas?" Tanya Imel.
"Anak-anak dong sayang. Mas Athar sama baby di perut Mami." Jawab Bima mengusap lembut perut Imel.
"Owh! Maafkan Mami sayang. Mami hampir lupa kalo ada kamu di sini." Ucap Imel mengusap perutnya sendiri.
"Kamu ini. Ya sudah Ibu mau lihat Athar dulu." Pamit Ibu Maryam.
"Saya pamit ke supermarket ya Mba sama Bi Imah." Mama Yuni.
"Iya Mba. Tenang saja. In shaa Allah Athar aman. Begitu juga Mami nya." Ibu Maryam.
"Baiklah. Ada yang mau di beli juga Nak?" Tanya Mama Yuni pada Imel.
"Tidak ada Mah. Mama hati-hati." Imel.
"Iya sayang. Klo kefikiran sesuatu yang mau di beli hubungi aja Mama ya." Mama Yuni.
"Oke Mah." Imel.
Mama Yuni dan Bi Imah pun pergi bersamaan dengan Bima juga hanya saja menggunakan mobil yang berbeda. Bima bersama Pak Dimin sedangkan Mama Yuni berdua bersama Bi Imah. Karena Mama Yuni sudah terbiasa menggunakan mobil walau di negeri orang.
Tinggallah Imel dan Ibu Maryam menemani Athar di rumah. Karena Athar tertidur Imel pun bisa bermanja dengan Ibu Maryam. Bercerita segala macam seputar kehamilannya karena saat mengandung Athar dulu Ibu Maryam tidak sempat bersama Imel karena harus mengurus dan menemani Anya.
__ADS_1
🌹🌹🌹