
Imel pun pasrah mengikuti langkah Bima. Walaupun dirinya masih bingung apa yang terjadi. Mana mungkin dirinya pergi sementara pernikahan Wulan hanya tinggal menghitung hari.
Wulan dan keluarganya tak dapat ikut serta bersama rombongan Imel. Karena Wulan akan menikah jadi Wulan di larang bepergian jauh. Dini dan Nita pergi satu mobil bersama dengan Dodit.
Orang tua Bima satu mobil dengan orang tua Dodit yang tak lain kakak dari Bima. Hanya Saras dan keluarganya yang tak bisa ikut karena harus menjaga Wulan yang pasti akan sangat bersedih karena tidak bisa mendampingi Imel.
Bima dan Imel menggunakan mobil Bima yang di kendarai oleh Arman. Bima takut dirinya lepas kendali karena melihat Imel bersedih. Dalam perjalanan Imel hanya diam sementara Bima terus menggenggam tangannya.
"Mas, kita mau kemana?" Tanya Imel lirih.
Karena tak tega Bima pun akhirnya mengatakan kemana mereka akan pergi. Bima menarik nafas panjang sebelum dirinya menjawab Imel.
"Kita akan pulang ke rumah orang tua kamu sayang." Ucap Bima lembut.
"Tapi, kenapa mendadak Mas? Imel belum sempat mengabari Ibu dan Ayah." Imel.
"Mas sudah mengabari mereka sayang. Bahkan Abang Juna pun sudah membatalkan penerbangannya." Bima.
"Iih,,, Mas curang. Pasti Mas telfon mereka kan?" Imel.
"Iya sayang. Sudah sekarang tidur dulu ya. Perjalanan masih panjang." Ucap bima membawa Imel kedalam pelukannya.
Imel pun mencari posisi nyaman untuk tidur karena cukup menempuh perjalanan yang sangat panjang untuk sampai ke rumahnya. Mungkin setelah jam makan siang nanti mereka akan sampai.
Setelah terdengar nafas yang teratur Bima yakin jika Imel telah tertidur pulas dan dirinya merasa sedikit lega karena tidak akan ada pertanyaan lagi dari mulut Imel mengapa mereka pergi mendadak.
Arman menatap mereka dari kaca spion. Inilah kali pertama Arman melihat Bima begitu lembut memperlakukan perempuan. Bahkan pada mantan kekasihnya saja dulu Bima tak selembut ini.
Mungkin hal itu juga yang membuat mantan kekasih Bima memilih berselingkuh dari Bima. Arman pun kembali fokus pada jalanan dengan di bantu panduan dari mobil Dodit di depan mobilnya.
Tanpa berhenti akhirnya mereka pun telah sampai di depan rumah Imel. Mobil mereka tak bisa masuk kedalam halaman rumah karena banyaknya mobil tetamu yang datang. Bima perlahan membangunkan Imel.
__ADS_1
"Sayang, bangun sudah sampai." Bisik Bima di telinga Imel.
"Hm... Cepet banget Mas." Ucap Imel dnegan suara khasnya.
Dini dan Nita yang sudah turun lebih dulu di sambut oleh Anya dan Lena. Dodit dan orang tuanya pun menyapa Anya dan Lena begitu juag dengan orang tua Bima.
"Apa Imel belum tau?" Anya.
"Belum Kak. Kami ngga sanggup memberitahukannya." Nita.
Imel dan Bima pun turun dari mobil terlihat banyak orang di sekitar rumahnya membuat Imel bingung dan saat dirinya melihat bendera kuning Imel mengernyitkan dahinya. Kemudian Imel melihat Anya dan Lena yang mengenakan pakaian hitam.
Deg...
Langkah Imel terhenti. Bima ikut menghentikan langkahnya. Imel manatap tajam ke arah Lena dan Anya. Di lihatnya kedua mata kakak iparnya terlihat sembab. Berbagai macam pertanyaan menumpuk di kepalanya.
"Sayang, ayo." Ajak Bima.
"Maaf sayang." Ucap Bima memeluk Imel dari samping dam mendaratkan ciuman di pelipis Imel.
Anya dan Lena berjalan menghampiri Imel dengan sedikit tersendat. Setelah dekat Anya langsung memeluk Imel dengan erat dan menumpahkan kesedihannya. Imel hanya diam mematung. Bima memberi jarak di antara mereka.
