
Sudah dua hari Imel mendapatkan perawatan di rumah sakit namun keadaannya tidak semakin membaik. Mual muntah terus di alami Imel hingga dokter yang menanganinya mencurigai sesuatu. Dokter pun menyarankan Imel dan Bima untuk melakukan pemeriksaan yang akan menjawab semua rasa penasarannya.
Imel hanya bisa pasrah dengan apapun hasil yang akan di dapat karena semua makanan yang dia inginkan dan berhasil mendarat di lambungnya akan Imel keluarkan lagi tanpa sisa. Bima pun menyetujuinya. Dan apapun hasilnya Bima serahkan pada yang maha berkehendak.
"Apa keluahannya sekarang Dok?" Tanya Dokter Tari pada Imel. Karena Dokter Tari mengenal Imel sebagai dokter.
"Lemes Dok. Karena semua makanan yang masuk pasti akan keluar lagi." Jawab Imel lemah.
"Baiklah. Kita lakukan pemeriksaan ya Dok." Dokter Tari.
"Baik Dok." Imel.
Bima dengan setia mendampingi Imel di sampingnya. Bima tak mengerti apa yang di dapatkan oleh Dokter Tari yang membuat Dokter Tari tersenyum. Dokter Tari pun menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dengan senyuman yang mengembang. Imel dan Bima di persilahkan kembali duduk di depan meja Dokter.
"Bagaimana hasilnya Dok? Istri saya sakit apa?" Tanya Bima tak sabar.
"Alhamdulillah Dokter Imelda tidak sakit Tuan. Sebaliknya, ini ada kabar gembira untuk kalian. Dokter Imelda mengalami hal wajar yang biasa di alami oleh ibu hamil pada umumnya." Dokter Tari.
"Tunggu! Ibu Hamil? Maksudnya istri saya hamil Dok?" Tanya Bima tak yakin dan di angguki oleh Imel.
"Benar Tuan. Dokter Imelda mengandung dan usia kandungannya sekarang menginjak usia 8 minggu. Di usia ini banyak Ibu hamil yang merasakan mual muntah seperti yang di alami Dokter Imelda. Seiring bertambahnya usia kehamilan maka mual muntah akan berkurang." Dokter Tari.
"Alhamdulillah." Ucap Imel dan Bima bersamaan.
"Terima kasih sayang." Ucap Bima memeluk Imel dan menciumi seluruh wajah Imel tanpa sadar mereka masih di ruangan Dokter Tari.
"Hm..."
"Eh, Maaf Dok. Kami terlalu bahagia." Bima.
"Saya mengerti. Sekarang Dokter Imelda bisa kembali ke ruanga perawatan. Dan untuk resep vitaminnya biar di bawa suster jaga saja." Dokter Tari.
"Terima kasih Dok. Kami permisi." Bima.
"Baik Tuan. Silahkan. Sekali lagi selamat ya." Dokter Tari.
"Terima kasih." Imel.
Bima pun kembali membawa Imel ke ruang perawatan bersama seorang suster. Di ruangan Imel Papa Bambang dan Mama Yuni sudah menunggu hasil pemeriksaan dengan cemas.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Mama Yuni begitu mendapati Imel dan Bima masuk ke dalam ruangan.
"Biarin Imel ke tempat tidur dulu ya Ma." Bima.
__ADS_1
"Hah! Eh, iya sayang. Maaf, Mama terlalu khawatir." Mama Yuni.
Bima pun membantu Imel untuk kembali berbaring di tempat tidur. Setelah Imel nyaman barulah Bima berdiri di samping Imel menghadap kedua orang tuanya dengan memasang senyum bahagianya. Akan tetapi semua membuat Papa Bambang dan Mama Yuni heran dan penasaran apa yang terjadi dengan menantunya.
"Apa ada yang serius Bim?" Tanya Papa Bambang.
"Tidak Pa. Semuanya baik-baik saja." Bima.
"Syukurlah." Mama Yuni.
"Tapi,,,"
"Tapi, kenapa ada tapi?" Mama Yuni.
"Mama, tenang dong. Biarkan Bima menjelaskan dulu jangan di potong-potong." Papa Bambang.
"Ish... Iya iya. Cepetan Bim kamu juga jangan setengah-setengah deh ngomongnya." Kesal Mama Yuni.
