Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Berita Kelahiran Putri Pertama Nita


__ADS_3

Pagi ini begitu berbeda dari hari biasanya. Kedatangan Mama Yuni dan Papa Bambang membuat suasana rumah Imel dan Bima lebih hangat. Mama Yuni dan Bi Imah sudah berkolaborasi menyiapkan sarapan sejak pagi tadi. Seperti biasa Imel di larang masuk dapur baik oleh Bima maupun oleh kedua mertuanya. Imel benar-benar merasa beruntung di pertemukan dengan Bima karena dirinya benar-benar di ratukan olehnya dan juga orang tuanya.


"Ma, Imel bantu ya..." Rengek Imel.


"TI DAK!" Mama Yuni.


"Mama..."


"No sayang. Duduk manis saja di situ ya." Mama Yuni.


"Kalian jahat banget sih... Masa ke dapur aja ga boleh." Imel.


"Boleh sayang. Kalo kamu mau ambil minum saja tapi." Mama Yuni.


"Sudah Nyonya. Kalo Nyonya ke dapur juga saya jadi enak nanti makan gaji buta." Bi Imah.


"Iih,, Bibi... Malah dukung Mama lagi." Protes Imel.


Mendengar keributan di dapur Papa Bambang pun menghampiri mereka.


"Ada apa ini?" Papa Bambang.


"Papa,, Mama sama Bibi jahat. Masa Imel ga boleh bantu di dapur." Adu Imel pada Papa Bambang.


"Loh! Betul itu. Papa setuju. Di dapur itu sangat berbahaya. Lebih baik kamu temani Papa ngeteh di samping. Ayo Ma buatkan Papa Teh. Dan untuk kesayangan kita ini tolong Mama buatkan susunya." Papa Bambang.


Mama Yuni mengacungkan jempolnya menjawab permintaan Papa Bambang dan menyunggingkan senyumnya kepada Imel dan Papa Bambang. Imel pun semakin menekuk wajahnya karena tak ada yang mendukungnya.


"Papa sama aja." Imel.


"Sudah jangan merajuk. Sebentar lagi Bima keluar dari ruang Gym." Papa Bambang.


"Iih,,, terserah. Imel marah." Imel.


"Wealah... Anak cantik kok marah begitu." Papa Bambang.


"O.... Iya. Semalam Juna sudah menghubungi Papa dan dia bersedia menerima permintaan Papa. Tapi, dia harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum resign dari pekerjaannya. Juna meminta waktu kurang lebih satu bulan. Jadi bulan depan Papa pulang dulu untuk menyelesaikan pekerjaan Papa sama Juna tapi Mama tetap di sini menemani kamu." Jelas Papa Bambang.


"Syukurlah. Dengan begitu Abang punya banyak waktu bersama Kak Anya." Imel.


"Iya. Hanya saja bagaimana dengan Ibu kalian? Kemarin Juna bilang akan membujuk Ibu untuk ikut serta pindah ke kota J. Atau pindah ke kota B bersama Abang mu." Papa Bambang.


"Kenapa ga pindah sama Imel aja Ibu?" Imel.

__ADS_1


"Iya. Papa juga bilang begitu pada Juna. Namun kata Juna kamu punya kami sedang mereka tak memiliki siapapun lagi kecuali Ibu kalian." Papa Bambang.


"Huaaaa.... Papa..." Tangis Imel pecah dalam pelukan Papa Bambang.


"Loh, Papa apain kesayangan Mama?" Tanya Mama Yuni saat melihat Imel menangis di pelukan Mama.


"Mama.. Huaa..."


"Eh, cup cup sayang ada apa? Papa jahat ya?" Mama Yuni.


"Enak aja. Ngga lah. Imel itu terharu Mah." Papa Bambang.


"Bener begitu sayang?" Mama Yuni.


"Iya Mah." Jawab Imel di sela tangisannya.


"Astagfirullah! Sudah-sudah. Ayo di minum susu nya mumpung masih hangat." Mama Yuni.


"Terima kasih Mah." Papa Bambang.


Tak lama Bima bergabung dengan pakaian olah raganya. Namun tak lama Bima berpamitan masuk untuk membersihkan dirinya begitu juga dengan Imel yang ikut masuk untuk menyiapkan pakaian Bima yang akan pergi ke kantor. Karena Imel telah mandi. Saat menunggu Bima mandi terdengar notifikasi pesan masuk di ponsel Imel. Imel pun segera membukanya dan ternyata itu pesan dari Dini yang memberitahukan jika Nita telah melahirkan.