Lena ikut memeluk keduanya kemudian melerai pelukannya dan meminta mereka semua untuk masuk. Imel pun berjalan di apit oleh kedua kakak iparnya. Sampai di ambang pintu Imel melihat jenazah seseorang yang belum di ketahui siapa olehnya.
"Imel.." Teriak Sang Ibu yang menyadarkan Imel bahwa Ayahnya lah yang saat ini berada di hadapannya.
Ibu Maryam memeluk putri bungsunya dan menangis. Imel membalas pelukkan Ibunya. Dan entah mengapa badannya terasa lemas tulang belulang yang menopang tubuhnya seakan tak ada lagi. Pelukannya pada Ibu Maryam melorot membuat Ibu Maryam semakin histeris di buatnya.
Bima yang berada di belakang Imel pun dengan sigap menopang Imel. Imel menitikkan air matanya tanpa bersuara. Pandangannya tertuju pada Sang Ayah yang telah terbujur kaku.
Di bantu Bima Imel berjalan mendekati jenazah sang Ayah. Imel bersimpuh di samping jenazah Ayahnya. Badannya bergetar menandakan tangisnya pecah. Juna dan Bagas pun ikut menitikan air mata kembali melihat kesedihan sang adik.
__ADS_1
Ibu Maryam di bawa masuk oleh Anya dan Lena. Di ikuti Ibu dari Bima dan Melati Kakak Bima. Mereka memperkenalkan diri siapa mereka dan Ibu Maryam beserta Anya dan Lena pun menyambut hangat walaupun dalam situasi berduka.
"Maafin Imel Yah. Imel belum bisa kasih apapun untuk Ayah." Ucap Imel lirih.
"Imel ikhlas Yah. Semoga Ayah bahagia di rumah baru Ayah. Imel sayang Ayah." Ucapnya lagi kemudian memeluk Sang Ayah.
Bima membantu Imel bangun ketika Imel telah melonggarkan pelukannya pada jenazah sang Ayah. Juna dan Bagas mendekati mereka. Imel melihat kedua kakaknya kemudian Imel menghambur kedalam pelukan Juna dan Bagas ikut memeluknya.
"Terima kasih Pak Bima. Sudah membawa Imel pulang." Ucap Bagas setelah pelukannya terlepas dari Juna dan Imel.
"Jangan sungkan. Dan panggil saya Bima saja. Masa calon kakak ipar manggil Pak." Bima.
Bagas pun tersenyum mendengar penuturan Bima.
"Maaf masih kaku. Karena terbiasa dengan panggilam Bapak." Bagas.
"Ngga masalah Bang. Saya turut berduka cita." Bima.
"Terima kasih." Bagas.
Bagas yang mengenal Bambang pun langsung mendekati Bambang dan menyapanya. Bagas sangat berterima kasih karena Bambang menyempatkan diri untuk hadir di rumahnya.
Karena mengingat waktu hampir sore. Maka jenazah Pak Agus pun akan segera di semayamkan di pemakaman yang kebetulan tidak jauh dari rumah mereka. Bima dengan setia terus berada di samping Imel.
Ibu Maryam tidak di perkenankan untuk ikut ke pemakaman. Ibu Maryam pun hanya di temani oleh kakaknya. Mereka pun menyambut kedatangan beberapa pelayat yang masih terus berdatangan.
Bima bersama Juna dan Bagas ikut turun ek dalam liang lahat. Bima tak takut kotor sama sekali. Dirinya dengan suka rela ikut menerima jasad calon Ayah mertuanya sebagai penghormatan terakhirnya.
Imel di apit oleh Dini dan Nita saat Bima turun menyambut jenazah Ayah Imel. Imel semakin di buat haru karena aksi Bima. Entah mengapa kini hatinya semakin yakin pada sosok Bima. Dan saat ini dirinya akan lebih takut kehilangan Bima setelah kehilangan sang Ayah.
Acara pun usai. Semua kembali ke rumah duka. Imel merebahkan kepalanya di pangkuan Ibunya. Ibu Maryam mengusap lembut rambut Imel. Mereka semua berkumpul duduk di atas karpet yang terpasang di ruang utama rumah orang tua Imel.
__ADS_1
🌹🌹🌹