"Imel hamil." Bima.
Sejenak Papa Bambang dan Mama Yuni terdiam meresapi perkataan Bima. Namun, seperdetik sekiannya Papa Bambang dan Mama Yuni kompak mengucapkan syukur dan saling berpelukan.
"Alhamdulillah..."
"Selamat sayang.." Ucap Mama Yuni menghampiri Imel kemudian menciumi wajah Imel dan memeluknya.
Setelah lima hari di rawat Imel pun di perbolehkan pulang karena kondisinya sudah mulai membaik. Setiap makanan dan minuman yang masuk pun tidak semuanya di keluarkan Imel. Ada beberapa yang masuk dan berhasil tidak di keluarkan oleh Imel. Mama Yuni begitu memanjakan Imel begitupun dengan Papa Bambang dan Bima.
Mereka bertiga tak ingin Imel kelelahan yang berakibat lada kehamilannya. Bahkan Bima memindahkan kamarnya ke bawah demi menjaga Imel dan bayinya agar terhundar dari resiko yang buruk akibat dari naik turun tangga. Bima pun tak membiarkan Imel berjalan. Imel berpasrah diri duduk di kursi roda kemanapun demi menjaga kehamilannya.
"Sayang, tapi aku kan baik-baik saja. Tidak perlu lagi kursi ini." Tunjuk Imel pada kursi roda yang di bawa Bima.
"Ngga sayang, kamu perlu kursi ini. Mas tidak mau kamu capek jalan kaki." Bima.
"Huh... Baiklah." Imel.
Sore hari Imel tengah menikmati udara sore yang sejuk setelah turun hujan siang tadi di gazebo di temani Mama Yuni dan Papa Bambang. Bima baru saja datang dari kantor dan langsung bergabung setelah membersihkan diri terlebih dahulu tentunya.
"Loh, Mas sudah pulang?" Imel.
"Sudah sayang. Mas tadi langsung mandi terus kesini." Bima.
"Maaf Imel tidak menyiapkan air untuk Mas." Imel.
__ADS_1
"Tidak masalah. Mas juga tadi langsung ke kamar begitu mengetahui kalian di sini." Bima.
"Tumben pulang cepet?" Papa Bambang.
"Tadi habis ketemu klien Pah. Jadi Bima langsung pulang sekalian tidak ke kantor lagi." Bima.
"Imel buatkan teh ya Mas." Imel.
"Tidak usah sayang. Mas sudah memjntanya tadi pada Bibi. Mas tidak ingin kamu kelelahan." Bima.
"Mas,,, Imel baik-baik saja." Rengek Imel.
"Iya sayang, Mas tau. Tapi, mas yang ingin memanjakan kamu." Bima.
Tak lama Bibi pun datang membawaka teh pesanan Bima. Mereka pun saling bercengkrama bersama hingga mereka harus segera masuk dan bersiap untuk menjalankan kewajiban sebagai muslim sebelum makan malam. Bima dan Papa Bambang pergi ke musola dekat rumah sedangkan Imel dan Mama Yuni menjalankan kewajiban mereka di rumah.
"Om, OPa."
Bima dan Papa Bambang pun menoleh ke arah sumber suara.
"Dit, kamu ada di sini juga?" Bima.
"Iya Om. Om sama Opa belum dapat kabar?" Dodit.
"Kabar apa?" Papa Bambang.
"Wulan di bawa ke rumah sakit Opa sama Juan. Sepertinya akan melahirkan." Dodit.
"Owh! Opa tak membawa ponsel." Papa Bambang.
"Om juga ngga. Mungkin udah ada kabar di rumah." Bima.
"Sepertinya begitu. Mami Saras sama Papi juga sudah ke rumah sakit." Dodit.
"Kamu ga ke rumah sakit?" Papa Bambang.
"Ini mau ke sana selepas dari sini Opa. Dodit ke rumah sakit bersama dengan Heru." Dodit.
"Baiklah. Nanti Opa dan Om menyusul. Karena Tante kalian tidak memungkinkan ikut jadi mungkin Oma yang akan menemani Imel." Bima.
"Tante sakit Om?" Dodit.
"Tidak. Hanya sana Tante sedang hamil muda Dit." Bima.
__ADS_1
"Alhamdulillah."
🌹🌹🌹