Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Tumpangan


__ADS_3

Imel udah mulai bekerja di rumah sakit tim Imel lebih cepat mulai dari tim yang lainnya. Wulan pun mulai merengek meminta waktu Imel untuk mencoba baju yang akan di kenakan saat acara pertunangannya nanti.


Imel pun menyempatkan diri ke butik yang di tunjukan oleh Wulan di sore hari selepas dirinya tugas. Di butik Imel bertemu dengan Bima yang juga tengah mencoba baju yang akan di kenakannya saat acara Wulan.


"Mba, saya Imelda temennya Wulan." Imel.


"Owh! Iya silahkan Mba. Mari saya tunjukan bajunya." Pegawai butik.


Imel pun mengikuti pegawai butik. Dirinya tak menyadari jika ada Bima di sana. Bima yang menyadari kehadiran Imel pun mengikuti kemana Imel berjalan. Setelah mencoba beberapa Imel pun menentukan pilihannya dengan warna yang di tentukan oleh Wulan.


"Mba, temen saya yang lain udah ke sini?" Imel.


"Sudah Mba. Terakhir tadi pagi Mba Nita." Pegawai butik.


"Oke. Makasih ya Mba." Imel.


Setelah mendapatkan bajunya Imel pun pergi meninggalkan butik. Entah mengapa ojek online pesanannya semua di tolak. Imel hampur frustasi karena dirinya sudah lelah setelah seharian di rumah sakit.


Karena perjalan dari rumah sakit ke butik lumayan memakan waktu lama. Imel mengehela nafas panjang. Imel melihat layar ponselnya. Baterai ponselnya mulai menunjukkan peringatan akan habis.


"Aaa.... Mana gw ga tau lagi angkutan umum dari sini." Gumam Imel.


Tin.. (Anggap aja suara klakson mobil ya 🤭)


Terdengar suara klakson mobil. Imel menoleh dan tak mengenal mobil tersebut. Imel berusaha setenang mungkin menghadapi orang yang berada di dalam mobil.


"Imel." Panggil seorang laki-laki yang baru saja turun.


"Iya. Siapa ya?" Imel.


"Saya Bima Omnya Wulan." Bima.


"Hm... Ada apa ya?" Imel.


"Kamu mau pulang? Mari saya antar." Tawar Bima.

__ADS_1


"Hah!" Imel.


"Aduh, bener ga ya dia Om nya Wulan. Sial, kenapa gw ga liat dia pas di cafe kemarin ya." Batin Imel.


"Kalo kamu ga percaya bisa hubungi Wulan." Ucap Bima seolah mengerti apa yang di khawatirkan Imel.


"Eh, ngga usah. Saya numpang sampai perempatan x aja ya Om. Terima kasih sebelumnya." Imel.


Imel pun akhirnya dengan terpaksa mengikuti Bima yang mengaku Om Wulan. Beberapa hari yang lalu Wulan memperkenalkannya pada Bima hanya saja Imel tak begitu memperhatikan bagaimana sosok orangnya.


"Daerah mana rumahnya?" Bima.


Imel hanya diam asik dengan lamunannya. Imel sedikit takut juga jika yang bersamanya ini bukanlah Bima om dari sahabatnya Wulan. Mana ponselnya mati total membuat Imel tidak bisa berbuat apa-apa. Dirinya hanya bisa pasrah dengan keadaan.


Walaupun Imel memiliki ilmu bela diri tapi rasa khawatir sebagai seorang perempuan pastilah ada. Beberapa kali Bima menegur Imel tapi Imel hanya diam.


"Hm..."


"Eh, kenapa Om?" Tanya Imel.


"Owh! Maaf Om. Ada apa ya?" Imel.


"Di depan sudah perempatan x rumah kamu ke arah mana?" Bima.


"Hah! Oh, ke arah kiri Om nanti sebelah kiri ada warung makan udah di situ." Imel.


"Ini?" Tanya Bima yang sudah sampai di depan rumah makan.


"Ah, Iya Om. Makasih ya Om. Saya kos di rumah itu." Imel.


"Kamu kenapa kos?" Tanya Bima yang sedikit penasaran.


"Hah! Kenapa kos?" Imel.


"Iya." Bima.

__ADS_1


"Ya karena orang tua saya jauh Om. Jadi saya, Nita sama Dini kos disini." Imel.


"Dini? Dini pacarnya Dodit?" Bima.


"Iya. Om kenal ya?" Tanya Imel dengan polosnya.


"Iya. Dia yang jemput saya juga di bandara." Bima.


"Eh, ngapain Dini jemput Om?" Imel.


"Kenapa? Kamu cemburu?" Bima.


"Eh, Ngga. Ya udah Imel turun dulu ya Om. Makasih tumpangannya." Imel.


"Sama-sama. Selamat istirahat." Bima.


"Iya Om. Sama-sama." Imel.


Imel pun turun dari mobil Bima. Bima membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya saat mobilnya kembali meluncur. Imel menunggu hingga mobil Bima tak terlihat lagi.


"Alhamdulillah...." Tegur Ibu Kos Imel.


"Alhamdulillah kenapa Bu? Dapet arisan ya?" Imel.


"Alhamdulillah... Anak ibu udah ga jomblo lagi kayanya." Ibu Kos.


"Eh, si ibu bisa aja. Saya aminin ngga nih?" Imel.


"Hus... Diamini toh. Kan do'a baik." Ibu Kos.


"Hahaha... Ibu bisa aja. Imel pamit masuk ya Bu." Imel.


Saat berjalan menuju kamarnya Imel mengingat sesuatu. Imel merasa ada yang kurang saat dirinya berjalan masuk. Imel mengingat-ingat apa. Dan saat pintu kamarnya terbuka Imel mengingatnya.


"Astaga! Paper bag gw!"

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2