Tak ingin kehilangan momen Imel pun segera menghubungi Dini dan Dini segera menjawab panggilan Imel.


"Astagfirullah Imeeeellllll... Kebiasaan deh Lu. Nanya satu-satu kenapa sih. Mana dulu nih yang harus gw jawab?" Dini.


"Hehehe... Sorry..." Imel.


"Gw jawab ngga nih?" Dini.


"Jawab dong sayangku." Imel.


Saat Imel mengucapkan 'sayangku' bersamaan dengan Bima yang baru saja keluar dari kamar mandi. Pernyataan sayang Imel membuat Bima mengalihkan atensinya. Sementara Imel begitu antusias mendengarkan jawaban dari Dini. Sama halnya dengan Imel Bima pun mendekati Imel karena penasaran. Bukan penasaran dengan penjelasan Dini mengebai Nita akan tetapi penasaran dengan siapa yang Imel panggil sayang. Saat Bima mendekat Imel mencium wangi sabun yang Bima pakai. Imel pun spontan langsung me loudspeker telfonnya.


"Sayang, sayang ada maunya aja lu sayang sayang gw. Alhamdulillah Nita udah lahiran normal selamat ibu dan bayinya tanpa kekurangan apapun. Bayinya perempuan cantik kaya gw. Sekarang mereka udah di ruangan. Nita lagi mengasihi bayinya. Disini semua kumpul. Ada Mama Papa Mas Heru ada Mama Papa Nita juga. Wulan juga ada. Jelas? Apa lagi yang mau lu tanyain?" Jelas Dini.


"Wah,, baby girl... Alhamdulillah. Namanya siapa?" Imel.


"Mana gw tau. Kan gw bukan emak bapaknya. Ntar aja lu tanya itu sama Nita ya." Dini.


"Jahat banget sih Lu. Ya lu tanya langsung ding sekarang." Perintah Imel.


"Ga bisa Mel. Kan Nita lagi mengasihi jadi gw ga mau ganggu. Mas Heru lagi nemenin Nita juga." Dini.

__ADS_1


"Iissh... Ya udah. Makasih Dini sayang. Salam sayang peluk hangat untuk semuanya yang ada di sana ya." Imel.


"OB juga Mel?" Canda Dini.


"Itu sih buat Lu aja. Gw masih suka Mas gw. Babay kesayangan.." Imel.


"Yeee... Ya udah. Bye.." Dini.


Imel pun mengakhiri panggilan kemudian terkejut melihat Bima yang masih bertelanjang dada dan hanya menggunakan handuk di pinggangnya.


"Astagfirullah! Mas kok belum pake baju?" Tanya Imel.


"Mas kan ikut dengerin Dini cerita. Alhamdulillah Nita sudah melahirkan tinggal baby kita nih." Ucap Bima mengusap lembut perut Imel.


"Sabar ya Papa masih ada dua bulan lagi aku di perut Mama.." Ucap Imel menirukan suara anak kecil.


"Iya sayang. Hm.. Apa? Kamu mau papa jengukin?" Canda Bima.


"Nggak! Sana... Sana pake baju nanti Mas terlambat ke kantor malu." Usir Imel pada Bima.


"Tapi Yang, adeknya mau di jenguk katanya." Goda Bima.


"Ga ada, ga ada. Semalem udah jungkir balik juga." Protes Imel karena Bima selalu tak melewatkan malamnya untuk menjenguk bayinya.


"Hahaha... Tapi, pagi kan belum sayang." Goda Bima lagi.


"Mas,,, nggak." Imel.


"Sekali aja Yang." Tawar Bima.


"Nggak ada. Cepetan pake baju terus kita sarapan nanti Mas terlambat." Imel.


"Yaah,,, dikit Yang." Bima.


"Ga ada dikit dikit. Mas pasti banyak. Udah ah, atau ga ada jatah nanti malam?" Ancam Imel.


"Eits,,,ngga bisa begitu. Malam tetep wajib itu." Bima.


"Mesum. Udah ayo Papa sama Mama pasti udah nunggu kita untuk sarapan." Imel.


"Iya sayang."


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2